Perang Gaza

Pembebasan Sandera Tahap III: 13 Warga Israel dan 39 Palestina, Hamas Bebaskan Sandera dari Rusia

Ini akan menjadi gelombang ketiga yang dirilis dalam perjanjian gencatan senjata empat hari, kata Diaa Rashwan, kepala Layanan Informasi Negara Mesir

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/instagram
Beberapa tawanan terlihat tersenyum ke arah kamera dan melambaikan tangan kepada anggota al-Qassam sebelum dimasukkan ke dalam mobil ICRC. 

SERAMBINEWS.COM - Mesir mengatakan pihaknya telah menerima daftar 13 warga Israel dan 39 warga Palestina yang dijadwalkan akan dibebaskan pada hari Minggu.

Ini akan menjadi gelombang ketiga yang dirilis dalam perjanjian gencatan senjata empat hari, kata Diaa Rashwan, kepala Layanan Informasi Negara Mesir (SIS), dalam sebuah pernyataan.

“Gencatan senjata berjalan tanpa hambatan,” kata pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa 120 truk bantuan menyeberang dari Mesir ke Gaza pada hari Minggu termasuk dua truk bahan bakar dan dua truk berisi gas untuk memasak.

Dalam perkembangan lain jaringan berita Al Jazeera melaporkan Hamas telah membebaskan sandera yang memiliki kewarganegaraan Rusia.

Baca juga: AS Berupaya Beri Akses Lebih Luas untuk Israel Dapat Senjata Canggih dalam Perangi Gaza

Hamas mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya telah membebaskan seorang sandera yang memiliki kewarganegaraan Rusia di Gaza, dan menambahkan bahwa mereka mengambil tindakan tersebut sebagai apresiasi atas posisi Moskow.

Sementara itu tahanan Palestina yang dibebaskan berbicara tentang pengalamannya di penjara.

Mustafa Shehadeh, seorang tahanan Palestina yang dibebaskan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kondisi penjara memburuk setelah serangan 7 Oktober.

Baca juga: 66 Persen Warga Israel Tolak Netanyahu jadi Perdana Menteri, Imbas Perang dengan Hamas

Shehadeh, yang menghabiskan delapan bulan di penjara, mengatakan bahwa setelah dimulainya perang, perlakuan yang diterimanya menjadi lebih buruk dan para tahanan terputus dari dunia luar.

“Mereka memulai penggeledahan tubuh dan menyita semua apapun dari kami, bahkan alat cukur,” kata Shehadeh.

“Mereka bahkan melarang kami istirahat setiap hari.”

Shehadeh menambahkan, dia melihat seorang narapidana menderita demam tinggi yang tidak mendapat pelayanan kesehatan.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved