Opini
Salam Orang Aceh
Setiap lelaki yang lewat dengan sepeda dan kereta (sepeda motor) selalu menghormatinya dengan mengangkat tangan sambil mengucapkan assalamualaikum.
Hal terpenting perihal salam Aceh adalah makna filosofisnya. Dalam salam jenis pertama, paling tidak terdapat nilai luhur dalam menjalin persahabatan, memperteguh silaturrahmi, membangun prinsip saling menghormati, menciptakan suasana damai, memperkokoh persatuan, dan menjadi media pembelajaran karakter mulia, terutama karakter rendah hati.
Betapa pentingnya salam jenis ini dalam masyarakat Aceh tercermin dari ketaatan mereka mempraktikkannya dalam kehidupan sosial yang masih berlangsung hingga kini, terutama di kampung-kampung. Masyarakat akan menganggap seseorang itu kurang terhormat, kurang beradab, dan sombong jika tidak mau memberi salam kepada orang lain. Bahkan, tidak jarang terjadi, seorang tamu yang datang tanpa memberi salam akan “dikerjai”, apalagi jika mengendarai mobil, tetapi tidak membuka kaca.
Makna filosofis yang terkandung dalam salam jenis kedua melampaui salam atau bersalaman itu sendiri. Bagi orang Aceh, salam jenis ini disebut dengan meu’ah atau meu’ah desya (maaf dosa=memohon maaf). Pada kegiatan halalbihalal, misalnya, lazim diucapkan: jinoe geutanyoe tameu’ah-meu’ah desya (sekarang kita bersalam-salaman). Karena itu, salaman dengan cara menggenggam erat tangan orang lain ini bukanlah salam bermakna biasa, tetapi bentuk permohonan maaf atau saling memaafkan. Dengan demikian, jika orang Aceh sudah bersalaman, bagi mereka berakhirlah permusuhan, pertengkaran, atau perselisihan.
Merujuk makna filosofis dari kedua salam Aceh ini, kiranya perlu dilakukan sosialisasi sekaligus pelembagaan kembali oleh para ulama dan umara agar salam Aceh tidak bergeser cara dan maknanya. Hal ini patut dirisaukan karena fenomena salam dalam masyarakat Aceh saat ini, terutama di kota-kota, telah terjadi distorsi dan penurunan kuantitas. Bahkan, banyak kawula muda Aceh tidak paham lagi hakikat salam Aceh, tidak jauh berbeda dengan kisah kerabat istri saya dari Sumatra Utara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mohd-Harun-al-Rasyid-III.jpg)