Sabtu, 11 April 2026

Opini

Genosida di Gaza Ironi Korban Pers Barat di Indonesia

Israel terbentuk pada 1948 sepenuhnya atas keinginan Inggris dan didukung oleh Amerika. Sebagai organ penggema suara Barat, selain diplomasi, maka per

Editor: mufti
IST
Teuku Taufiqulhadi, Ketua DPW NasDem Aceh dan pemerhati masalah Timur Tengah 

Teuku Taufiqulhadi, Ketua DPW NasDem Aceh dan pemerhati masalah Timur Tengah

KINI semakin banyak orang Indonesia yang mengalami euforia Arab Saudi dan Negara Teluk lainnya; ingin membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Tapi apakah mereka benar-benar paham siapa sesungguhnya Israel itu? Negara Israel yang muncul dalam pikiran semua orang di berbagai belahan dunia adalah hasil pencitraan berbagai media Barat. Secara kebetulan Israel itu merupakan hasil kreasi Barat.

Israel terbentuk pada 1948 sepenuhnya atas keinginan Inggris dan didukung oleh Amerika. Sebagai organ penggema suara Barat, selain diplomasi, maka pers atau media Barat berada di depan yang menyebutkan bahwa pembentukan negara Israel sudah tepat dan suatu keniscayaan karena Israel mendukung nilai-nilai kemanusian tinggi, mendukung demokrasi dan juga eksistensi Israel itu di tanah Palestina telah dibenarkan oleh sejarah.

Pejuang hak-hak kulit hitam Amerika paling terkenal, Malcolm X pernah mengatakan, "Jika engkau kurang hati-hati, surat kabar itu bisa menjadikan orang tertindas sebagai pihak yang paling dibenci, dan pihak penindas justru menjadi orang-orang paling dicintai."

Media, dalam segala bentuk dan pola, merupakan organ paling powerful. Ia memiliki kekuatan untuk membentuk opini dan persepsi, juga membangkitkan berbagai emosi yang kuat. Polanya melalui naratif framing  seperti memilih kata-kata tertentu yang spesifik dan menampilkan gambar yang memotret suatu fenomena tertentu.

Sebagai mantan reporter, saya harus mengatakan, media dari semua negara mengabdi kepada nilai-nilai negaranya dan ada agendanya. Tidak ada media yang bebas nilai. Media Barat mengabdi kepada nilai-nilai Barat dan agenda Barat. Taruhlah cerita tentang serangan Hamas terhadap Israel sekarang ini.

Media Framing

Jika kita perhatian dengan seksama bahasa yang digunakan oleh media Barat, jelas itu merupakan bahasa yang tidak mewakili realitas, dan serangan Hamas itu seakan suatu fenomena yang berdiri sendiri dan muncul mendadak dari perut bumi kemudian menerpa orang-orang baik pengabdi kepada nilai kemanusiaan luhur dan pendukung demokrasi di Israel.

Tindakan Hamas itu, dalam framing mereka, tindakan kalap yang tidak diketahui alasan sama sekali dan tidak dapat dipahami kenapa harus menargetkan orang baik-baik.

Dengan demikian narasi yang digunakan pun dalam konteks itu segera sudah dapat diduga seperti kata-kata "serangan tidak beralasan", "amukan buas"", dan "serangan teroris". Kata-kata itu digunakan secara merata di seluruh media Barat untuk menggambarkan serangan Hamas terhadap Israel yang membuat 400 orang Israel tewas.

Pilihan kata-kata tersebut bukan tidak ada artinya. "Serangan tidak beralasan" ditujukan agar semua orang melupakan akar konflik Palestina-Israel. Jika tersibak akar konflik tersebut, jelaslah bahwa tindakan Hamas tersebut bukan tidak beralasan, justru sangat jelas sangat berasalan. Latar belakangnya karena Israel telah merampok tanah orang Palestina. Menduduki tanah Palestina itu bukan bahasa orang Arab tapi itu klaim PBB.

Dalam Resolusi PBB, Tepi Barat adalah daerah pendudukan, dan Israel harus kembali ke tapal batas tahun 1948. Sementara, menurut PBB, Yerusalem tidak boleh diubah statusnya menjadi milik Israel tapi tetap milik Palestina. Jadi serangan Hamas itu tidak terjadi di atas kanvas kosong. Ia bukan sebuah kejadian yang terpisah. Justru itu akan merupakan tindakan tidak adil dan menyimpang jika berusaha memahami tindakan Hamas itu di luar konteks sejarah.

Lebih berbahaya lagi menyebut itu sebagai "serangan teroris", yang bahkan seorang kolumnis Amerika David Roth menyamakan dengan serangan 11 September terhadap WTC New York yang dikenal sebagai  tragedy of 9/11 , dengan pilihan kata "Isarel's 9/11".

Narasi ini sangat berbahaya. Ketika tragedi itu terjadi di Amerika pada tahun 2001, muncul perasaan benci yang sangat tinggi kepada semua orang Arab. Arab, lebih dari sebelumnya, diasosiasikan dengan teroris, kekerasan, serta sejumlah stereotip buruk lainnya. Ekor dari serangan New York tersebut mengabsahkan Amerika untuk menyerbu dan menghancurkan negara-negara Islam dan Arab seperti Afghanistan, Irak dan Libya.

David Roth pasti ingin mengarahkan, dengan serangan Hamas tersebut, bangsa Palestina itu sah untuk diserbu dan dibunuh. Sementara genosida yang dilakukan oleh Israel di Gaza disebutnya sebagai "hak untuk mempertahankan diri". Tentu saja pelukisan ini  seperti membuka pintu secara menganga bagi penyebaran kebencian.Beberapa hari yang lalu, seorang bocah keturunan Palestina berusia enam tahun dibunuh secara keji oleh pria di Illinois, Amerika. Pembunuh berdarah dingin pasti telah tercuci otaknya oleh media Barat dan penulis semacam David Roth. Persoalan penting telah dikesampingkan secara brutal oleh media-media ini: bagaimana hak kaum Palestina untuk mempertahankan diri?
Rakyat Palestina ini berpuluh-puluh tahun lamanya telah mengalami penderitaan tak terbayangkan bawah pendudukan Israel. Bangsa Palestina, sebagaimana bangsa Amerika yang melepaskan diri jajahan Inggris pada tahun paruh akhir 1770-an, juga ingin melepaskan diri dari penindasan dan penderitaan karena diduduki oleh Israel. Tapi tidak ada orang yang mengakui hak-hak bangsa Palestina untuk merebut kembali dan melindungi diri mereka sendiri dari pendudukan Israel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved