Kupi Beungoh

Parahnya Pasar Unggas Kita

Bercampurnya berbagai jenis unggas hidup, pembeli yang bebas memilih dan membeli unggas, baik langsung dipotong di depannya atau untuk dibawa pulang.

Editor: Yeni Hardika
FOR SERAMBINEWS.COM
Azhar Abdullah Panton, Dokter Hewan/Pemerhati Masalah Kesehatan Masyarakat. 

Oleh: Azhar Abdullah Panton

Sebagai tempat transaksi jual beli berbagai jenis unggas (ayam, itik, entok, angsa dan burung peliharaan), sebagian besar pasar unggas di Indonesia masih berwujud pasar unggas hidup.  

Letaknya juga tidak khusus, tapi masih berbagi lokasi dengan padagang lain yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Sifatnya pun masih tradisional dan multi fungsi.

Maksudnya, dilokasi yang sama ada tempat penampungan unggas, tempat pemotongan unggas dan sekaligus tempat penjualan unggas dan produknya.

Gambaran pasar unggas kita tercermin dari kondisi berikut.

Bercampurnya berbagai jenis unggas hidup, pembeli yang bebas memilih dan membeli unggas, baik langsung dipotong di depannya atau untuk dibawa pulang.

Kotoran unggas berceceran dimana-mana, unggas siap potong diletakkan dilantai becek, dan bau yang menusuk hidung.

Selain itu, pembeli bebas lalu lalang, mobil pengangkut leluasa keluar masuk tanpa proses desinfeksi serta kandang penampung yang jorok dan tidak terawat.  

Semua ini adalah gambaran keseharian pasar unggas kita.

Baca juga: Waspadai Penggiringan Rohingya ke Aceh

Fenomena ini memang kerap mewarnai pasar-pasar tradisional yang cenderung masih mengabaikan aspek kesehatan, higiene dan sanitasi lingkungan.

Pedagang juga kurang memperhatikan aspek kebersihan dalam menjajakan  produknya, misal  tempat pembersihan  dan  penjualan ayam yang digunakan masih tidak layak jika ditinjau dari sudut kebersihan.

Daging ayam (karkas) diletakkan di atas lantai sehingga berpotensi tercemar oleh berbagai kuman penyakit.

Kondisi ini semakin diperparah oleh sikap pedagang yang membuang limbah sembarangan serta menggunakan air yang tidak layak untuk mencuci unggas dan produknya.

Kondisi ini tidak sepenuhnya kesalahan pedagang. Perhatian dan pembinaan dari pemerintah melalui instansi terkait masih sangat minim.

Edukasi kepada pedagang dan konsumen masih kurang, sehingga pemerintah terkesan kurang peduli terhadap kesehatan rakyatnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved