Konflik Palestina vs Israel

Israel Lakukan Kejahatan Perang, Targetkan Staf Medis Palestina: Gaza Mulai Digempur dari Darat

Pernyataan itu diumumkan tak lama setelah serangan Israel menghantam ambulans di Gaza, yang menewaskan dua orang dan melukai dua paramedis.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Mursal Ismail
MAHMUD HAMS / AFP
Sebuah rudal meledak di Kota Gaza selama serangan udara dilancarkan Israel pada 8 Oktober 2023. Israel secara resmi menyatakan perang terhadap Hamas pada hari Minggu ketika jumlah korban tewas dalam konflik tersebut melonjak hampir 1.000 setelahHamas melancarkan serangan mendadak besar-besaran dari Gaza. 

Kejahatan perang tersebut dituduhkan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza yang mengatakan militer Israel “dengan sengaja menargetkan” staf medis Palestina.

SERAMBINEWS.COM – Militer Israel telah diyakini melakukan kejahatan perang dengan menargetkan staf medis Palestina di Gaza.

Salah satu objek yang harus dilindungi dalam perperangan adalah unit layanan medis maupun petugas medis.

Kejahatan perang tersebut dituduhkan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza yang mengatakan militer Israel “dengan sengaja menargetkan” staf medis Palestina.

Pernyataan itu diumumkan tak lama setelah serangan Israel menghantam ambulans di Gaza, yang menewaskan dua orang dan melukai dua paramedis.

“Tim medis bekerja dalam kondisi berbahaya, dan kami menyerukan badan-badan internasional untuk mengambil langkah efektif untuk melindungi mereka,” kata juru bicara Kementerian Kesehatan, dikutip dari live update Al Jazeera, Rabu (11/10/2023).

Asap mengepul dari perbatasan Rafah Gaza dengan Mesir saat serangan udara Israel pada 10 Oktober 2023. Perbatasan Gaza dengan Mesir, satu-satunya yang melewati Israel, terkena serangan udara Israel pada 10 Oktober 2023 untuk kedua kalinya di 24 jam, kata para saksi dan kelompok hak asasi manusia. Para saksi mata mengatakan serangan itu menghantam tanah tak bertuan antara gerbang Mesir dan Palestina, sehingga merusak aula di sisi Palestina. (KATA KHATIB/AFP)
Asap mengepul dari perbatasan Rafah Gaza dengan Mesir saat serangan udara Israel pada 10 Oktober 2023. Perbatasan Gaza dengan Mesir, satu-satunya yang melewati Israel, terkena serangan udara Israel pada 10 Oktober 2023 untuk kedua kalinya di 24 jam, kata para saksi dan kelompok hak asasi manusia. Para saksi mata mengatakan serangan itu menghantam tanah tak bertuan antara gerbang Mesir dan Palestina, sehingga merusak aula di sisi Palestina. (KATA KHATIB/AFP) ()

Baca juga: Konflik Israel dan Palestina Makin Panas, Israel Lancarkan Serang Perbatasan Mesir dan Gaza

Pada tahun 2014, laporan Amnesty International menyimpulkan bahwa enam petugas kesehatan tewas dalam serangan yang disengaja dilakukan militer Israel di beberapa wilayah Gaza.

Padahal kendaraan tersebut dengan jelas ditandai sebagai ambulans yang sedang bertugas.

Dalam satu kasus, staf medis yang mencoba membantu petugas kesehatan yang terluka parah juga ditembak pasukan Israel. 

Penargetan yang disengaja terhadap pekerja layanan kesehatan di zona konflik dianggap sebagai kejahatan perang.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant telah berjanji untuk meningkatkan perang melawan Hamas dengan serangan darat.

Gallant, yang berbicara kepada pasukan Israel di dekat pagar Gaza pada Selasa, mengatakan bahwa setelah menggempur Gaza melalui udara, pihaknya juga akan melakukan penggempuran melalui darat.

Baca juga: Erdogan Murka Kapal Induk Amerika Serikat Ada di Laut Dekat Israel, Sebut Bisa Berujung Pembantaian

“Kami memulai serangan dari udara, nanti kami juga akan menyerang dari darat,”

“Kami telah mengendalikan area tersebut sejak hari kedua dan kami melakukan serangan. Ini hanya akan semakin intensif.”

“Hamas menginginkan perubahan dan mereka akan mewujudkannya. Apa yang dulu ada di Gaza tidak akan ada lagi,” ujarnya.

Juru bicara militer Israel, Jonathan Conricus, mengatakan ratusan ribu tentara berkumpul di dekat Jalur Gaza untuk berperang dengan Hamas.

“Apa yang kami lakukan di daerah-daerah yang dekat dengan Jalur Gaza ini adalah kami telah mengerahkan infanteri, tentara lapis baja, korps artileri kami, dan banyak tentara cadangan lainnya berjumlah 300.000 di berbagai brigade,

“mereka (pasukan Israel) sekarang berada di dekat Jalur Gaza, bersiap untuk melaksanakan misi… yang telah diberikan kepada kami oleh pemerintah Israel,” katanya dalam sebuah video.

“Dan hal ini untuk memastikan bahwa Hamas, pada akhir perang ini, tidak akan memiliki kemampuan militer yang dapat mereka gunakan untuk mengancam atau membunuh warga sipil Israel,” ungkapnya.

Orang-orang yang berdiri di atap menyaksikan bola api dan asap membubung di atas sebuah bangunan di Kota Gaza pada 7 Oktober 2023 saat serangan udara Israel yang menghantam gedung Menara Palestina.
Orang-orang yang berdiri di atap menyaksikan bola api dan asap membubung di atas sebuah bangunan di Kota Gaza pada 7 Oktober 2023 saat serangan udara Israel yang menghantam gedung Menara Palestina. (AFP/MAHMUD HAMS)

Baca juga: Israel Gunakan Bom Canggih Penghancur Bunker Hamas di Gaza, tidak Peduli Kerusakan dan Korban Sipil

Disisi lain, Kantor Berita Al Jazeera telah menerima laporan tentang konfrontasi antara pemuda Palestina dan polisi Israel di lingkungan Shuafat di Yerusalem Timur yang diduduki.

Sebuah klip video yang diperoleh, menunjukkan kemungkinan terjadinya baku tembak dan suara tembakan berulang kali.

Belum ada laporan mengenai korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Pada Selasa malam, kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa setidaknya 12 warga Palestina ditembak dan terluka dalam konfrontasi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk di Jericho di mana tiga orang terluka akibat tembakan tajam.

Warga Palestina di Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang diduduki telah melakukan protes dalam beberapa hari terakhir untuk mendukung warga Palestina yang mengalami pemboman hebat di Gaza.

Setidaknya 19 orang tewas di Tepi Barat yang diduduki sejak Sabtu.

Ketika perang memasuki hari kelima, Rabu (11/10/2023), jumlah warga Palestina yang terbunuh meningkat menjadi 900 orang.

Sementara jumlah korban tewas di Israel juga meningkat menjadi 1.200 orang.

Lebih dari 260.000 orang mengungsi di Gaza, dan lebih dari 175.000 orang mengungsi di 88 sekolah PBB, dan jumlah tersebut terus meningkat seiring dengan berlanjutnya serangan udara.

Penyeberangan Rafah di selatan Gaza ke Mesir telah terkena serangan udara.

Bahkan ketika ribuan warga Palestina mencoba melarikan diri di tengah peringatan Israel untuk meninggalkan wilayah Gaza.

Mobilisasi militer massal terus berlanjut di Israel selatan ketika negara tersebut bersiap menghadapi kemungkinan operasi darat di Gaza. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved