Opini

Scopus dan Penyesuaian Kurikulum

Pemerintah Indonesia pun mensyaratkan karya tulis ilmiah yang dimuat di jurnal bereputasi terindeks Scopus bagi dosen-dosen yang ingin naik pangkat ke

Editor: mufti
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Prof Dr Jarjani Usman MSc MS, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Ar Raniry. 

Prof Jarjani Usman PhD, Penulis dan reviewer di jurnal terindeks Scopus di berbagai negara dan dosen UIN Ar-Raniry

BERBAGAI negara di dunia telah menjadikan Scopus sebagai salah satu barometer pengindeks jurnal paling handal saat ini, di samping sejumlah pengindeks handal yang lain seperti Web of Science (WOS) dan Pubmed untuk bidang medis dan life-sciences. Pemerintah Indonesia pun mensyaratkan karya tulis ilmiah yang dimuat di jurnal bereputasi terindeks Scopus bagi dosen-dosen yang ingin naik pangkat ke golongan IV atau guru besar/profesor.

Tujuan pemerintah memang baik, agar dosen-dosen termotivasi untuk menulis pada jurnal-jurnal yang melibatkan para pakar di bidangnya, sehingga menghasilkan artikel berkualitas  dan bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Di samping itu, para dosen (akan) memiliki kompetensi menulis yang mumpuni, yang selanjutnya ditularkan kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Akibatnya, sebagian dosen mampu menembus jurnal terindeks Scopus, sedangkan banyak yang lain sulit. Berbagai cara dilakukan agar bisa menembus jurnal terindeks Scopus. Termasuk di antaranya mengundang penulis yang sudah berpengalaman menulis di jurnal terindeks Scopus, dan meminta agar dicantumkan namanya, walaupun tidak ikut menulis. Ada juga yang membeli artikel dari orang lain. Bahkan ada yang berusaha mencari jurnal abal-abal asalkan terindeks Scopus, walaupun kemudian jurnal tersebut didepak keluar (discontinued) dari indeks Scopus.

Akibat banyak orang seperti itu, muncul sejumlah pihak yang memanfaatkan kesempatan. Sejumlah jurnal terindeks Scopus dibajak, dengan menciptakan jurnal cloning dengan nama yang sangat mirip dengan nama jurnal yang terindeks Scopus. Lalu diundanglah para penulis melalui email dengan iming-iming akan dimuat segera, tentunya dengan bayaran yang mahal mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 16 juta. Banyak dosen terperangkap, terutama yang ingin cepat publikasi artikelnya.

Sedangkan jurnal-jurnal terindeks Scopus dari lembaga ternama, tak sedikit yang meminta ongkos publikasi yang sangat tinggi bagi kantong dosen di Indonesia. Ada yang kalau dikurskan dengan rupiah mulai dari Rp 10 juta, Rp 15 juta, hingga Rp 50 juta. Benar-benar harga gila-gilaan, kecuali di Indonesia yang masih berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 8 juta. Masih untung bagi dosen yang dibayar perguruan tingginya. Tak sedikit dosen yang terpaksa mengeluarkan duit dalam jumlah besar itu dari kocek sendiri.

Percuma pelatihan

Untuk meningkatkan kemampuan dosen agar mampu menulis karya tulis ilmiah (KTI), banyak perguruan tinggi melakukan pelatihan penulisan karya tulis ilmiah dengan menghadirkan para pakar atau dipakarkan. Biasanya, partisipannya sangat banyak, tetapi yang mampu menembus Scopus hanya beberapa orang. Sedangkan kebanyakan partisipan lain tidak mampu karena ketidakmampuan dalam membaca ilmiah karena rata-rata jurnal mensyaratkan kutipan dari puluhan jurnal terindeks Scopus juga. Kurangnya kemampuan membaca mungkin karena jurnal terindeks Scopus umumnya dalam bahasa Inggris.

Padahal membaca adalah syarat utama menulis. Menulis adalah upaya (re) produktif atau mengeluarkan apa yang dipahami, sedangkan membaca adalah upaya receptif atau memasukkan. Jadi untuk menulis harus mampu membaca dengan baik dan kritis sebagai usaha memahami.  Dengan demikian, keinginan menulis ada namun keinginan membaca sangat rendah, akan sulit menembus jurnal berkualitas.  Kecuali karya ilmiah selevel cang panah. Agar bisa bermanfaat pelatihan-pelatihan karya ilmiah, sebaiknya didorong dosen-dosen muda yang memiliki motivasi tinggi. Namun banyak juga dosen muda, tetapi semangat menulisnya renta. Akibatnya, ribuan kali pun ikut pelatihan menulis karya ilmiah, tidak mampu menulis di jurnal-jurnal terindeks Scopus.

Kontestasi ideologi

Menurut saya, menulis karya ilmiah dan menerbitkannya di jurnal-jurnal bereputasi ternama di dunia bukan hanya sebatas memenuhi syarat akademik bagi naik pangkat para dosen, tetapi juga pertarungan ideologi. Ada persaingan khazanah ilmu pengetahuan di level dunia. Bagi penulis muslim, menulis di jurnal-jurnal bereputasi bisa ikut meramaikan khazanah ilmu pengetahuan menurut Islam.

Jangan sampai yang dijadikan rujukan selama ini oleh penulis non-muslim dan bahkan kaum muslim sendiri adalah karya-karya penulis non-muslim, karena kekurangan karya dari penulis muslim di jurnal bereputasi untuk dikutip. Akibatnya, ketika ingin menulis tentang negeri sendiri, kita malah menjadi pengekor penulis non-muslim dan bahkan para orientalis.

Misalnya, dalam menulis karya ilmiah tentang Aceh, banyak yang merujuk kepada karya-karya Snock Horgronye, penulis kenamaan Belanda yang ikut menaklukkan Aceh pada masa penjajahan dulu. Padahal seyogianya, ada karya-karya pembanding dari penulis-penulis Aceh berkaliber internasional yang menjadi rujukan sekarang.  Penulis-penulis non muslim bisa merujuk karya-karya penulis muslim.

Penyesuaian kurikulum

Sebenarnya tidak begitu sulit menulis artikel ilmiah di jurnal terindeks Scopus, bila kemampuan menulis kaum terpelajar Indonesia dibangun sedini mungkin. Namun persoalannya terletak pada kemampuan menulis para dosen di Indonesia, yang tidak dibiasakan untuk menulis dengan menggunakan HOTS (Higher Order Thinking Skills) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved