Berita Banda Aceh
ISAD Launching Buku ‘Praktik Islam Wasathiyah di Institusi Pendidikan Dayah’, Ini Tanggapan Pembedah
sebelum menulis buku ini dirinya terinspriasi setelah membaca kitab karangan Prof Dr Yusuf Al-Qardhawy yang berjudul “al-Khaṣāiṣ al-‘Ammah lil Islām”
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
Dan dengan paradigma Islam Wasathiyah seperti inilah yang membuat institusi pendidikan Dayah di Aceh atau di Nusantara dikenal dengan pesantren terus eksis berabad-abad lamanya.
Dalam situasi paling runyam sekalipun, di masa penjajahan, masa konflik hingga masa covid pendidikan Dayah itu terus jalan seperti tidak terpengaruh.
"Pembelajaran di dayah itu mengintegrasikan orientasi dunia dan akhirat sekaligus. Materi-materi pembelajaran di Dayah yang diajarkan dari sumber kitab-kitab itu bukan hanya mengajarkan untuk bagaimana sukses di akhirat, tapi juga bagaimana sukses di dunia," ujar Zulkhairi.
Pada sisi yang lain, kata Zulkhairi, santri di dayah juga diajarkan keseimbangan mengunakan akal dan wahyu.
"Menjadikan pembelajaran di Dayah seimbang antara kajian tentang Wahyu dan tentang fungsi akal," paparnya.
Zulkhairi juga menjelaskan bahwa pendidikan di Dayah itu mendidik santri hablumminallah dan hablumminannas sekaligus dengan seimbang.
Bahkan kehadiran dayah-dayah menjadi menyatu dengan masyarakat karena keberadaan dayah di Aceh itu dianggap mampu mewujudkan rasa aman bagi masyarakat sekitarnya.
Sementara itu, tiga pembedah buku menyepakati isi dan judul yang diangkat oleh penulis yakni ‘Praktik Islam Wasathiyah di Institusi Pendidikan Dayah’
“Buku ini, karya aktifis dayah dari ISAD Aceh menjadi model moderasi atau wasathiyah versi Aceh yang digagas oleh Dayah,” ujar Fadil Rahmi.
“Islam yang diajarkan di dayah tidak intoleran, menghargai kearifan lokal, menjunjung komitmen kebangsaan, dan tidak mengajarkan radikalisme,” sambungnya.
Disisi lain, Tgk Faisal Muhammad Nur menerangkan, tidak asing jika Dr Zulkhairi menemukan Islam wasathiyah di dayah, karena sanad bersambung kepada sang pembawa risalah.
Bahkan kehidupan di dayah mirip dengan ahlu suffah yang rela hidup miskin hijrah dari mekkah menuju madinah.
“Hal terpenting adalah saling menghormati satu sama lain antar sesama muslim supaya ukhuwah islamiyah tetap terjaga dengan baik,” harapnya.
Lebih lanjut, Saifuddin A Rasyid mengatakan, moderasi agama bukan seolah agama dan islam yang dimoderasi, tapi tetap atas pengertian moderasi yang telah disepakati.
“Secara fakta, bahwa di dayah mengajar moderasi agama, dan bisa dilihat langsung dari buku ini. Untuk itu merekomendasi buku wasathiyah ini dibaca oleh mahasiswa dan semua kalangan,” sebutnya.
Ia mengatakan, perlu untuk dijelaskan di dayah dan perguruan tinggi bahwa tidak ada dikotomi (pemisah ) pendidikan umum dan agama , yang ada fadhu ain dan kifayah. Jadi ilmu umum fadhu juga, tapi bersifat kifayah. (Serambinews.com/ar)
Kadispora Banda Aceh Ajak Pemuda Ikuti Smartfren Fun Run 5K 2025 |
![]() |
---|
Luncurkan Rumah Qur'an, Wagub Aceh Fadhlullah Apresiasi BSI |
![]() |
---|
Wagub Fadhlullah Dukung Aceh Jadi Tuan Rumah Peringatan Hari HAM Sedunia |
![]() |
---|
KKM Mahasiswa Unida di Gampong Acheh Yan Kedah Malaysia Diakhiri Menikmati Sajian Kuah Beulangong |
![]() |
---|
Kadisdik Aceh dan Kakanwil Kemenag Perkuat Kebiasaan Membaca Qur’an di MAN Model & SMAN 3 Banda Aceh |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.