Presiden AS Dukung Berdirinya Negara Palestina, tetapi Hamas Harus Dihancurkan Terlebih Dahulu

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengaku mendukung berdirinya sebuah negara untuk warga Palestina.

Editor: Amirullah
AFP
Presiden AS Joe Biden 

SERAMBINEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengaku mendukung berdirinya sebuah negara untuk warga Palestina.

Namun, Biden mengatakan kelompok militan Hamas yang kini berada di Gaza harus dihancurkan terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Biden saat wawancara dalam program 60 Minutes yang ditayangkan pada hari Minggu, (15/10/2023).

Dalam program itu Biden kembali mengecam serangan tiba-tiba Hamas ke Israel pada hari Sabtu, (7/10/2023).

"Kita berkata kepada dunia: Ini gawat. Bahkan, ini bukan perilaku yang manusiawi. Itu barbarisme sepenuhnya," kata Biden dikutip dari Business Insider.

Dia juga menyebut bahwa Hamas harus dilenyapkan sepenuhnya.

"Ya, (harus dilenyapkan). Namun, harus ada sebuah otoritas Palestina. Harus ada jalan ke arah berdirinya negara Palestina."

Biden menyinggung "solusi dua negara", yakni negara Israel dan negara Palestina untuk mengatasi konflik di sana.

Akan tetapi, Biden mengakui bahwa Israel tak akan bersedia menerima solusi dua negara setelah Hamas melancarkan serangan.

Dia meyakini Israel paham bahwa "sebagian besar warga Palestina memiliki pandangan yang berbeda dengan Hamas dan Hisbullah".

Dalam wawancara itu Biden menyindir Hamas sebagai "pengecut".

"Mereka (Israel) harus mengejar Hamas. Hamas adalah sekelompok pengecut. Mereka bersembunyi di balik warga sipil. Mereka menempatkan markas mereka di tempat warga sipil."

Di sisi lain, Biden memperingatkan Israel untuk tidak menduduki Gaza. "Jika Israel menduduki Gaza lagi, itu akan menjadi kesalahan," katanya.

Israel pernah menduduki wilayah Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem Timur saat perang tahun 1967. Israel menarik pasukan dan warganya dari Gaza pada tahun 2005.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengumumkan pihaknya mengerahkan kapal induk kedua AS ke Laut Tengah bagian timur.

Pengerahan itu untuk menghalangi pihak-pihak yang ingin membuat perang melebar.

"Kapal induk ini ditemani oleh kapal perang dan jet tempur. Setiap upaya dilakukan untuk mencegah perang itu menjadi konflik regional," kata seorang pejabat AS.

Dia turut menyinggung Iran yang berpotensi ikut campur. "Iran adalah masalah besar," katanya.

Biden juga sudah meminta Iran untuk tidak membuat situasi makin panas.

Pada hari Sabtu, Biden berbicara dengan Netanyahu dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas lewat panggilan telepon terpisah.

Menurut kantor Netanyahu, PM Israel itu berkata kepada Biden bahwa diperlukan "persatuan dan tekad" untuk melawan Hamas. Dia berterima kasih kepada Biden atas dukungannya.

Adapun kantor Abbas mengatakan pempimpin Palestina itu berkata kepada Biden bahwa dia menolak evakuiasi warga Palestina dari Gaza.

Israel minta warga Palestina mengevakusi diri

Warga Gaza utara diminta mengevakuasi

Warga Palestina beramai-ramai meninggalkan wilayah Gaza bagian utara setelah militer Israel meminta 1,1 juta orang mengevakuasi diri dari sana.

Ultimatum Israel itu disebut menjadi tanda bahwa akan ada serangan darat terhadap Hamas.

Akan tetapi, ultimatum tersebut dikritik oleh PBB. Menurut PBB, upaya mengevakuasi seluruh warga Gaza utara justru bisa mendatangkan bencana.

PBB kemudian meminta Israel untuk mencabut ultimatumnya. Akan tetapi, PBB menyebut sudah ada puluhan ribu warga yang meninggalkan Gaza utara.

Di pihak lain, Hamas meminta warga Palestina untuk mengabaikan ultimatum Israel. Hamas menyebut perintah Israel itu sebagai "perang psikologis".

Menurut Hamas ultimatum tersebut bertujuan untuk mengganggu solidaritas warga Palestina. Namun, tidak ada tanda bahwa Hamas melarang evakuasi itu.

Juru bicara Israel, Jonathan Conricus, menyebut militer Israel akan berusaha untuk tidak membahayakan warga sipil. Dia menyebut warga sipil akan diizinkan kembali ke rumah setelah perang usai.

Israel kerap menuding Hamas menggunakan warga sipil Palestina sebagai tameng. Oleh karena itu, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan Israel ingin memisahkan militan Hamas dari warga sipil.

"Jadi, yang ingin menyelamatkan diri, tolong pindah ke selatan," kata Gallant saat konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin dikutip dari Associated Press.

(Tribunnewswiki)


Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com

Baca juga: Kagumi Gibran Jadi Alasan Mahasiswa UNSA Ajukan Gugatan Usia di Bawah 40 Tahun Bisa Daftar Pilpres

Baca juga: Misteri Bagaimana Hamas Bisa Masuki Wilayah Israel Mulai Terungkap, Ada Terowongan di Bawah Gaza

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved