Opini
Rokok dan Kemiskinan
KEMISKINAN adalah isu yang tak akan pernah selesai untuk didiskusikan bahkan seluruh organ pemerintahan yang dibangun, baik di pusat maupun di daerah
Dr Drs H Nadhar Putra MSi, ASN Pemerintah Aceh
KEMISKINAN adalah isu yang tak akan pernah selesai untuk didiskusikan bahkan seluruh organ pemerintahan yang dibangun, baik di pusat maupun di daerah bertujuan untuk mengenyahkan musuh bersama ini. Musuh bebuyutan yang telah ada sejak zaman kolonial, pra kemerdekaan, awal kemerdekaan dan hingga kini masih tetap eksis sejalan dengan perkembangan ekonomi bangsa ini.
Judul artikel ini memang debatable terutama bagi para perokok aktif yang sehari-hari membelanjakan penghasilannya untuk merasakan nikmatnya kepulan asap dari pembakaran tembakau. Namun sesungguhnya artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan tabiat mengonsumsi rokok sebagai salah satu penyumbang kemiskinan, namun analisis korelasi ini lebih difokuskan pada pemenuhan rokok sebagai salah satu jenis komoditas kebutuhan masyarakat. Lebih jauh lagi, ternyata selama ini rokok dengan cukainya telah menjadi sumber pemasukan negara yang relatif besar.
Penyumbang kemiskinan
Rokok atau lebih khusus rokok kretek filter adalah penyumbang kemiskinan kedua tertinggi di Indonesia, setelah beras. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2023 yang dirilis pada bulan Juli 2023. Pada periode Maret 2023, komoditas makanan menyumbang garis kemiskinan sebesar 73 persen di perkotaan dan 76,08 persen di pedesaan.
BPS mencatat, komoditas makanan yang menyumbang garis kemiskinan terbesar di Indonesia adalah beras sebesar 19,35 persen di perkotaan dan 23,73 persen di pedesaan. Rokok kretek filter menjadi komoditas makanan penyumbang garis kemiskinan kedua dengan 12,14 persen di perkotaan dan 11,34 persen di pedesaan.
Angka itu bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah komoditas lainnya, seperti telur, mi instan, dan kopi. Telur ayam ras menyumbang garis kemiskinan di perkotaan sebesar 4,53 persen dan 3,34 persen di pedesaan.
Sementara mi instan menyumbang garis kemiskinan 2,56 persen di perkotaan dan 2,24 persen di pedesaan.
Jenis-jenis komoditas makanan yang menyumbang kemiskinan perkotaan di Indonesia: beras 19,35 persen; rokok kretek filter 12,14 persen; daging ayam ras 4,53 persen; telur ayam ras 4,22 persen; mi instan 2,56 persen; kopi 2,00 persen; roti 1,95 persen; bawang merah 1,90 persen; kue basah 1,85 persen; tempe 1,77 persen ; tahu 1,71 persen; gula pasir; 1,69 persen dan lainnya 17,33 persen.
Sedangkan jenis komoditas makanan yang menyumbang kemiskinan di perdesaan: beras 23,73 persen; rokok kretek filter 11,34 persen; telur ayam ras 3,34 persen; daging ayam ras 2,93 persen; gula pasir 2,35 persen; mi instan 2,24 persen; bawang merah 2,12 persen; kopi 1,87 persen; roti 1,86 persen; cabai rawit 1,84 persen; tongkol/tuna/cakalang 1,78 persen; kue basah 1,76 persen dan lainnya sebesar 18,92 persen.
Dalam pengukuran kemiskinan ini, BPS menggunakan konsep World Health Organization (WHO) tentang kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dalam pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.
Garis kemiskinan (GK) terdiri atas dua komponen, yakni Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan.
GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kalori per kapita per hari. Sementara GKBM adalah kebutuhan minuman untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.
Tertinggi di dunia
Sejak zaman dahulu, merokok sudah menjadi kegemaran dari jutaan masyarakat Indonesia. Kecanduan rokok terlihat dari banyaknya perokok di warung kopi, kafe, tongkrongan pinggir jalan, bahkan di fasilitas umum seperti halte dan taman. Budaya merokok di Indonesia ternyata telah dikonfirmasi data resmi World of Statistcs yang menyebut persentase jumlah perokok pria dari seluruh warga pria Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia.
Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 bahkan menunjukkan adanya peningkatan perokok di tengah pandemi covid-19. Jumlah perokok dewasa bertambah 8,8 juta orang dalam 10 tahun dari 60,3 juta orang menjadi 69,1 juta orang pada tahun 2021. Bahkan sering kali perokok pria rela untuk mengurangi kebutuhan pokoknya, seperti membeli makanan, produk bergizi, dan kebutuhan primer lainnya.
Senada dengan World of Statistcs, Kementerian Kesehatan R.I juga menyatakan bahwa rokok menjadi pengeluaran belanja terbesar kedua pada orang miskin. Bahkan, pengeluaran rokok lebih tinggi dibanding pengeluaran makanan bergizi. Tidak hanya itu, BPS mencatat pengeluaran rokok per kapita secara bulanan juga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Data menunjukkan pengeluaran rokok per kapita per September 2022 menyentuh Rp 85,6 ribu per kapita. Dengan puluhan juta konsumen, tidak heran kemudian jika rokok menentukan gerak inflasi Indonesia. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), rokok hampir selalu masuk sebagai lima besar penyumbang inflasi setiap tahunnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/nadhar-809.jpg)