Kupi Beungoh
Objektif Menilai Masalah Rohingya
Selain Bangladesh dan Malaysia. Indonesia termasuk negara paling banyak menampung sementara pengungsi Rohingya.
Dianggap terlalu toxic
Hanya saja masalah pengungsi Rohingya kini menuai komentar sinis. Berbagai informasi negatif terhadap pengungsi Rohingya tersiar lewat media sosial.
Tersiar kabar, sikap etnis Rohingya lambat laun mulai memperlihatkan sifat culas ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Kita tidak memungkiri, diantara semua pengungsi etnis Rohingya yang notabene orang asing tentu ada sebagian yang berkarakter menjengkelkan.
Akibat ulah beberapa oknum pengungsi yang seringkali menunjukkan tabiat yang tidak baik, berperilaku buruk, terlibat kriminal, kerap terjadi gesekan dengan warga lokal, akhirnya dianggap tidak pandai berterima kasih, ibarat kata, “dikasih hati, minta jantung”.
Kian kusut lah masalah etnis Rohingya: dipersekusi di negeri sendiri, dianggap toxic di negeri orang.
Dinilai mempunyai karakter toxic, lama kelamaan bertambahlah kemarahan masyarakat Aceh kepada etnis Rohingya.
Puncaknya ketika pengungsi Rohingya yang masuk ke Aceh mendapatkan penolakan dari masyarakat lokal seperti di pesisir Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Aceh Timur.
Masyarakat setempat dengan terpaksa menolak pengungsi Rohingya agar tidak dievakuasi ke darat. Justru ini pemandangan sangat memilukan dilihat dari segi kemanusian.
Terutama mengingat kondisi pengungsi yang terdiri dari kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia.
Nasib baik belum memihak kepada pengungsi Rohingya.
Kita tidak bisa menyalahkan sebagian masyarakat Aceh yang mengambil sikap menolak pengungsi Rohingya.
Mesti paham dengan watak orang Aceh, kalau sudah dilanggar norma, adat istiadat dan melukai perasaannya akan sulit menerima maaf, mendapatkan kepercayaan dan merajut kembali rasa persahabatan itu.
“Ketelanjangan Hidup” Etnis Rohingya
Menjadi pengungsi seperti etnis Rohingya tidaklah mudah. Kondisinya serba salah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akhsanul-Khalis.jpg)