Kamis, 30 April 2026

Opini

Ketika Jeumpa Kuneng Kian Langka Ditemui

JEUMPA Kuneng adalah sebutan untuk tanaman Cempaka Kuning dalam Bahasa Aceh, yang dulu disebut Michelia champaca dan kini berganti menjadi Magnolia ch

Tayang:
Editor: mufti
IST
Dr Zumaidar MSi, Staf Pengajar Jurusan Biologi FMIPA USK 

Dr Zumaidar MSi, Staf Pengajar Jurusan Biologi FMIPA USK

JEUMPA Kuneng adalah sebutan untuk tanaman Cempaka Kuning dalam Bahasa Aceh, yang dulu disebut Michelia champaca dan kini berganti menjadi Magnolia champaca dalam Bahasa Latin. Tanaman ini ditetapkan sebagai Flora Identitas Provinsi Aceh berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No 48 Tahun 1989 bersamaan  dengan penetapan Ceumpala Kuneng (Trichixos pyrropygus) atau dikenal dengan Murai Ekor Kuning sebagai Fauna Identitas Provinsi Aceh.

Dalam Syair Lagu Bungong Jeumpa, tersebut juga Jeumpa Puteh, yang menjadi lambang salah satu SMAN di Banda Aceh. Namun Jeumpa Puteh (Magnolia alba) dikenal sebagai Kantil, dalam SK tersebut ditetapkan sebagai flora Identitas Provinsi Jawa Tengah.

Meskipun sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, informasi tentang penetapan Jeumpa Kuneng sebagai Flora Identitas Provinsi Aceh baru penulis dapatkan setelah 10 tahun surat keputusan tersebut dikeluarkan yaitu Tahun 1999 saat menempuh pendidikan Magister di IPB Bogor. Kala itu Profesor Dr Mien A Rifai, sebagai ahli botani, memberikan kuliah yang mengisahkan tentang sejarah penetapan Flora dan Fauna Indonesia. Sebelumnya penulis tidak mendapatkan sosialisasi tentang penetapan maskot flora tanaman Jeumpa Kuneng ini.

Merasa miris dengan gaung sosialisasi maskot flora yang tak tersebar dengan baik, penulis berusaha melakukan upaya untuk meluaskan informasi terkait tanaman ini. Beberapa kegiatan akademik terkait upaya sosialisasi tanaman Jeumpa Kuneng ini pun disusun sejak tahun 2001 setelah kembali dari Bogor.

Beberapa topik penelitian dan judul tugas akhir mahasiswa dirancang sekaligus menjadi ajang sosialisasi di kampus. Lacakan keberadaan tanaman ini di Banda Aceh pun dilakukan, dan alhamdulillah tahun 2002 ditemukan tanaman ini memenuhi sekeliling halaman depan dan belakang Anjong Mon Mata. Semacam nuansa sosialisasi dari pimpinan daerah saat itu secara tidak langsung dirasakan melalui realita ini. Di halaman beberapa mesjid juga ditemukan tanaman ini. Demikian juga tanaman ini ditemukan di halaman rumah warga.

Selanjutnya penulis berusaha melakukan sosialisasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat sekitar Tahun 2003 dengan melibatkan Karang Taruna Gampong Ateuk Munjeng untuk ikut serta dalam pengembangan bibit tanaman ini. Hasil pembibitan ini dilanjutkan dengan pembagian ke beberapa sekolah agar ditanam di halaman sekolah sekaligus mensosialisasikan aturan SK maskot flora ini.

Disadari sepenuhnya bahwa informasi tanaman ini dari segi budaya tak luntur, terbukti dengan lagu Bungong Jeumpa yang masih sangat fasih dilagukan oleh siswa sekolah. Namun jika ditanya bagaimana wujud tanamannya, sebagian besar siswa tak mengenalnya.

Di sisi yang lain, hasil penelitian Etnobotani di Ibukota Provinsi Tahun 2003, yang melibatkan masyarakat Aceh sebagai responden, masih ditemukan kearifan lokal terkait maskot flora ini sebagai obat, sebagai tanaman yang bernilai ekonomi, dan sebagai tanaman yang dimanfaatkan secara adat istiadat (perkawinan, kelahiran, dan kematian).

Sulit ditemukan

Hingga hari ini bunga Jeumpa Kuneng masih digunakan dari sisi budaya. Namun demikian, saat ini perlu dipastikan oleh pihak terkait, bahwa pada kurikulum tingkat Taman Kanak-Kanak, masih ada pengenalan lagu Bungong Jeumpa agar pelestarian secara budaya tetap dapat dipertahankan secara terstruktur di lingkungan pendidikan.

Kini setelah 24 tahun berlalu sejak penetapan maskot flora, tanaman Jeumpa Kuneng sudah tidak lagi mudah ditemukan. Apalagi mungkin bibit yang ditanam saat itu bukan berasal dari biji tapi berupa hasil stek yang umur tanamannya lebih singkat dibandingkan tanaman yang berasal dari biji.

Kekhawatiran muncul terkait pengenalan masyarakat Aceh terhadap maskot flora daerahnya yang semakin kabur khususnya pada generasi muda saat ini. Beberapa mahasiswa yang berasal dari Banda Aceh, Aceh Besar, Sigli, Lhokseumawe, dan Langsa, yang terlibat dalam penelitian Jeumpa Kuneng, memberikan informasi tentang susahnya mendapatkan pohon Jeumpa Kuneng. Sedemikian keberadaan maskot flora saat ini di beberapa kabupaten/kota.

Terkait penelitian, topik bahasan yang diandalkan saat ini adalah pemanfaatan sumber daya alam yang merupakan keunikan dan kekhasan setempat. Tanaman Jeumpa Kuneng menjadi salah satu sumber daya lokal Aceh yang unik terkait pemanfaatannya secara tradisional. Hasil penelitian yang diinginkan saat ini adalah menghasilkan suatu produk yang nantinya dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat. Penelitian tentang maskot flora yang viral saat ini mengarah pada pengembangan produk obat dan kosmetik.

Organ daun, bunga, dan buah menjadi sesuatu yang pasti dibutuhkan karena menjadi bahan baku untuk produk tersebut. Oleh karenanya keberadaan tanaman Jeumpa Kuneng menjadi sesuatu yang niscaya. Namun ketika keberadaannya saat ini susah ditemui, bagaimana cara mendapatkan organ Jeumpa Kuneng yang dibutuhkan sebagai bahan baku penelitian?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved