Opini
Salam Orang Aceh
Setiap lelaki yang lewat dengan sepeda dan kereta (sepeda motor) selalu menghormatinya dengan mengangkat tangan sambil mengucapkan assalamualaikum.
Prof Dr Mohd Harun al Rasyid MPd, Guru Besar FKIP USK, Pengasuh MK Adat dan Budaya Aceh
DALAM tahun 1997, seorang kerabat istri saya dari Serdang Bedagai, Sumatra Utara bersilaturahmi dengan sanak keluarga di Sigli, Aceh. Puluhan tahun sebelumnya, ia pernah ke Kota Emping Melinjo itu dan menetap berbilang pekan. Ia termasuk tipikal peramah sehingga memiliki beberapa sahabat di Sigli.
Persahabatan itu, menurutnya, masih berlanjut, meskipun sudah berpisah berpuluh tahun. Buktinya, saat ia duduk-duduk di depan rumah, setiap lelaki yang lewat dengan sepeda dan kereta (sepeda motor) selalu menghormatinya dengan mengangkat tangan sambil mengucapkan assalamualaikum. Tak jarang, ucapan salam itu diselingi senyum.
Mendengar ceritanya yang berapi-api disertai pancaran kebahagiaan seorang kakek, saya menjelaskan secara perlahan bahwa hal itu adalah kebiasaan orang Aceh. Setiap lelaki Aceh yang sudah akil baligh, melekat tradisi memberi salam kepada lelaki lain. Namun, sang opung ini, yang didera uzur, tetap saja menyebut bahwa teman-temannya di Sigli masih menghormati dirinya, sama seperti puluhan tahun lalu; mengangkat tangan kanan sembari mengucapkan assalamualaikum. Saya berhenti “berceloteh” dan membiarkan dia menikmati kebiasaan lelaki Aceh menghormati sesama manusia.
Dalam kebudayaan Aceh, salam memang lebih populer di kalangan laki-laki karena pada masa lalu mobilitas laki-laki di ruang publik jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan. Kenyataan ini tidaklah mendiskreditkan perempuan.
Perempuan memiliki ruang gerak tersendiri. Mereka tidak pernah berbaur dengan laki-laki yang bukan muhrim di semua ruang publik. Karena itu, salam di kalangan perempuan di Aceh tidaklah sepopuler salam khas lelaki. Dalam tulisan ini hanya dibahas salam di kalangan laki-laki. Sejak menjelang remaja, anak laki-laki Aceh sudah ditradisikan cara mengucapkan salam dengan lafaz Assalamualaikum. Mengucapkan salam tersebut hukumnya sunat, sementara menjawab salam hukumnya wajib atau fardhu.
Jika seseorang memberi salam hanya untuk seseorang, yang diberi salam wajib menjawab salam tersebut. Namun, jika salam ditujukan untuk sekelompok orang (atau jamaah), berlaku hukum fardhu kifayah. Artinya, jika salah seorang saja menjawabnya, yang lain tidaklah berdosa.
Sebaliknya, jika tidak ada yang menjawab, berdosalah semuanya.
Mengapa dalam budaya Aceh, memberi salam seakan-akan wajib hukumnya? Bukankah seseorang boleh tidak memberi salam kepada orang lain, karena hukumnya sunat?
Jika jarum sejarah diputar ke belakang, kita akan menemukan betapa para penyebar Islam atau para ulama di Aceh bekerja ekstra keras untuk “menjinakkan” orang Aceh yang memiliki karakter “keras”. Diprediksi bahwa sebelum Islam membumi di Aceh tidak ada salam khas “ala Aceh” seperti saat ini.
Jenis salam Aceh
Ada dua jenis salam Aceh. Jenis pertama adalah seperti yang tergambar pada bagian pembuka, yaitu mengucapkan assalamualaikum sambil mengangkat tangan kanan. Salam ini dilakukan sebagai tradisi komunikasi damai (personal dan komunal) di ruang publik.
Lazimnya, pejalan kaki memberi salam kepada yang duduk; pengendara sepeda memberi salam kepada pejalan kaki, pengendara kereta memberi salam kepada pengendara sepeda; pengendara mobil memberi salam kepada pengendara kereta, sepeda, dan pejalan kaki. Ini berlaku prinsip dari atas ke bawah (top down).
Artinya, orang yang lebih tinggi “derajat” kepemilikan dan “keaktifan” mobilitas ditradisikan menjadi pihak pemberi salam. Dengan kata lain, yang lebih tinggi “derajat” memuliakan yang lebih rendah “derajat”. Selain top down berlaku juga prinsip button up.
Salam prinsip button up ini biasanya terjadi saat berpapasan di jalan antara sesama pejalan kaki, antara sesama pengendara sepeda, atau antara sesama pengendara kereta. Sebagai contoh, seorang yang (lebih) muda memberi salam kepada yang (lebih) tua; seorang murid memberi salam kepada guru. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang anggota masyarakat memberi salam lebih dulu kepada orang yang lebih terhormat atau berkedudukan lebih tinggi. Sementara itu, seorang tamu yang datang ke suatu tempat haruslah senantiasa memberi salam terlebih dulu.
Salam jenis kedua adalah berjabat tangan (mumat jaroe). Salam jenis ini lazimnya tidak diiringi oleh ucapan assalamualaikum. Namun, saat ini sebagian orang mulai mengiringi dengan ucapan tersebut. Salam tangan ini, antara lain dilakukan saat bertemu sahabat, orang tua, dan guru, saat mengunjungi orang sakit, dan saat bertamu.
Ada perlakuan khusus yang dilakukan oleh orang yang menyalami. Sebagai misal, seorang anak akan mencium tangan orang tuanya saat menyalami mereka. Demikian juga murid saat menyalami guru. Sebaliknya, salam jabat tangan dengan teman sebaya atau tamu sebaya dilakukan biasa saja.
Filosofi salam Aceh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Mohd-Harun-al-Rasyid-III.jpg)