Kajian Islam
Apa Hukum Mengucapkan Selamat Natal dalam Islam? Begini Penjelasan Buya Yahya
Pertanyaan terkait bagaimana hukum mengucapkan Natal dalam Islam selalu menjadi pertanyaan setiap tahunnya.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
Tetangga Nasrani lapar, wajib ngasih makan, itu kewajiban, jadi yang ada di dalam Islam lebih tinggi dari toleransi.
Baca juga: Menikah Beda Agama, Bolehkah Suka pada Lawan Jenis tapi Agama Berbeda ? Simak Penjelasan Buya Yahya
Baik sekarang kita pakai bahasa toleransi, karena sudah di Indonesia.
Toleransi itu bagaimana ? toleransi itu jangan paksa orang lain untuk ngikutin kamu.
Itulah toleransi, kita harus paham makna toleransi, jadi gara-gara salah memaknai toleransi, salah dalam penerapannya dan salah fatwa.
Contoh begini, toleransi itu kalau Anda itu ada acara Hari Raya Idul Fitri, rame-rame, Anda jangan paksa teman Anda yang Nasrani untuk mengucapkan selamat hari raya atau berikan bingkisan.
Seperti pengajian begini, 'karena kamu bekerja di kawasan muslim, kamu harus' gak toleransi dong kalau begitu.
Jadi toleransi itu jangan paksa dia untuk ngikut.
Dan ingat Anda pun tidak boleh memaksa kaum minoritas ngikuti Anda.
Jadi memaksa orang minoritas mengikuti mayoritas saja tidak boleh, apalagi memaksa kaum mayoritas ngikutin kaum minoritas.
Sama tidak boleh. Kalau ada kawan Nasrani, tidak perlu dia mengucapkan selamat hari raya dan semacamnya pada kita, tidak masalah kok, kenapa umat Islam yang tidak mengucapkan selamat natal dipikir 'kamu tidak mengerti toleransi' ada apa dengan ini semuanya.
Jangan salah memahami makna toleransi.
Kemudian kita harus tahu maknanya, apasih makna dari mengucapkan selamat natal, selamat natal adalah selamat atas kelahiran Yesus, yang dianggap Tuhan oleh dia.
Jadi misalnya ada orang Nasrani, dia punya fatwa 'bahwa haram bagi kita mengucapkan selamat maulid Nabi SAW' kita hargai ? memang itu bukan nabi mu kok, Anda sah-sah saja orang Nasrani.
Mestinya juga harus dibalik disaat ada seorang muslim berfatwa 'haram mengucapkan selamat natal' ya jangan pusing, ya Nabi Isa memang bukan Tuhan saya kok."
Demikian penjelasan Buya Yahya seperti tertera pada video di bawah ini.
Menurut penjelasan Buya, maka toleransi bukan berarti memberikan ucapan pada kaum Nasrani ketika merayakan natal.
Sebab, perkara demikian berhubungan dengan aqidah seorang muslim.
(Serambinews.com/Firdha Ustin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Buya-Yahya-saat-menyampaikan-khotbah-Jumat.jpg)