Opini
MTQ Media Mengukur Kesalehan Hati
Dalam situasi dan kondisi apa pun Al-Qur'an tidak boleh dikesampingkan keberadaannya dan tidak boleh dimarginalkan kedudukannya sebagai sebuah kitab s
Dr H Ramly M Yusuf MA, Pensiunan dosen IAIN Langsa
TAHUN 2013 Kabupaten Simeulue ditetapkan sebagai tuan rumah pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Aceh XXXVI setelah setahun yang lalu MTQ XXXV diadakan di Kabupaten Bener Meriah pada 2022. Masyarakat Kabupaten Simeulue dan sekitarnya menyambut momen MTQ XXXVI ini dengan penuh antusias.
Hal ini ditandai dengan melimpahnya pengunjung pencinta Al-Qur'an memadati arena utama MTQ menyaksikan dan mendengarkan lantunan suara indah bacaan Al-Qur'an dari para juara-juara yang datang dari seluruh penjuru Aceh untuk menunjukkan kebolehannya dalam membaca Al-Qur'an di tingkat provinsi kali ini.
Selama sepekan ini di bumi Simeulue ini membahana dan menggema bacaan kalam Ilahi. Di dalam musabaqah yang diadakan dua tahun sekali ini pengunjung dapat menyaksikan berbagai cabang musabaqah, antara lain cabang hafalan Al-Qur'an, penafsiran, penulisan dalam bentuk kaligrafi atau khat indah Al-Qur'an dan berbagai cabang lainnya.
MTQ bukanlah sekadar perlombaan atau acara seremonial mencari qari dan qariah terbaik, Hafizh dan hafizah terbaik atau mencari yang terbaik dari berbagai cabang lainnya. Akan tetapi lebih dari itu MTQ adalah upaya konkret umat Islam yang mengimani Al-Qur'an sebagai kitab pedoman hidup untuk menggali nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung di dalam Al-Qur'an supaya dapat dijadikan pedoman dalam hidup beragama, berbangsa dan bernegara.
Segi lain yang diinginkan dalam MTQ di bumi Simeuleu ini adalah sebagai wahana silaturrahmi dan pendorong bagi para generasi muda Aceh khususnya untuk menumbuhkan kembali spirit mempelajari Al-Qur'an apakah itu dari segi bacaan, hafalan, tulisan indah ayat-ayat Al-Qur'an (kaligrafi) dan lain-lain. Dulu di Aceh kita mendengar istilah magrib mengaji bagi anak-anak umur sekolah.
Tapi sekarang terobosan tersebut tidak berjalan dengan semestinya. Jadi MTQ sebagai upaya mendobrak dan menghidupkan kembali terobosan-terobosan masa lalu yang belum terealisasikan dengan sempurna.
Al-Qur'an bukan hanya konsumsi para santri di dayah, pesantren atau siswa madrasah dan perguruan tinggi agama Islam. Akan tetapi Al-Qur'an berfungsi menjadi hudan linnas (petunjuk bagi umat manusia) seluruhnya, apakah itu seorang muslim atau bahkan non muslim sekalipun. Semuanya mendapatkan siraman petunjuk Al-Qur'an tidak ada kecuali.
Kita kerap bertanya-tanya sendiri mengapa ilmuan-ilmuan di barat berbondong-bondong mengalih kepada agama Islam menjadikan Islam sebagai kendaraannya dalam menuju ketenangan hati? Jawabnya tidak ada lain adalah Al-Qur'an. Dengan kelebihan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, mereka cerna dan pelajari samudera kandungan Al-Qur'an sehingga akhirnya terbuka selubung hidayahnya. Begitu orang yang berada di luar Islam mempelajari Al-Qur'an.
Sebagai petunjuk
Betapa lagi bagi seorang muslim Al-Qur'an wajib dipelajari dihayati, dan diamalkan di alam nyata. Al-Qur'an harus dipelajari oleh setiap lapisan masyarakat, baik di tingkat rendah maupun di level yang lebih tinggi, rakyat biasa dan kelas pejabat. Semuanya tidak terkecuali perlu kepada sentuhan al-Qur'an.
Dalam situasi dan kondisi apa pun Al-Qur'an tidak boleh dikesampingkan keberadaannya dan tidak boleh dimarginalkan kedudukannya sebagai sebuah kitab suci dan petunjuk. Baik di masa perang maupun di masa damai di masa sulit dan di masa lapang kita tetap membutuhkan Al-Qur'an namun banyak orang yang tidak menyadarinya.
Dalam Al-Qur'an terdapat perintah yang sangat konkret dalam rangka menerapkan prinsip-prinsip keadilan yang kepada seorang pemimpin. Banyak ayat yang menuntun ke arah tersebut. Di antaranya terdapat dalam surah An-Nisa' ayat 58 yang artinya: Allah menyuruh kamu menunaikan amanah kepada pemiliknya. Bila kamu memutuskan suatu perkara maka putuskanlah perkara tersebut dengan seadil-adilnya Sungguh itu nasehat Allah yang paling berharga bagi kamu. Sungguh Allah Maha mendengar dan maha melihat.
Orang yang tidak menerapkan prinsip keadilan dan kejujuran berarti ia telah mengkhianati dan mengusik nilai-nilai Al-Qur'an dan meruntuhkan martabat kemanusiaan. Bukankah nilai-nilai Al-Qur'an mutlak kebenarannya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al.Baqarah ayat 147 yang artinya: Kebenaran itu mutlak datangnya dari Tuhanmu, oleh karena itu janganlah kamu menaruhkan keraguan terhadap kebenaran itu sedikitpun.
Bisa dibayangkan bagaimana arah masa depan negara dan bangsa ini kalau rakyat meluluskan pemimpin yang tidak jujur dan tidak adil tentu pada gilirannya akan suburlah praktik kedhaliman dan kepalsuan yang ujung-ujungnya rakyatlah kena getahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-H-Ramly-M-Yusuf-MA-Pensiunan-dosen-IAIN-Langsa.jpg)