Jurnalisme Warga
Diskusi Sesama Akademisi, Muncul Ide MK ‘Keabulyatamaan’
Walaupun saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, tetapi gagasannya mendirikan Unaya sungguh merupakan langkah cemerlang dan strategis.
Dr. SITI RAHMAH, S.H., M.Kn., Plt Dekan Fakultas Hukum Universitas Abulyatama, melaporkan dari Aceh Besar
“Rahmah, bagaimana kabarnya?” pesan WhatsApp masuk ke handphone saya dari Kak Rian, begitu saya biasa memanggil Dr Arfriani Maifizar SE, MSi.
Saat ini kami berdua sama-sama berkecimpung di dunia akademisi. Kak Rian dosen di Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, saya di Universitas Abulyatama (Unaya), Aceh Besar. Kak Rian sudah 15 tahun mengabdi di UTU. Sedangkan saya masuk dunia akademisi sebagai dosen luar biasa sejak 2015. Kemudian, beberapa bulan lalu diberikan amanah baru sebagai Plt Dekan Fakultas Hukum Unaya.
Tanggal 8 Agustus, saya undang Kak Rian untuk hadir dalam penyusunan kurikulum FH Unaya. Saya ingin belajar banyak darinya.
Tanggal 17 Agustus 2023 lalu kami duduk kembali sambil ngopi berdiskusi tentang dunia perguruan tinggi. Kali ini saya ingin belajar darinya bagaimana UTU bisa memiliki mata kuliah (MK) khas yang membedakannya dengan universitas lain.
Hal ini pernah disampaikan oleh Dr Azhari Yahya SH MCL, Dosen FH dan mantan sekretaris Senat Universitas Syiah Kuala (USK) saat presentasi materi Penyusunan Kurikulum di FH Unaya tanggal 8 Agustus 2023. Menurutnya, harus ada mata kuliah khas penciri mata kuliah wajib yang tercantum dalam kurikulum setiap program studi (prodi) yang merupakan turunan dari kurikulum fakultas.
Apa yang diutarakan Pak Azhari selaras dengan apa yang disampaikan Kak Rian. “Di UTU yang memiliki visi dan misi ‘agro and marine industry’, ada mata kuliah Teuku Umar Leadership.”
Teuku Umar diakui sebagai pahlawan nasional karena keberanian, kepemimpinan, keteladanan, perjuangan dan pengorbanannya dalam melawan penjajah.
Menurut Kak Rian, kepemimpinan Teuku Umar inilah yang menjadi sumber inspirasi dan aspirasi bagi UTU dalam melahirkan dan memiliki mata kuliah penciri. Inilah yang menjadi pembeda UTU dengan universitas lain di Indonesia.
Mendengar penjelasan Kak Rian, saya langsung terpikir tentang Abulyatama yang sesuai dengan namanya adalah “Bapak anak yatim”. Maka Universtas Abulyatama harus memiliki mata kuliah (MK) keabulyatamaan.
Mata kuliah ini kelak akan mengajarkan bagaimana kepedulian terhadap anak yatim, mencerdaskan anak yatim melalui pendidikan, penyediaan beasiswa, dan sejarah bagaimana Universitas Abulyatama itu berdiri, dan sebagainya.
Persoalan anak yatim sebenarnya cukup banyak di Aceh, belum lagi yatim korban konflik dan korban tsunami yang menyebabkan jumlah mereka semakin banyak. Nah, apa yang dilakukan oleh Bapak Rusli Bintang selaku pendiri Universitas Abulyatama, sungguh luar biasa.
Walaupun saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, tetapi gagasannya mendirikan Unaya sungguh merupakan langkah cemerlang dan strategis.
Punya konsep pemberdayaan anak yatim itu tidak terpikirkan oleh semua orang, karena butuh pengorbanan untuk membangun dan membesarkannya. Di sinilah kehadiran seorang Rusli Bintang menjadi sangat strategis dan kontekstual.
“Kak, saya rasanya kok ingin ya Abulyatama punya mata kuliah keabulyatamaan, saya ingin ceritakan konsepnya pada Kakak. Mana tahu nanti bisa jadi kenyataan. Saya sudah corat-coret ide dasarnya,” cerita saya sambil tertawa kepada Kak Rian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/siti-rahmah-8.jpg)