Opini

Dilema Strawberry Teachers

Guru seharusnya bisa mengemas sekian ceramahnya tersebut dengan memanfaatkan teknologi, menciptakan konten-konten pembelajaran menarik sesuai selera g

Editor: mufti
IST
FERI IRAWAN, S.Si., M.Pd., Kepala SMKN 1 Jeunieb dan mantan ketua PPK Kota Juang, Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

Feri Irawan SSi MPd, Kepala SMKN 1 Jeunieb dan Ketua IGI Daerah Bireuen

PENULIS yakin hanya mereka yang terpanggil jiwanya untuk menjadi guru yang dengan ikhlas dan sabar mendidik, membimbing dan mengarahkan siswa menjadi yang terbaik. Di samping itu, guru juga terus meng-upgrade kompetensinya, karena sudah bukan jamannya lagi guru masuk kelas dan hanya melakukan ceramah dan diakhiri dengan penilaian di akhir semester.

Guru seharusnya bisa mengemas sekian ceramahnya tersebut dengan memanfaatkan teknologi, menciptakan konten-konten pembelajaran menarik sesuai selera generasi milenial. Selanjutnya, siswa dapat menikmati konten tersebut kapan saja sehingga waktu tatap muka bisa dimanfaatkan dengan model pembelajaran berbasis project (PBL).

Peran guru dalam melaksanakan pembelajaran sangat penting dalam meningkatkan keterlibatan dan motivasi, membudayakan kreativitas dan inovasi siswa dalam belajar, menggunakan sarana belajar yang tepat, mendesain aktivitas belajar yang relevan dengan dunia nyata, mengaktifkan metakognisi, sampai mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru yang seperti inilah yang mampu menuntun anak dalam menggali dan mengembangkan bakat dan minat sesuai kodrat yang dimiliki siswa seperti filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD).

Namun, asa tidaklah selalu menjadi kenyataan. Karena ketidakmampuan guru dipengaruhi oleh daya ingat seiring bertambahnya usia, gagap teknologi atau ketidakmampuan menggunakan teknologi pembelajaran, dan sudah merasa malas untuk belajar atau upgrade pengetahuan. Selaras dengan harapan di atas, seharusnya guru memiliki pemikiran out of the box dalam tindakan mendidik, membimbing, dan melatih siswa.

Mengingat siswa saat ini merupakan generasi yang memiliki banyak ide cemerlang serta kreativitas yang tinggi yang merupakan ciri siswa milenial, namun terjebak dalam zona nyaman, tidak memiliki rasa tanggung jawab, mudah menyerah, memiliki harapan yang tidak realistis serta sering kali memaksakan kehendak, seperti yang disebutkan Prof Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Strawberry Generation (2018).

Generation strawberry hanya sebutan untuk menganalogikan watak atau karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Maka di sinilah peran guru "out of the box" yang sebenarnya mengatasi watak generasi stroberi. Mengapa demikian? Karena negara kita buka sekadar membutuhkan generasi yang kreatif dan cerdas saja.

Tetapi negara kita membutuhkan generasi yang damai dalam interaksi sosialnya, memiliki karakter yang kuat, yang sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, serta generasi yang berperadaban unggul.

Tindakan positif

Lalu tindakan apa yang harus dilakukan guru meminimalkan generasi stroberi tersebut baik di kelas maupun di sekolah? Pertama, guru harus mampu memantik proses belajar mengajar (PBM) siswa untuk kreatif. Menurut KHD, peran guru dalam proses pendidikan harus menjadi panutan atau memberikan contoh bagi siswanya. Guru profesional akan selalu tampil di depan untuk memberikan teladan, baik dari segi karakter maupun contoh hasil proses belajar mengajar.

Namun nyatanya di lapangan masih ada guru yang belum memberi teladan kepada para siswanya baik dari segi karakter maupun proses dan hasil pembelajaran. Kemudian belum bisa mendampingi murid-muridnya sepenuh hati dan waktu, serta belum bisa memompa semangat mereka agar terus membara untuk melahirkan karya-karya kreatif.

Contohnya, seorang guru matematika yang mengajarkan integral, harus menunjukkan contoh kepada para siswa cara menyelesaikan integral dengan caranya yang mudah dipahami. Hal ini akan memberi energi positif yang dahsyat bagi siswa-siswanya untuk kreatif berkarya mengikuti gurunya. Para siswa akan menaruh kepercayaan kepada gurunya bahwa guru tersebut bukan hanya pintar memberi tugas, tapi juga mahir menyelesaikan tugas.

Khusus untuk proses dan hasil pembelajaran, terkadang para guru terjebak dengan tuntutan kurikulum yang terus berubah, yang memerlukan adaptasi dari para guru itu sendiri. Kurikulum sudah berjalan, namun adaptasi kompetensi guru masih dalam proses. Belum lagi masih banyak guru yang terpaksa mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, karena di sekolah yang bersangkutan kekurangan guru untuk mata pelajaran tertentu.

Bila sistem PBM seperti ini masih berlangsung, maka kreativitas siswa tidak akan tergali. Siswa hanya dilatih untuk taat saja tanpa diberi ruang yang menantang ketangguhan dan menunjukkan keunggulannya. Bila hanya dijadikan objek transfer ilmu, para siswa tidak akan tertantang untuk menjelajah, mencari, dan menemukan sesuatu yang baru. Padahal ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang sepanjang waktu.

Kedua, guru harus mampu menuntun siswa untuk memahami ilmu  pengetahuan secara terintegrasi sehingga siswa memiliki kecerdasan yang komprehensif. Guru mengupayakan dalam memberikan ilmu ke siswa tidak seperti potongan-potongan puzzle secara parsial tanpa tahu bentuk utuhnya, tanpa memahami konsep dasar apalagi latar belakang keilmuannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved