Wawancara Khusus

Tokoh GAM Lirik Senayan

Dalam program ‘Bincang Politik’ bersama News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali Sofyan Dawood mengungkapkan alasanya maju sebagai bacaleg DPR RI

Editor: mufti
Serambi Indonesia
SOFYAN DAWOOD 

TOKOH Perdamaian Aceh, Sofyan Dawood, didaftarkan sebagai bakal calon anggota legislatif (bacaleg) DPR RI pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Dia maju melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Daerah pemilihan (Dapil) 1 Aceh.

Dalam program ‘Bincang Politik’ bersama News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali, pada Senin (22/5/2023) yang tayang di kanal Youtube dan Facebook Serambinews.com, Sofyan Dawood mengungkapkan alasanya maju sebagai bacaleg DPR RI.

Apakah benar Anda menyenter kursi di DPR RI?

Iya, sangat benar. Saya akan maju ke DPR RI melalui PDI-P.

Apa alasan Anda ingin menjadi anggota DPR RI?

Karena ini bukan cita-cita. Kalau cita-cita mungkin konflik-perang-2005 perdamaian–setelah itu jadi pejabat. Itu sebuah cita-cita menjadi bupati, gubernur atau anggota DPR. Tapi, saya nggak. Saya mencoba lihat generasi atau orang-orang pintar Aceh yang bisa ke pejabat tertentu.

Di masa tua ini, kenapa harus saya yang harus naik ke DPR RI, kenapa tidak dari dulu? Saya ikut dalam intrik politik beberapa tahun belakangan ini. Karena saya pelaku konfik dan perdamaian harus jelas. Jangan sampai orang lain ambil kesempatan ini.

Setiap Pemilu, Pileg, Pilpres, dan Pilkada mengatakan ‘saya adalah pejuang MoU, pejuang segala macam’, ini orang lain yang bicarakan. Sebenarnya mereka tidak tahu dasarnya yang mana.

Apa alasan Anda memilih maju lewat PDI-P?

Kalau saya tanya di Golkar, Golkar punya kursi. Kalau saya naik, satu lagi mungkin kursi mereka saya ambil. Mengganggu punya orang. Naik melalui Partai Demokrat, juga sama. Ini PDI-P tidak ada kursi. Saya akan meraih satu kursi untuk di dapil 1. Saya akan maju lewat situ. Sehingga mutlak tidak mengganggu dan mengkhianati orang lain. Saya bukan mengkhianati Aceh, (PDI-P) ini jalur.

Kalau seandainya hari ini ada Partai Aceh (PA) bisa naik ke DPR RI, saya lewat PA. Kalau ada badan dayah, santri atau pesantren bisa ada aturan naik ke DPR RI, saya akan lewat itu. Karena itu tidak bisa, saya pilih jalur PDI-P.

Kenapa PDI-P? Itu  partai berkuasa secara nasional. 90 persen umat Islam di Indonesia memilih PDI-P. Saya pribadi naik partai apapun saja untuk pribadi bisa, tapi sampai di sana (Gedung Senayan) tidak bisa berbuat apa-apa. Saya coba naik melalu partai yang berkuasa, mudah-mudahan yang keinginan, walaupun tidak 1 persen, saya harus memperjuangkan hak-hak perdamaian ini.

Apakah perjuangan hak perdamaian harus melalui kursi parlemen?

Saya sudah pernah mencoba pada tahun 2009. Itu pertama damai dan pemilu waktu itu baru ada partai lokal, Partai Aceh (PA). Saya coba bantu Partai Demokrat. Saya Tim Sumbagut pada waktu itu. Saya kampanye untuk Demokrat, berhasil meraih tujuh kursi, termasuk mantan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Tapi setelah itu, beliau-beliau tidak berbuat apa-apa. Jangankan untuk pendukung yang lain seperti masyarakat, saya pun tidak pernah diajak bicara untuk Aceh. Ini kekecewaan besar waktu itu. Kemudian di 2014, saya bantu NasDem. Mendapat dua kursi, dapil 1 dan dapil 2, termasuk Prof Dr Bachtiar Aly dan Zulfan Lindan. Saya mengharap juga. Kenapa saya tidak mengingnkan? Biar beliau-beliau ini yang berbuat untuk Aceh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved