Jurnalisme Warga
Diskusi Sesama Akademisi, Muncul Ide MK ‘Keabulyatamaan’
Walaupun saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau, tetapi gagasannya mendirikan Unaya sungguh merupakan langkah cemerlang dan strategis.
“Saya coba usulkan ke pihak kampus nanti ya,” kata saya.
Saya pun mulai bercerita tentang kurikulum keabulyatamaan ini. Banyak materi yang dapat dikaji jika ingin diterapkan kurikulum tersebut. Misalnya, dari aspek hukum. Materi yang diajarkan adalah:
1) Perlindungan hukum. Anak yatim memiliki hak perlindungan hukum yang sama dengan anak-anak pada umumnya. Mereka dilindungi oleh hukum dan tidak boleh diejek, dilecehkan, didiskriminasi, apalagi disakiti;
2) Warisan. Anak yatim memiliki hak untuk menerima warisan dari orang tua mereka. Warisan tersebut harus dibagikan secara adil sesuai dengan aturan hukum waris yang berlaku;
3) Perlindungan sosial. Aanak yatim memerlukan perlindungan sosial yang kuat dalam bentuk pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Negara memiliki kewajiban untuk menyediakan pelayanan tersebut;
4) Adopsi. Anak yatim dapat diadopsi oleh keluarga atau orang lain sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Adopsi tersebut harus melalui proses yang adil dan transparan;
5) Pekerja anak. Anak yatim tidak boleh dipekerjakan atau dimanfaatkan secara tidak layak dan melanggar hukum. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan perlindungan dari pengusaha eksploitasi; dan
6) Kepemimpinan orang dewasa. Anak yatim memerlukan perlindungan dan kepemimpinan orang dewasa dalam pengambilan keputusan yang penting dalam kehidupan mereka seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
Selain itu, bisa diajarkan juga materi tentang aspek kesehatan; secara fisik, mental, dan emosional. Ini meliputi menjaga kesehatan fisik, mencegah penyakit, mengelola stres dan emosi, dan mempromosikan kesejahteraan secara keseluruhan.
Materi ini mempelajari sampai penyediaan akses ke perawatan kesehatan yang memadai dan memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan anak yang mungkin membutuhkan dukungan tambahan.
Aspek pendidikan, materi ini harus memperhitungkan bahwa anak yatim cenderung mengalami kesulitan dalam pendidikan mereka. Ini bisa disebabkan oleh masalah keuangan, kurangnya dukungan keluarga, dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif untuk belajar. Materi ini harus dapat bantuan dan dukungan yang memadai untuk membantu anak yatim dalam pendidikan mereka. Hal ini juga harus mencakup pendidikan moral dan spiritual yang membantu anak yatim mengembangkan nilai-nilai dan kepercayaan yang positif.
Aspek sosial, materi ini mempelajari konsentrasi mempertimbangkan bahwa anak yatim lebih cenderung mengalami masalah sosial, seperti isolasi dan kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat.
Materi ini mengajarkan bagaimana kesempatan bagi anak yatim untuk terlibat dalam aktivitas sosial dan budaya yang membantu mereka mengeksplorasi minat mereka, membangun keterampilan sosial, dan meningkatkan rasa percaya diri mereka.
Kemudian, aspek keterampilan hidup. Materi ini menyediakan pelatihan dan dukungan yang diperlukan untuk membantu anak yatim mengembangkan kecakapan hidup (lifeskill) seperti pengelolaan keuangan dan berkomunikasi dengan orang lain.
Yang terakhir, menurut saya, adalah materi dari aspek kepercayaan dan spiritualitas. Materi tersebut fokus bagi anak yatim dapat mengalami perasaan kehilangan, kecemasan, dan kebingungan tentang tujuan hidup mereka. Materi ini mengajarkan tentang kesempatan bagi anak yatim untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kepercayaan dan spiritualitas mereka, dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk membantu mereka mengatasi tantangan hidup mereka dengan keyakinan dan kepercayaan yang positif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/siti-rahmah-8.jpg)