Opini

Garis Takdir Capres di Aceh

Dari seluruh “Mumbay politik” itu yang paling dramatis adalah hengkangnya Demokrat sebagai pendukung Anies, dibandingkan keluarnya Muhaimin sebagai pe

Editor: mufti
Serambi
Teuku Kemal Fasya, dosen Fisipol Universitas Malikussaleh. 

Makanya ketika Partai Aceh kembali setia pada pilihan mendukung Prabowo pada kali ini bukan lagi cerita pungguk merindukan bulan atau keledai jatuh di lubang yang sama. Bisa jadi ini harapan yang menjadi kenyataan. Akhirnya Aceh tak selalu salah dalam memilih calon presiden.

Namun, hitungan Prabowo akan mulus menjadi presiden tidak bersifat serta merta. Hal itu hanya akan linear jika variabelnya tunggal dan statis. Masih ada faktor lain yang menentukan kemenangan, yaitu jika peran partai-partai politik pendukung menjadi praetorian dan gladiator, dibanding pengatur dari kejauhan atau otak-atik di atas kertas.

Penulis memang belum menemukan data kuantitatif yang bisa dijadikan cara mengukur para pemilih di Aceh. Namun, demi melihat respons netizen di media sosial, preferensi pemilih non-partisan cenderung kepada Anies sebagai the next president. Kesukaan pada Anies masuk dalam lingkup kosmologi-antropologi masyarakat Aceh yang senang pada hal-hal berbau Arab. Kakek Anies Baswedan adalah pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) pada 1934 dan menjadi perintis kemerdekaan Indonesia. Islam sekaligus Arab tulen!

Jangan lupa, majunya NasDem sebagai pengusung utama Anies akan memberikan kelimpahan elektoral berdasarkan teori efek ekor jas (coat-tail effect). Bergabungnya Nasdem-PKB dalam satu koalisi juga bukan sesuatu yang aneh karena keduanya pernah bersatu di rumah pendukung Jokowi.
Sayangnya, sejumlah hasil survei yang sudah dirilis belum cukup positif bagi Anies. Ia masih terbanting-banting ketika diadu head to head, baik melawan Prabowo atau Ganjar. Garis piramida masih menjadikan Anies sebagai alas sandar.

Meskipun demikian, Anies juga pernah melawan “takdir” ketika pada survei calon gubernur Pilkada DKI 2017, dianggap tak cukup kuat bersaing dengan Ahok dan AHY, malah menjadi sosok yang tertawa paling akhir.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved