Kupi Beungoh
Istri Itu, Bagaimana Suaminya
Istri itu bagaimana suaminya, suami itu bagaimana istrinya, kok bisa? Itulah yang disebutkan "seKufu" dalam akhlah.
Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag.
Istri itu bagaimana suaminya, suami itu bagaimana istrinya, kok bisa? Itulah yang disebutkan "seKufu" dalam akhlak.
Dalam bahasa Arab, sekufu disebut dengan kafa’ah. Secara etimologi, kafaah berarti sama, sederajat, sepadan, atau sebanding.
Menurut Sayyid Sabiq dalam bukunya yang berjudul Fiqih Sunnah (1986), sekufu atau kafaah adalah setaranya kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam tingkat sosial dan sederajat dalam akhlak dan kekayaannya.
Sementara Abdul Al-Rahman Al-Jazairi dalam kitabnya berjudul al-Fiqh al-Mazahib al-Arba’ah (1990) menjelaskan pengertian sekufu adalah keseimbangan pasangan calon pengantin dengan keadaan tertentu.
Baca juga: Qanun LKS Menjaga Umat dari Penjajahan Ekonomi
Sekufu Dalam Akhlak
"seKufu" dalam akhlah adalah jika suami itu baik, baik juga istrinya. Jika suaminya jahat, jahat juga istrinya. seorang istri sangat di pengaruhi oleh bagaimana suaminya.
Demikian juga suami akan dipengaruhi oleh bagaimana istrinya, keduanya akan saling mewarnai, kecuali beberapa wanita yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an untuk menjadi pelajaran bagi wanita lainnya sepanjang zaman, wanita-wanita ini Allah jaga dari keburukan.
Sebagai contoh istri Raja Fir'aun yang tetap baik, meski Fir'aun itu jahat, demikian juga istri Nabi Nuh yang yang tidak ta'at meski Nabi Nuh adalah seorang Nabi dan seorang laki-laki yang shaleh dan sabar.
Berbeda dengan manusia biasa lainnya, mereka setelah menikah akan saling mewarnai, satu sama lain menjadi ujian buat yang lainnya atau menjadi rahmat jika itu dalan bentuk kebaikannya terhadap pasangannya.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 26 yang artinya:
Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). (QS. An-Nur: 26).
Baca juga: DPR Itu, Mewakili Siapa?
Ini juga bisa bermakna bahwa perempuan yang tidak baik, akan mendapatkan laki-laki yang tidak baik juga, atau perempuan yang keji akan mendapatkan laki-laki yang keji. Oleh karena itu, ayat ini bisa menjadi nasehat bagi pasangan yang belum menikah, jika ingin mendapatkan pasangan yang baik baik, teruslah memperbaiki diri, teruslah menjaga diri agar menjadi baik.
Kenapa perempuan yang disebutkan pada awal, karena perempuan setelah menikah, mampu mengubah seorang laki-laki menjadi baik atau sebaliknya dan itu dapat kita lihat dalam realita kehidupan, meski tidak di pungkiri untuk sebagian rumah tangga laki-laki yang mendominasi, sampai perempuan berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Seorang perempuan pada kehidupan sebelum menikah, kepribadiannya sesuai dengan pola, keteladanan, kebiasaan, pembiasaan dan pengajaran yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg.jpg)