Opini
Genosida di Gaza Ironi Korban Pers Barat di Indonesia
Israel terbentuk pada 1948 sepenuhnya atas keinginan Inggris dan didukung oleh Amerika. Sebagai organ penggema suara Barat, selain diplomasi, maka per
Menurut laporan (Euro-Med Human Right Moniter), sejumlah bom yang telah dijatuhkan Israel terhadap Gaza sekarang sama dengan seperempat kekuatan sebuah bom nuklir.
Bom berkekuatan seperempat sebuah nuklir ini tidak memandang target perang yaitu tentara atau milisi. Israel menjatuhkan bom itu dengan target tidak pandang bulu. Data terakhir per 24 Oktober 2023 yang dirilis saluran berita Aljazeera 5.791 warga Palestina tewas. Dari jumlah tersebut sekitar 40 persen para korbannya adalah anak-anak serta 14.000 lebih luka-luka.
Tidak ada bangsa yang disebut sangat peduli kepada nilai-nilai kemanusiaan menarget anak-anak dalam perang. Kecuali kaum biadab. Perang itu ada hukumnya yaitu hukum perang yang tidak membenarkan menarget kaum sipil yang tidak bersenjata. Tidak bisa menarget perempuan dan anak-anak. Tapi Israel mengabaikannya semua pasal-pasal hukum perang ini dan memilih memperagakan kekejaman ala Israel di depan hidung warga dunia.
Hamas bukan teroris
Tindakan Israel yang melanggar semua hukum perang ini justru diterima dengan senang hati pers Barat, dan mengabsahkan pembantaian Gaza ini dengan menampilkan gambar sebanyak mungkin tentang roket Hamas jatuh ke Israel, dan sebaliknya menampilkan seminim mungkin berton-ton bom Israel menghantam Gaza.
Ketika ada laporan tentang ribuan anak-anak Palestina tewas, pers Barat menampilkan satu bocah Israel yang terluka karena korban serangan Hamas. Satu bocah Israel terluka, maka dengan demikian boleh membantai semua bocah Palestina.
Saya ingin menjelaskan serangan Hamas itu terhadap Israel itu bukan tanpa alasan dan bukan tindakan kalap seperti dimanipulasi media Barat. Tapi itu adalah upaya bangsa Palestina untuk melepaskan diri dari pendudukan (penjajahan) Israel. Sama seperti bangsa Indonesia yang berjuang mempertahankan diri dari agresi Belanda pada tahun 1948.
Para pejuang rakyat bahu-membahu bersama dengan para pemimpinnya seperti Bung Karno untuk menolak dijajah kembali oleh Belanda. Karena penjajahan itu pahit dan sangat menderita. Para pejuang rakyat dan Bung Karno itu bukan teroris. Tapi mereka adalah pejuang.
Bangsa Palestina itu kini berjuang untuk melepaskan diri dari pendudukan Israel yang pahit dan penuh penderitaan. Maka para pejuang Palestina itu seperti Hamas bukan teroris. Tapi mereka pejuang.
Masyarakat dunia kini telah dicuci otak oleh pers Barat: pihak tertindas Palestina menjadi dibenci, penindas Israel justru dicintai. Sejumlah orang Indonesia, yang terburu-buru seperti Uni Emirat Arab, Bahrain dan beberapa negara Arab lain, juga ingin menjalin hubungan diplomatik degan Israel. Pasti orang Indonesia ini sudah tercuci otak oleh media Barat: ingin membenci yang tertindas dan menyintai penindas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Taufiqulhadi-OKE.jpg)