Kupi Beungoh
Nasehat itu Bernama Tsunami
Apa yang salah dengan negeri ini? Perlukah Allah mengirim nasihat yang lebih ngeri lagi? Tidak cukup Tsunami yang telah terjadi.
Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Pagi itu bumi berguncang dengan sangat kuat, goncangannya mampu membuat gedung yang tinggi meliuk kiri kekanan, lalu nampak terbelah, ada yang kemudian runtuh.
Gedung-gedung, supermarket, hotel, toko-toko pun ikut runtuh dan roboh. Orang-orang yang sedang berdiri harus segera duduk agar tidak jatuh.
Air di kolam tumpah dengan sendirinya, mobil ditempat parkir maju mundur berjalan sendiri tanpa ada yang bisa menghentikannya.
Begitu kuatnya guncangan bumi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004? Tidakkah ini menjadi nasihat buat setiap diri agar lebih ta'at kepada Ilahi?
19 Tahun Sesudah Tsunami
Azan Magrib menjelang, masih juga belum pulang, masih duduk berdua, bersepi-sepian dipinggir lautan.
Dalam gelap malam bak pasangan suami istri yang sedang quality time. Rasa takut dan malu sama Tuhan sepertinya sudah hilang.
Sampai magrib sudah hilang belum juga pulang, masih ngumpul dengan kawan-kawan di pinggir lautan.
Begitulah fenomena anak muda zaman sekarang?
Apa sudah pada lupa dengan Tuhan? Lupa bahwa Tuhan pernah mengingatkan, dengan nasihat yang sangat mengerikan bernama "Tsunami".
Tidak hanya di pinggir laut, fenomena ini dapat juga kita lihat di warkop, dan kafe-kafe.
Dari 25 warkop dan kafe yang di observasi waktu shalat magrib, menjelang Azan di mesjid-mesjid, pintu-pintu warkop dan kafe ditutup, lampu dimatikan namun pengunjungnya masih di dalam, ada yang ngobrol, main game dan lainnya, jika ada pengunjung 90 orang, 70 orang tidak melaksanakan shalat, 20 orang saja yang shalat.
Apa yang salah dengan negeri ini? Perlukah Allah mengirim nasihat yang lebih ngeri lagi? Tidak cukup Tsunami yang telah terjadi.
Tsunami Aceh 2004
Pagi itu di pusat kota Banda Aceh, suasana hening, sunyi, senyap, suara kendaraan pun tidak begitu banyak, hanya sedikit terdengar suara mobil dan sepeda motor bergantian, lalu kembali hening.
Orang-orang masih tertidur lelap karena lelah menghidupkan malam natal dan tahun baru dengan berbagai kegiatan. Terdengar jelas suara band dan nyanyian gereja sampai pagi menjelang.
Kapan berhenti? Berhenti waktu Azan Shalat Subuh berkumandang di Mesjid Raya Baiturrahman. Semua suara hilang, menjadi sunyi, senyap, suara angin pun seperti hilang.
Pagi itu saya keluar hendak ke Asrama haji, sampai disana banyak orang sudah berkumpul hendak mengantar jama'ah haji yang berangkat tanggal 26 Desember 2004.
Baru memasuki halaman asrama haji, tiba-tiba lewat di atas kepala kami sekelompok burung berwarna hitam dari arah laut melewati asrama haji dalam keadaan terburu-buru.
Tidak lama kemudian, bumi pun berguncang dengan pelan, kemudian berguncang lagi dengan sangat kuat.
Kuatnya goncangan membuat setiap orang yang berdiri bisa terjatuh, sehingga orang-orang mengambil posisi duduk dan tidur sambil berzikir.
Gedung asrama haji tempat kami berada meliuk ke sana-kemari seperti pohon diterpa angin, nampak itu gedung mau terbelah menjadi dua.
Wikipedia mencatat Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 yang terjadi pada pukul 07:58:53 WIB hari Minggu, 26 Desember 2004.
Episentrumnya terletak di lepas Pantai Barat Sumatra, Indonesia. Guncangan Gempa tersebut berskala 9.1–9.3 dalam Skala kekuatan momen dan IX dalam Skala intensitas Mercalli. demikian Wikipedia mencatat.
Sedang melihat gedung Asrama Haji terguncang seperti hendak terbelah dan runtuh, masih dalam keadaan gempa, tiba-tiba dari pintu gerbang asrama haji nampak orang-orang berlari terbirit-birit dengan berbagai keadaan ke arah Asrama Haji, sambil berteriak: "air laut naik, air laut naik".
Saya dan orang-orang yang berdiri di halaman Asrama Haji bingung tidak mengerti apa maksudnya.
Tanpa sempat berfikir panjang dari jauh nampak sesuatu yang hitam, tinggi menjulang, setinggi pohon kelapa menuju Asrama Haji tempat kami berdiri.
Masih dalam keadaan bingung, orang-orang ikut berlarian tidak jelas arah dan tujuan, berlari ke sana kemari berusaha menyelamatkan diri, saya pikir ini kiamat.
Orang-orang baru menyadari itu ombak dari laut, setelah ombak itu pecah menghantam pagar dan dinding gedung asrama haji.
Bagaimana itu bisa terjadi? jika diukur jarak antara Asrama Haji dengan laut itu kira-kira 2 KM jaraknya sangat jauh dari pantai, namun hari itu ombak laut itu sampai ke Asrama haji. Sangat mengerikan.
Ombak yang pecah itu mengenangi Asrama Haji menenggelamkan siapa saja, apa saja yang ia temui.
Ada yang sempat menyelamatkan diri dengan Allah gerakan langkah untuk naik ke lantai 2 Asrama Haji, yang tidak sempat naik ke lantai 2 masih di lantai 1 gedung, mereka ikut tenggelam dan dibawa arus, karena air yang menggenangi Asrama Haji mencapai 1 lantai gedung setinggi 4 M.
Yang bersembunyi di balek tembok, ikut hanyut atau terjepit tembok yang roboh diterjang ombak. Ada 3 kali ombak besar menghantam Asrama Haji, Ombak Sunami yang ke 2 dan ombak yang ke 3, jauh lebih kuat dan lebih besar.
Dari atas sambungan tiang dengan tiang gedung kami duduk, saya dan suami menyaksikan satu persatu orang di halaman Asrama Haji di bawa arus Sunami lalu meninggal, ada yang bayi ada yang tua ada yang muda, meski sudah berpegangan pada tiang, karena arusnya sangat kuat, mereka jatuh satu persatu lalu tenggelam, ada yang bersembunyi di balek tembok, tembok itu roboh menimpa orang-orang yang bersembunyi dibaliknya lalu mereka tenggelam.
Ketika ombak yang ke-3 menerjang Asrama Haji korban semakin banyak, mulai dari pengunjung yang hendak mengantar jama'ah haji maupun jama'ah haji itu sendiri yang hendak berangkat hampir sebagian besar menjadi korban.
Tidak ada yang bisa menolong pada waktu itu, masing-masing hanya bisa menunggu takdir dan mengharap keajaiban dan pertolongan Allah SWT.
Menjelang jam 11siang air sudah mulai surut, tinggal selutut mayat-mayat mulai diangkat ke dalam mesjid, sampai mesjid Asrama Haji itu penuh dengan mayat, sebagian besar lainnya masih tergeletak di halaman tidak sanggup lagi diangkat, karena jumlah mayat sangat banyak, dibanding dengan orang yang selamat.
Melihat gedung tempat kami berdiri mulai bergoyang, baru kami sadar ternyata ada banyak orang berada di atas atap Asrama Haji dan orang-orang yang bergantung di jendela-jendela menyelamatkan diri. Ada yang terluka, ada yang berdarah-darah.
Karena sangat banyak orang disana, khawatir gedungnya runtuh kami pindah ke atap rumah di belakang asrama. Gempa susulan terus terjadi, diatas atap kami susah berpegangan kami takut jatuh ke air, pelan-pelan dari atap rumah tersebut kami pindah ke rumah yang lain yang lebih tinggi.
Jam 12 siang air laut sudah surut tinggal semata kaki, kami turun hendak pulang, baru menginjak tanah di jalan yang kami lewati ternyata banyak mayat-mayat di sepanjang jalan masih di dalam air, itu terasa dikaki kami ketika berjalan pulang.
Sampai di depan Asrama Haji nampak tumpukan sampah dan mayat yang menggunung, gedung-gedung, perkampungan padat di depan Asrama Haji hilang di sapu ombak dan di bawa ke laut.
Bersih, sehingga kita bisa melihat laut itu sekarang menjadi sangat dekat seperti di depan mata. Laut yang tadinya hanya bisa kita lihat dengan berjalan sejauh 2 KM ke pinggir pantai, hari ini sudah dapat dilihat dari depan Asrama Haji.
Belum sampai ke rumah, kami dapat kabar bahwa semua kampung di sepanjang pinggir pantai habis disapu ombak, hanya sedikit yang selamat sebagian besar meninggal dan hilang di bawa ombak ke laut.
"....dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (ini). (Q.S. Muhammad: 38)
Apakah ini tidak bisa menjadi nasehat buat setiap diri? Sebelum Allah ganti dengan kaum yang lebih baik.
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maaidah: 54)
*) PENULIS Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DISINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-adalah-Dosen-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)