Kupi Beungoh

Ayah Yang Dirindu

Ayah-ayah yang luar biasa ini, meski beliau sibuk dengan pekerjaan,  sukses dengan jabatan, tetap menjadikan keluarga adalah prioritas.

Editor: Amirullah
ist
Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh. 

Oleh: Dr. Ainal Mardhiah,  S.Ag,  M.Ag.

Bunda, telpon ayah bunda. Kapan ayah pulang?

Kenapa lama kali pulangnya. Begitu bahasa yang biasa kita dengar dari seorang anak yang  rindu akan ayahnya.  Sebuah tanda, bahwa terdapat ikatan hati, ada Rindu,  ada cinta, ada kasih sayang diantara keduanya terajut dengan baik.

Tentunya, ini bukan ayah sembarang ayah, tidak sembarang ayah bisa seperti ini, tentu ia adalah seorang ayah yang luar biasa, yang kehadirannya membuat keluarga gembira, ketika dia berangkat kerja, sekeluarga merindukannya  karena ada bahagia bersamanya.

Meski,  ketika beliau pulang tidak membawa sebongkah emas, hanya membawa sesuap nasi, namun kebahagiaan tergambar dalam keluarganya, saling sabar, saling pengertian,  saling tolong menolong, ada kasih sayang,  dan saling merindukan.

Ayah-ayah yang luar biasa ini, meski beliau sibuk dengan pekerjaan,  sukses dengan jabatan, tetap menjadikan keluarga adalah prioritas.

Baca juga: Sebelum Menikahi Dine Mutiara, Sahrul Gunawan Akui Pernah 2 Kali Gagal, Ini Ceritanya

Senantiasa menjaga komunikasi dengan anggota keluarganya baik secara langsung di rumah atau online lewat gadged (handphone) ketika beliau sedang berada diluar kota atau diluar rumah untuk tugas, atau kegiatan mencari rezeki lainya untuk keluarga.  Sehingga kehadiran sang ayah senantiasa terasa,  meskipun beliau sedang tidak di rumah.

Komunikasi dalam keluarga,  merupakan salah satu hal yang sangat penting, untuk menenangkan, untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan dalam rumah tangga.

Komunikasi dalam keluarga  menentukan bentuk keluarga yang akan di bangun oleh masing-masing pasangan. Ada beberapa model rumah tangga yang biasa kita lihat di masyarakat,  antara lain sebagai berikut:

Pertama, rumah tangga model kuburan,  sepi tidak ada komunikasi,  masing-masing sibuk dengan urusan sendiri, tidak saling peduli.

Kedua, rumah tangga model ring tinju, setiap bertemu selalu ribut,  selalu bertengkar, selalu salah paham,  tidak ada kedekatan hati, yang ada semacam persaingan, tidak ada yang mau mengalah. Saling menyalahkan,  menempatkan pasangan sebagai lawan,  bukan sahabat, bukan kawan, bukan teman hidup,  bukan teman berbagi suka duku.

Ketiga, rumah tangga model pasar,  komunikasi atau hubungan yang di bangun adalah dalam rangka mencari untung tidak pernah mau rugi,  sehingga semua tidak ada yang gratis,  tidak ada saling berbagi,  tidak ada saling memberi dan saling mengutamakan. Yang ada saling mencari keuntungan dan memanfaatkan satu sana lain, intinya tidak ada gratis.

Keempat,  rumah tangga model terminal,  rumah hanya tempat transit,  tempat istirahat,  tempat makan, tempat mandi tukar pakaian,  saling menyapa hanya sekedarnya, selebihnya tidur untuk kemudian berangkat lagi keluar rumah untuk urusan masing-masing.

Baca juga: Ternyata Digugat Cerai Ari Wibowo, Inge Tak Punya Tabungan hingga Kesulitan Bayar Pengacara

Kelima, rumah tangga model mesjid,  rumah tangga penuh kasih sayang, penuh senyuman, penuh ukhuwah,  kehangatan,  kebersamaan, canda tawa, saling menghargai,  menghormati,  tempat berbagi,  tempat saling menyemangati, untuk kebaikan,  saling mengutamakan, saling mengingatkan jika ada yang sedang lalai atau lainnya. Rumah tangga untuk urusan dunia akhirat.

Dari 5 model rumah tangga tersebut,  merupakan gambaran dari iman, ilmu dan akhlak anggota keluarga.

Sebuah rumah tangga sangat butuh terhadap komunikasi dengan pasangan atau dengan seluruh anggota keluarganya, baik langsung maupun tidak. Karena itu akan menentukan "kebahagiaan" dalam rumah tangga masing-masing pasangan.

Berapa banyak rumah tangga yang anggota keluarganya, mengalami gangguan mental, gangguan jiwa, sampai timbul penyakit fisik seperti stroke,  sakit jantung,  sakit maagh, darah tinggi atau penyakit psikosomatik lainnya, akibat tidak ada komunikasi yang baik dalam rumah tangga, 

Suami istri perlu duduk berdua membahas kondisi hati mereka berdua,  agar cinta dan kasih sayang selalu dapat diperbaharui.  Perlu waktu berdua untuk membahas masalah-masalah dan rencana ke depan dengan anak-anak, atau hal apapun untuk kebaikan rumah tangganya.

Dalam komunikasi yang baik, dilakukan masing-masing pihak,  harus sabar mendengar curhat atau keluhan pasangannya. Setiap pasangan harus menjadi pendengar yang baik untuk pasangannya. Masing-masing harus mengutamakan kepentingan bersama,  mengesampingkan ego masing-masing.  Jika ada yang berbeda, yang dilihat adalah yang ada kebaikan untuk rumah tangganya.

Anak-anak perlu waktu bersama ayahnya dan ibunya. Dilain waktu setiap anak perlu mendapat waktu istimewa berdua saja dengan ayahnya,  dan lain waktu berdua saja dengan ibunya.

Waktu istimewa ini, sangat penting untuk orang tua agar dapat memahami anak, mendalami keinginan anak tanpa intervensi dari orang lain, anak akan merasa nyaman, aman dan dihargai dengan hanya berdua saja ketika menyampaikan apa yang diinginkannya.

Waktu istimewa ini, membuat setiap anak tidak di beda-bedakan, dan orang tua dapat memahami dan membantu anak-anak sesuai kebutuhan anak,  memahami karakter dan pribadi anak-anak yang tentunya berbeda. Waktu istimewa ini sangat penting bagi anak,  berdua saja dengan ayah, dilain waktu berdua saja dengan ibu dan ini dilakukan secara rutin bergantian diantara semua anak, akan membuat perkembangan pikiran dan eksistensi anak lebih maksimal.

Komunikasi secara langsung akan lebih efektif dan berkesan,  namun jika dibatasi jarak karena pekerjaan,  komunikasi dapat dilakukan secara tidak langsung melalui Whatshap,  telpon,  video Call atau media sosial lainnya.  Intinya Komunikasi ini penting,  bagi keutuhan rumah tangga,  untuk menjaga setiap anggota keluarga dari buruk sangka, untuk tetap saling percaya.

Setiap aktivitas anggota keluarga harusnya, baiknya dikemunikasikan secara langsung atau tidak langsung lewat media sosial, yang dapat mendekatkan yang jauh menjadi dekat.

Jangan sampai terjadi sebaliknya,  sebagaimana yang sering kita saksikan bersama,  media sosial menjadi sebab menjauhkan pasangan suami istri,  menjauhkan anak-anak dari orang tuanya  karena masing-masing sibuk bermedsos ria.

Anak-anak sibuk dengan game, youtube dan lainnya,  ayah ibu juga demikian,  yang terjadi kemudian yang dekat, satu rumah,  satu kamar,  satu tempat tidur terasa jauh. Ini adalah awal rusaknya sebuah rumah tangga,  yang menjadi awal cekcok rumah tangga, berhubung tidak ada komunikasikan yang baik, ini kemudian menjadi masalah besar,  yang akan meledak dalam bentuk keributan,  pertengkaran besar pada suatu waktu, apalagi jika ada masalah yang terlalu lama di pendam tidak diselesaikan, bahkan bisa berakibat perceraian,  sebagaimana banyak kasus perceraian yang sedang terjadi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved