KUPI BEUNGOH
Peta Jalan Baru Karier Guru Indonesia
Guru kini diharapkan menjadi pembelajar sepanjang hayat, pemimpin pembelajaran, sekaligus agen transformasi sosial.
Penulis: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Pendidikan Indonesia sedang berada pada persimpangan penting. Perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan tuntutan global menuntut peran guru yang jauh melampaui fungsi tradisional sebagai pengajar di kelas.
Guru kini diharapkan menjadi pembelajar sepanjang hayat, pemimpin pembelajaran, sekaligus agen transformasi sosial.
Dalam konteks inilah, Indonesia membutuhkan peta jalan baru karier guru yang lebih adaptif, berkeadilan, dan berorientasi pada kualitas pembelajaran serta dampak nyata bagi peserta didik.
Selama bertahun tahun, jalur karier guru di Indonesia cenderung bersifat administratif dan linier.
Kenaikan pangkat lebih banyak ditentukan oleh masa kerja, kelengkapan dokumen, dan angka kredit, bukan oleh kualitas praktik mengajar atau kontribusi nyata terhadap peningkatan pembelajaran.
Akibatnya, banyak guru merasa karier mereka stagnan, kurang dihargai secara profesional, dan tidak memiliki insentif kuat untuk berinovasi.
Peta jalan baru harus mengubah paradigma ini: dari karier berbasis jabatan menjadi karier berbasis kompetensi dan dampak.
Baca juga: Aceh Bersiap Punya RS Pendidikan Tanggap Bencana, USK dan JICA Matangkan Rencana Pembangunan
Peta jalan baru karier guru Indonesia perlu dimulai dari penguatan fondasi profesi.
Rekrutmen guru harus semakin selektif dan berorientasi pada panggilan profesional, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan tenaga kerja.
Lulusan pendidikan guru perlu dibekali tidak hanya dengan pengetahuan pedagogik, tetapi juga kemampuan refleksi, literasi digital, pemahaman sosial budaya, serta keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif.
Program induksi bagi guru pemula menjadi tahap penting untuk menjembatani teori dan praktik, dengan pendampingan mentor berpengalaman yang diakui secara profesional.
Tahap berikutnya dalam peta jalan karier adalah pengembangan guru sebagai praktisi ahli.
Guru tidak lagi dipandang sebagai pelaksana kurikulum semata, melainkan sebagai perancang pengalaman belajar yang bermakna.
Pada tahap ini, sistem pengembangan profesional berkelanjutan harus bersifat personal, relevan, dan berbasis kebutuhan nyata di kelas.
| Antara Kebijakan dan Kriminalisasi: Membaca Kasus Gus Yaqut dengan Jernih |
|
|---|
| Dari Thaif ke Aceh: Makna Isra Mikraj di Tengah Bencana |
|
|---|
| Jaga Marwah USK: Biarkan Kompetisi Rektor Bergulir dengan Tenang dan Beradab |
|
|---|
| Banjir Aceh yang Menghapus Sebuah Kampung |
|
|---|
| Serambi Indonesia Cahaya yang tak Padam di Era Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta.jpg)