Breaking News
Senin, 13 April 2026

Jurnalisme Warga

Tgk Chik Tanoh Abee, Ulama Karismatik Berjiwa Patriotik

DAYAH Tanoh Abee, dayah tertua di Asia Tenggara. Dibangun oleh sering ulama asal Baghdad bernama Fairus Al-Baghdadi pada tahun 1625 Masehi

Editor: mufti
IST
SITI RAFIDHAH HANUM 

SITI RAFIDHAH HANUM, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia  dan Anggota UKM Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, serta novelis, melaporkan dari Seulimeum, Aceh Besar

DAYAH Tanoh Abee berada di Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Berjarak sekitar 42 kilometer (km) ke arah timur Kota Banda Aceh melalui jalan Lintas Banda Aceh-Medan dengan jarak sekitar 7 km dari jalan besar. Tempat ini merupakan dayah tertua di Asia Tenggara. Dibangun oleh sering ulama asal Baghdad bernama Fairus Al-Baghdadi pada tahun 1625 Masehi, masih dalam masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Awalnya, dayah ini merupakan surau kecil biasa yang didirikan di Desa Data Sigeupoh, 4 km dari lokasi sekarang. Seiring berjalannya waktu, dayah ini semakin berkembang sehingga dipindahkan ke tengah perkampungan. Dengan demikian, santri yang menuntut ilmu di sana pun semakin banyak. Puncak kejayaan Dayah Tanoh Abee dicapai pada masa pimpinan Syeikh Abdul Wahab atau dikenal sebagai Teungku Chik Tanoh Abee.

Selain sebagai ulama karismatik Aceh dengan segudang keistimewaan, Teungku Chik Tanoh Abee mengoleksi banyak manuskrip kuno. Jumlahnya sampai 10.000 naskah. Sayangnya, pada masa perang Belanda melawan Aceh, ada banyak naskah yang dibakar sehingga tersisa 3.000 naskah saja. Jika dibandingkan dengan daerah lain, jumlah itu masih bisa dikatakan sangat banyak untuk ukuran Asia Tenggara.

Menurut kabar burung, di perpustakaan kuno Dayah Tanoh Abee tersimpan sebuah Al-Qur'an yang ditulis menggunakan air liur. Mengingat pemiliknya bukan orang sembarangan, rasanya hal tersebut dapat dipercaya.

Ada hal menarik tentang Teungku Chik Tanoh Abee yang sampai sekarang masih membuat banyak orang geleng-geleng kepala. Bahkan, rasanya tidak mungkin hal tersebut bisa dilakukan oleh seorang manusia. Pada dasarnya, kemampuan manusia sangatlah terbatas. Tubuh tidak dirancang untuk suatu kegiatan berbahaya. Dalam kondisi tertentu, tubuh bisa rusak atau hancur sewaktu-waktu.
Namun, ada beberapa orang pilihan yang Allah anugerahkan kesakitan (keramat/karomah) sehingga memiliki kemampuan lebih daripada hamba lainnya. Keramat ialah kehormatan, kemuliaan, dan kemampuan seseorang yang luar biasa melebihi daya nalar manusia. Hanya para ulama berpangkat wali saja yang menerima keistimewaan tersebut. Salah satu ulama Aceh, Teungku Chik Tanoh Abee contohnya.

Keturunan generasi kelima dari Syeikh Fairus Al-Baghdadi ini hidup antara tahun 1810 sampai tahun 1894. Tidak ada yang tahu pasti tahun berapa Teungku Chik Tanoh Abee dilahirkan. Akan tetapi, beliau hidup pada masa perang Belanda melawan Aceh yang terjadi pada tahun 1873. Kala itu, Belanda sedang gencar-gencarnya menyerang Aceh agar tunduk di bawah kepemimpinan mereka. Bukannya menerima hasil sesuai keinginan, para serdadu Belanda yang datang dengan sikap jemawa terpaksa menelan pil pahit. Datang membawa keberanian, pulang-pulang lutut gemetaran.

Hal itu bermula pada saat Teungku Chik Tanoh Abee berhadapan dengan para serdadu Belanda. Mereka melepaskan bom menggunakan meriam. Pikiran sudah girang terlebih dahulu karena merasa akan memperoleh kemenangan seperti yang didapat di daerah lain di Indonesia. Berada di paling ujung Nusantara membuat Aceh dipandang remeh. Maka dengan kegembiraan yang meletup diikuti semangat membara, satu bom dilepaskan.

Tak disangka Teungku Chik Tanoh Abee berhasil menangkap bom tersebut hanya menggunakan tangan kosong saja. Bom itu tetap aktif dan bisa saja akan meledak. Jika dipikir menggunakan akal sehat, tubuh manusia akan hancur lebur akibat ledakan. Minimal merasa kesakitan akibat menanggung patah tulang setelah dihantam bola bom yang dimuntahkan oleh meriam. Namun, Teungku Chik Tanoh Abee terlihat baik-baik saja. Tak ada ekspresi kesakitan di wajahnya.

Para serdadu Belanda langsung merasa heran sekaligus kecut. Selama menjajah Indonesia dan memperluas tanah jajahannya ke Aceh, belum pernah ditemui orang sakti yang mampu melakukan hal itu. Mustahil ada manusia mampu menahan bom menggunakan tangannya. Mereka tidak tahu orang yang tengah tersenyum sembari memeluk bom itu sakti atau justru gila. Sangat jauh dari jangkauan nalar manusia.

Posisi masih memeluk bom tersebut, Teungku Chik Tanoh Abee tidak terlihat marah atau murka. Beliau memanggil para serdadu tersebut dengan suara lembut dan penuh kasih sayang. Mendengar suara penuh akan wibawa layaknya seorang ayah tengah memanggil anak-anaknya, serdadu itu merinding sekujur badan. Mereka merasa gamang. Tidak ada pilihan yang aman. Jika pergi, mereka akan mati karena bom masih aktif meskipun belum meledak.

Teungku Chik Tanoh Abee kembali memanggil para serdadu Belanda dengan kelembutan yang tidak berubah sama sekali. Ulama itu memanggil dan memberitahukan bahwa bom tersebut telah beliau kendalikan atas izin Allah. Badan mereka berkeringat dingin. Lutut gemetar bukan main. Akan tetapi, tanpa menunggu dipanggil untuk yang ketiga kalinya, para serdadu Belanda berjalan mendekat.
Bukannya menunjukkan sikap arogan karena hampir dilibatkan dalam situasi bahaya yang dekat pada kematian, Teungku Chik Tanoh Abee tersenyum hangat sembari meminta mereka mengambil kembali bom itu dan diserahkan pada Ratu Belanda. Tanpa diberi tahu pun para serdadu Belanda yang tak berhenti gemetar mengerti apa makna di balik kata-kata Teungku Chik Tanoh Abee. Pesan yang terkandung dalam permintaan beliau ialah akan bersifat mustahil bagi Belanda jika ingin mengalahkan Aceh.

Setelah mengumpulkan keberanian, salah seorang serdadu Belanda bersuara. “Maafkan kami, wahai Ayah. Kami berjanji tidak akan bersikap lancang lagi kepada rakyat Aceh. Pesan Ayah akan kami sampaikan kepada ratu kami di Belanda sana.”

Lalu, mereka pergi meninggalkan Teungku Chik Tanoh Abee yang masih berdiri di tempat semula. Sejak saat itu, tak ada seorang Belanda pun yang berani mengusik Dayah Tanoh Abee setelah mendengar sendiri kesaktiannya dari rekan mereka.

Teungku Chik Tanoh Abee wafat pada tahun 1894. Makamnya berada di dalam Dayah Tanoh Abee dan masih diziarahi oleh banyak orang hingga saat ini. Di dalam bangunan makam ada banyak kitab-kitab kuno yang disusun dalam lemari kaca. Selain melakukan wisata religi, para peziarah berharap mendapat berkah dari kealiman seorang ulama saat mendirikan shalat di dalam bangunan makam tersebut.
Biasanya orang berziarah pada hari-hari besar keagamaan, memandikan bayi yang baru turun tanah, serta menuntaskan hajat atau dalam bahasa Aceh disebut meukaoy. Pemerintah Aceh wajib menjaga kelestarian serta keaslian seluruh eksistensi yang ada di Dayah Tanoh Abee. Baik pemugaran makam maupun membiarkan kitab-kitab dan manuskrip kuno tetap berada ada di sana. Masyarakat setempat juga berperan penting dalam melindungi salah satu tempat yang menjadi ikon kekayaan sejarah Aceh tersebut agar anak cucu kita dapat melihat sendiri bukti nyata dari kekeramatan seorang wali pilihan Allah di Aceh Besar.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved