Berita Nasional

Pemerintah Jokowi Berencana Tambah Utang Rp 648 Triliun pada Tahun 2024

Pemerintah berencana menambah utang senilai Rp 648 triliun pada 2024 mendatang. Pembiayaan utang naik 14,9 persen

|
Editor: Muhammad Hadi
Kontan.co.id/Cheppy A Muchlis
Foto Ilustrasi mata uang Rupiah - Pemerintah Jokowi berencana menambah utang senilai Rp 648 triliun pada 2024 mendatang 

Pemerintah Jokowi Berencana Tambah Utang Rp 648 Triliun pada Tahun 2024, Untuk Menutup Defisit APBN dan Lainnya

SERAMBINEWS.COM - Indonesia kembali menambah utang untuk tahun 2024 mendatang.

Pemerintah Jokowi menambah utang untuk menutupi defisit APBN hingga pembiayaan lainnya.

Pemerintah berencana menambah utang senilai Rp 648 triliun pada 2024 mendatang.

Pembiayaan utang ini naik 14,9 persen dari outlook tahun ini sebesar Rp 406,4 triliun.

Namun, jika dibandingkan dengan target pembiayaan utang dalam APBN 2023 yang sebesar Rp 696,3 triliun, target tersebut sebenarnya jauh lebih rendah.

Baca juga: Jokowi Klaim Rasio Utang Indonesia Paling Rendah di ASEAN, Utang Malah Bengkak Rp 7.855 Triliun

Adapun pembiayaan utang tersebut juga dirancang untuk menutup defisit anggaran tahun depan yang ditargetkan sebesar Rp 522,8 triliun atau 2,29 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Mengutip Buku II Nota Keuangan RAPBN 2024, dari total pembiayaan utang tersebut terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) neto yang paling mendominasi sebesar Rp 666,4 triliun.

Naik dibandingkan outlook 2023 sebesar Rp 362,9 triliun.

Sementara itu, pinjaman dalam negeri direncanakan Rp 600 milliar dan pinjaman luar negeri Rp 17,7 triliun.

Pinjaman luar negeri ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan target tahun ini.

Selain untuk menutup defisit APBN, pembiayaan utang juga dipergunakan untuk membiayai pengeluaran pembiayaan, seperti pembiayaan investasi, pemberian pinjaman, serta kewajiban penjaminan.

Baca juga: Waspada, Pesan Catut Nama Pj Wali Kota Lhokseumawe untuk Beri Donasi Pada Dayah Beredar

Pada tahun 2024, pemerintah berharap kondisi perekonomian diharapkan semakin pulih ditopang pemulihan ekonomi negara Asia termasuk China dan India.

Hal ini diharapkan dapat mendorong ekonomi domestik tumbuh semakin solid dan mendorong peningkatan penerimaan negara sehingga defisit APBN dapat ditekan kembali dan pembiayaan utang semakin menurun.

Namun demikian, masih terdapat risiko yang perlu diwaspadai.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved