Opini
Caleg dan Iklan Politik
Di media massa cetak maupun elektronik, iklan-iklan politik terus menghujani Republik ini. Di pinggir jalan raya, pohon-pohon, tiang listrik, WC umum,
Dr Phil Munawar A Djalil, Pegiat dakwah dan pemerhati politik, tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh
KALAU tidak ada aral melintang pada 14 Februari 2024 nanti, pesta demokrasi Pemilihan Umum akan digelar. Terutama para Calon Legislatif (Caleg) sedang mempersiapkan dirinya untuk bertarung dalam kompetisi politik itu. Berbagai cara mereka lakukan untuk mendominasi pemilihan nanti. Untuk maksud tersebut tayangan iklan para calon pun dapat dilihat hampir disudut-sudut kota dan gampong sebagai rangkaian dari dagangan politik (political marketing). Tidak ada yang salah dagangan politik para calon yang tujuannya tidak lain untuk “menjajal” dirinya agar nanti dikenal dan dipilih.
Kata iklan yang berasal dari bahasa Arab ini (I’lan) bermakna menyampaikan, menyatakan lawan dari menyembunyikan. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata iklan dapat diartikan sebagai pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang dan jasa yang dijual, dipasang di media massa seperti surat kabar dan majalah atau di tempat umum. Di samping iklan itu juga bermakna berita pesanan untuk mendorong membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan.
Tayangan iklan saat ini menjadi bagian dari kehidupan modern, hampir tidak ada sisi kehidupan kita yang tidak terlepas dari iklan. Di bidang pendidikan misalnya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang menjual diri mereka melalui media iklan agar orang tertarik mengikuti jasa pendidikan yang mereka kelola. Iklan juga digunakan untuk menyampaikan ucapan selamat atau duka cita, tujuannya paling tidak adalah untuk ikut merasakan apa yang dirasakan pihak yang menjadi objek iklan.
Kadang-kadang juga layaknya pariwara, iklan mempunyai kecenderungan manipulatif. Ia mengemas produknya yang menyelimuti kekurangan agar konsumen tertarik meskipun produk yang ditawarkan mungkin hanya mempunyai kualitas yang standar. Karenanya sering kali iklan dapat mengecoh, bahkan kadang-kadang menyesatkan konsumennya. Media advertensi pun bermacam-macam, mulai dari spanduk, baliho, papan bunga hingga media massa. Pendek kata kita hidup dalam “Republik Iklan”.
Menariknya iklan bahkan telah memasuki ranah politik. Dalam suhu politik yang semakin menghangat seperti saat ini dimana-mana kita menemukan iklan-iklan. Tidak ada satu ruas jalan pun yang tidak diisi oleh iklan-iklan nuansa politik. Iklan politik salah satu rangkaian penting dari political marketing, dalam memasarkan/mendagangkan cita-cita politik untuk mendapat dukungan publik.
Malahan puluhan Parpol sangat memerlukan instrumen, strategi untuk mewujudkan ideologi partainya itu. Iklan politik mirip dengan reklame produk komersial, tujuannya adalah membuat citra tokoh sebagai pilihan yang tepat. Contoh lebih dekat reklame produk rokok yang membanjiri Republik ini, semua produk rokok menawarkan iklan dengan citra rasa yang beragam.
Perbedaannya adalah iklan komersial memperkenalkan barang dagangan yang dikonsumsi secara pribadi dan tidak akan mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Sedang iklan komoditas politik adalah tokoh atau partai politik yang akan menerima mandat kekuasaan dari rakyat, sehingga iklan politik berpengaruh besar terhadap nasib dan masa depan bangsa.
Di media massa cetak maupun elektronik, iklan-iklan politik terus menghujani Republik ini. Di pinggir jalan raya, pohon-pohon, tiang listrik, WC umum, terminal atau dimana saja hampir penuh oleh iklan politik.
Bahkan ada di sebatang pohon atau dinding toko beberapa orang caleg tampak “kompak” tampil bareng. Lucunya lagi ada calon berjalan di kendaraan umum seperti becak mesin dll. Dagangan politik semacam itu tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan demokratis di negara kita.
Singkatnya, para calon yang bertarung dalam Pemilu 2024 nanti mudah sekali kita temukan di mana-mana. Tiap meter jalan khususnya di Aceh dihiasi oleh wajah-wajah para Caleg , mulai dari yang terkenal, yang dikenal, sepertinya kita kenal, hingga yang tidak dikenal sama sekali.
Wajah-wajah mereka menyapa kita dalam berbagai bentuk dan ukuran dan ditambah dengan bermacam atribut lainnya. Isi iklan politik pun beragam; Ada mohon dukungan dan doa restu, perjuangan belum selesai, anak muda yang jujur dan amanah, ada yang mengklaim pembawa aspirasi rakyat, ada yang menyatakan sebagai pembawa amanah rakyat, ada yang berjuang bersama rakyat, ada juga yang menyatakan dirinya anak dari polan bin polan.
Komunikasi politik
Iklan politik adalah bagian dari komunikasi politik, iklan politik memainkan peranan penting dalam memperkenalkan caleg kepada publik. Tidak mungkin orang akan memilih orang lain yang tidak ia kenal. Iklan politik terbukti menjadi sarana ampuh membentuk dan menggiring persepsi masyarakat. Iklan politik dapat mengubah politisi “cilet-cilet” menjadi pemimpin karismatik. Ironi yang terjadi saat ini justru sebuah fenomena politik, calon yang bekerja keras, kapabel terpaksa kalah dari mereka yang popular.
Iklan politik akan positif jika disertai dengan gagasan utuh, memerhatikan etika sehingga ia menjadi sebuah sarana yang cukup efektif untuk melakukan promosi politik. Iklan politik bukan hanya sekadar promosi tokoh, tetapi juga bagian dari upaya mewujudkan peradaban bangsa dan integritas seorang politisi. Karena politik tanpa moral hanya akan melahirkan “serigala-serigala” yang akan saling memakan. Karenanya iklan politik harus dapat menjelaskan gagasan secara utuh kepada masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/munawar-a-djalil-78.jpg)