Kupi Beungoh
Objektif Menilai Masalah Rohingya
Selain Bangladesh dan Malaysia. Indonesia termasuk negara paling banyak menampung sementara pengungsi Rohingya.
Bersikap adil
Diskriminasi yang sistemik yang dirasakan etnis Rohingya membentuk alienasi (keterasingan) dalam hal kehidupan sosial, politik dan ekonomi.
Etnis Rohingya terpaksa hidup dengan hukum tribal (kesukuan) yang terbatas dalam komunitas kecil, justru nantinya akan berhadapan dan bertentangan dengan masyarakat asing yang sudah lebih mapan, berperadaban dan modern.
Sebenarnya yang dicari pengungsi etnis Rohingya adalah melanjutkan hidup dengan rasa aman dan dijamin hak-hak asasi mereka (peusiblah untong), seperti tergambarkan dalam lagu “Untong Kamoe Nyoe”.
Seandainya mereka tidak teraniaya oleh pemerintah Myanmar, mendapatkan kehidupan yang layak sebagai manusia, tidak perlu nekat mengambil risiko berlayar ke negara asing dengan membawa anak kecil, perempuan, orang tua dengan mengarungi Samudera Hindia yang ganas.
Selain risiko mati di tengah laut, bertaruh hidup di negara asing juga lebih sulit.
Kondisi putus asa yang dirasakan pengungsi Rohingya semoga menjadi penilaian yang adil dan objektif.
Dan di atas segalanya ada nilai moral dan rasa kemanusiaan. Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, membuat kita tidak bisa berlaku adil.
Tugas masyarakat sebatas memberikan pertolongan darurat dan bersifat sementara sesuai mekanisme yang ada, selebihnya serahkan kepada pihak berwenang terkait pengungsi seperti Kementerian Luar Negeri dan UNHCR.
*)Penulis adalah Akhsanul Khalis Penulis opini dan dosen swasta, Alumni Magister Administrasi Publik UGM, Alumni Magister Administrasi Publik UGM.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akhsanul-Khalis.jpg)