Berita Banda Aceh

AJI-WCS Gelar Workshop Lingkungan dan Satwa

Diskusi ini menghadirkan narasumber antara lain Rinaldo, S.Hut, M.Si mewakili Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Sejumlah peserta mengikuti workshop tentang konflik satwa dan manusia, Sabtu (25/11/2023) di Banda Aceh. 

Menurutnya, profesionalisme itu tidak akan tercapai tanpa adanya penguatan kapasitas kepada para jurnalis atau anggota AJI itu sendiri.

Workshop ini, tambah Juli Amin, tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan dari pihak WCS yang konsen dalam isu satwa dan lingkungan.

Kehadiran WCS yang terus menguatkan kapasitas bagi jurnalis merupakan salah satu yang diharapkan oleh AJI. 

“Kami berharap kegiatan ini akan terus berlanjut sehingga jurnalis di Aceh benar-benar mendapat bahan dan ilmu lebih mendalam dalam mengangkat isu lingkungan dan satwa tersebut,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Juli Amin, juga menyampaikan jumlah peserta pada workshop sebanyak 30 orang, 12 orang di antaranya dihadirkan dari daerah atau wilayah yang kerap terjadi konflik manusia dan satwa, seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat, Takengon, Aceh Jaya dan lainnya.

Dari 30 peserta nantinya akan dipilih 10 jurnalis untuk field trip ke Leuser. 

Rinaldo dari BBTNGL sebagai pemateri pertama mejelaskan perbedaan antara TNGL dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dengan tema “Taman Nasional Gunung Leuser -Pengelolaan, Tantangan, dan Harapan”.

Rinaldo turut menayangkan beberapa gambar perbedaan antara wilayah KEL dan BBTNGL serta Kawasan Areal Penggunaan Lain (APL). 

“TNGL terdapat di dua provinsi yaitu Sumatera Utara dan Aceh. Kalau di Sumatera Utara ada Langkat dan Karo. Kalau di Aceh, ada di Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Aceh Selatan.

Terdapat pula museum flora yang sangat tinggi di sini (Aceh),” katanya.

Menurutnya, di Aceh terdapat kambing hutan dan anjing hutan yang sudah jarang terdapat di daerah yang lain. Kekayaan Aceh masih banyak di TNGL.

Terdapat pula tempat wisata atau pusat kunjungan yang masih jadi perhatian terutama di Provinsi Sumatera Utara.

“Dari sekian luas lahan, yang terbuka hanya 4.000 hektare, artinya masih banyak wilayah hutan kita yang belum terbuka.

Padahal, sistem zonasi di TNGL sebisa mungkin tidak dibuka untuk investor masuk, tetapi diprioritaskan untuk masyarakat di sekitar,” tambahnya.  

Namun, dalam perjalanannya pembukaan lahan tersebut muncul kasus negatif antara satwa liar dan manusia yang masuk ke daerah pemukiman penduduk. Maka, seolah-olah satwa itu yang salah karena sudah merugikan atau menjadi “biang kerok” bagi masyarakat.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved