Opini

Caleg dan Iklan Politik

Di media massa cetak maupun elektronik, iklan-iklan politik terus menghujani Republik ini. Di pinggir jalan raya, pohon-pohon, tiang listrik, WC umum,

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/ FOR SERAMBINEWS
Dr Phil Munawar A Djalil, Pegiat dakwah dan pemerhati politik, tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh 

Ia harus bisa mendagangkan ide, visi, misi image diri dan segala hal yang layak ia ajukan agar orang benar-benar percaya. Pada sisi lain iklan adalah janji para calon untuk melakukan sesuatu yang diharapkan konstituennya ketika dia duduk di kursi empuk jabatan. Masalahnya adalah banyak orang yang menyampaikan iklan politik, namun setelah yang dikejarnya tercapai, ia lupa pada janji-janji sebelumnya. Sebuah kalimat penuh hikmah menyebutkan: “Barang siapa gembira dengan kata-kata penuh tipuan, maka penjelasan yang terlambat akan memberikan hukuman yang memalukan.” (Phaedrus).

Faktanya, dari media massa dapat kita baca dan tonton orang yang dulunya berjanji memperjuangkan rakyat, satu persatu diproses hukum. Kenapa ini terjadi?
Pertama, mereka tidak paham bahwa janji itu adalah utang, bagi mereka untuk kedudukan prestisius. Obral janji tidak masalah bagi mereka, yang penting mereka bisa yakinkan konstituen bahwa mereka sosok yang layak dipilih. Kedua, sebagian mereka menjadi anggota dewan misalnya kesempatan lowongan kerja, sejak reformasi peluang membuat partai dan menjadi caleg sangat terbuka, pendidikan pun tidak mesti sarjana. Yang diperlukan adalah kemampuan menguasai massa dan meyakinkan orang lain. Ini relatif lebih mudah dan lebih berpeluang dari pada menjadi PNS atau pegawai swasta, kadang-kadang syarat sarjana sangat diutamakan.

Dalam konteks di atas akhirnya banyak orang yang masuk partai politik tidak didasarkan idealisme ideologi tetapi hanya didasarkan pertimbangan pragmatis, akibatnya ikatan kepada partai tidak kuat, loyalitas kepada partai kalau diuntungkan, konsekuensi logisnya ketika tidak diuntungkan oleh partai dia berani jadi “kutu loncat” menyeberang ke partai lain. Karenanya tidak heran di Aceh banyak kutu loncat di dunia politik, ada yang dari partai nasional ke partai lokal ataupun sebaliknya. Sejatinya kalau dalam dunia dagang mereka itu  “produk lama kemasan baru”.

The last but not least, tidak muluk-muluk, harapan masyarakat kepada para caleg hanya satu yaitu untuk tidak melupakan janjinya seperti dalam iklan politik yang mereka buat manakala mereka sudah mendapatkan amanah; tidak melakukan korupsi, menjadi “pedagang politik” yang jujur, tidak menyakiti rakyat, tidak diam dan tidur ketika sidang soal rakyat. Wallahu’alam Bissawab.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved