Kupi Beungoh
17 Agustus Yang Belum Merdeka
Inikah yang namanya merdeka? Saya rasa tidak, bukan seperti ini gambaran masyarakat di negri yang merdeka.
Oleh : Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag.
Yang meninggal, yang patah tulang, yang terkilir, yang pingsan, akibat mengikuti perlombaan panjat pinang, tarek tambang, lari karung, makan kerupuk sambil berdiri, yang dibuat dalam rangka menyambut perayaan 17 Agustus, kemerdekaan Republik Indonesia.
Inikah yang namanya merdeka? Saya rasa tidak, bukan seperti ini gambaran masyarakat di negri yang merdeka.
Ini gambaran masyarakat yang masih terjajah, namun yang menjajah itu adalah sesama pribumi, bisa itu sistem ataupun orang.
Perlombaan seperti ini adalah gambaran negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang miskin dalam akhlak senang menjajah, dan rakyatnya miskin secara ekonomi. Sangat menyedihkan.
Negeri ini dipimpin oleh orang yang miskin akhlak, dapat kita lihat dari setiap pemberitaan di media sosial, televisi, radio, yang disampaikan hampir semua berita adalah hal-hal negatif, baik itu tentang rakyat, tentang sistem, tentang pemimpin, hampir tidak pernah kita dengar pemberitaan-pemberitaan yang positif, kecuali sangat sedikit, ini menunjukkan bahwa pemimpin di negri ini tidak berhasil menjadi pemimpin yang dirindu, pemimpin yang memikirkan kepentingan rakyatnya sebagaimana janji-janji politiknya.
Ini juga gambaran bahwa pemimpin di negeri ini krisis akhlak, tidak mampu membuat penampilan negri ini dan rakyatnya positif dan berprestasi.
Yang kita lihat, berita korupsi, narkoba, penipuan, pembunuhan, perampokan, saling menjegal, tawuran, rakyat mencuri karena lapar, rakyat membunuh karena lapar, kekeringan, kekerasan, rakyat mengeluh semua barang serba mahal, susah hidup, pendidikan mahal, pelayanan kesehatan mahal, sulit dan rumit. Ini adalah gambaran bahwa rakyat di negeri ini miskin secara ekonomi.
Baca juga: VIDEO Selama Indonesia Merdeka, Ribuan Warga Kemukiman Aree Pidie Belum Nikmati Jalan Beraspal
Makna Kemerdekaan
Merdeka dalam bahasa Indonesia berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan) berdiri sendiri yang dibebaskan.
Tujuh belas Agustus tahun empat lima, Itulah hari kemerdekaan kita, Hari merdeka nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia,
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka, Selama hayat masih dikandung badan, Kita tetap setia tetap sedia, Mempertahankan Indonesia, Kita tetap setia tetap sedia Membela negara kita, Merdeka.
Dari lirik lagu Hari Merdeka tersebut, Perayaan 17 Agustus bemakna bahwa kita sudah merdeka kawan, jangan ada lagi penjajahan, dalam bentuk apapapun.
Merdeka berbicara namun sopan dan berakhlak, merdeka mengkritik untuk perubahan yang lebih baik, merdeka berbuat untuk kesejakteraan diri dan orang banyak, teruma bagi pemimpin.
Jabatan kepemimpinan adalah kesempatan untuk dapat berbuat baik dengan mudah kepada orang banyak sebagai bekal akhirat, bukan kesempatan untuk mengelola negri untuk kepentungan diri dan kelompok dengan mengorbankan orang lain, dengan membuat aturan dan sistem yang memberatkan rakyat, ini adalah bentuk penjajahan yang tersembunyi, apalagi terhadap anak negri oleh anak negeri, sesungguhnya kita bersaudara, bersainglah dengan positif dan sehat. Berlomba-lombalah berbuat kebaikan, karena kita akan mati, moga akhir hayat, syahid sebagaimana pahlawan kemerdekaan.
Kita Sudah Merdeka
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-adalah-Dosen-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)