Kupi Beungoh
Anggap Aceh Intoleran, Mereka Pasti Lagi Menghayal
Anggapan bahwa Aceh wilayah intoleran adalah sebuah kekeliruan. Anggapan demikian pasti muncul di kepala mereka yang tidak pernah ke Aceh
Oleh : Anzelia Anggrahini
Ada segelintir orang di luar sana menempatkan Aceh di posisi dengan indeks toleransi beragama yang rendah. Penempatan Aceh di daftar terbawah indeks toleransi beragama telah menimbulkan persepsi bahwa Aceh intoleran.
Setidaknya, isu ini menjadi bahasan hangat dalam Dialog Kerukunan Milenial Lintas Agama yang digelar atas kerja sama Badan Kesbangpol Aceh dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, di cafe ivory, Jumat (29/9/2023).
FGD tersebut dipandang sangat representatif untuk kawula muda lintas agama di Aceh. Dari 20 peserta, terdapat 50 persennya peserta dari bukan Islam, yaitu masing-masing tiga orang dari pemuda agama Kristen, Katolik dan Buddha, serta satu orang dari perwakilan pemuda agama Hindu.
Dialog generasi muda lintas agama di Aceh tersebut didominasi kalangan Gen Z dan Milenial. Gen Z rata-rata masih duduk di bangku sekolah dan belum selesai kuliah, termasuk saya sendiri.
Segelintir permasalahan yang ada di tanah Serambi Mekah tampak terang di mata publik nasional dan dunia.
Mulai dari diskriminasi, ketidaksetaraan gender, pembullyan serta hal lainnya. Bahkan, yang sangat seksi Aceh dipersepsikan sebagai salah satu wilayah yang intoleran.
Besarnya perhatian mata dunia pada Aceh disebabkan Aceh adalah wilayah yang memberlakukan Syariat Islam. Sedikit terjadi kesalahan maka menjadi besar sorotan. Ini adalah konsekuensi bagi Aceh yang memberlakukan Syariat Islam.
Kesaksian Pendatang di Aceh
Beberapa pengalaman tersalurkan oleh beberapa peserta dialog dari berbagai kalangan agama. Tak sedikit peserta dari non-muslim bercerita tentang lika liku kehidupan mereka sehari-hari di Tanah Rencong ini.
Sebelum atau pada saat tiba di Aceh mereka mengaku merasa was-was karena mereka memiliki agama dan budaya yang berbeda dengan mayoritas penduduk Aceh.
Namun, mereka kemudian mengakui bahwa Aceh memang sangat aman dan terjamin akan keamanan setiap individu.
Namun, tak mungkin juga lekang dari tindakan seperti sindirian atau ejekan untuk kalangan agama minoritas ini yang berseliweran di masyarakat sekitar.
Namun, hal itu dianggap masih batas kewajaran karena tidak pernah ada ancaman, apalagi kekerasan atas nama agama dan budaya.
Mungkin saja hal demikian juga terjadi di wilayah lain di Indonesia, bahkan dunia seperti Swedia, Denmark atau Perancis yang kerap melakukan bully terhadap perempuan yang memakai jilbab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Anzelia-Anggrahini.jpg)