Jurnalisme Warga
Mengunjungi Pengungsi Rohingya di Balai Meuseuraya Aceh
Setelah sampai di sana saya melihat Abah turun dari mobil dan melapor kepada bapak polisi yang berjaga di situ. Tampak dari kejauhan Abah berbincang d
SAFA BANAT JAMILAH, siswi kelas VII MTs Baitul Arqam, melaporkan dari Banda Aceh
Di luar pro kontra kehadiran pengungsi Rohingya di Aceh, saya setuju dengan apa yang disampaikan ummi saya bahwa orang yang sedang membutuhkan pertolongan wajib kita bantu.
Oleh karena itu, saat Ummi yang seorang dokter anak mengajak saya mengunjungi lokasi pengungsi Rohingya, saya langsung setuju. Ummi saat itu bertugas sebagai sukarelawan Muhammadiyah Disaster Management Center disingkat MDMC Aceh.
Pada Januari 2018, Ummi pernah juga langsung terjun ke Cox's Bazar Bangladesh, tempat pengungsian sementara migran Rohingya. Tujuannya, untuk memberikan pengobatan bagi anak-anak yang sakit di sana. Pagi itu pun, tugas Ummi tidak jauh berbeda, hanya saja saat ini lokasi pengungsian orang-orang Rohingya itu sudah tidak jauh lagi. Mereka berada di Kota Banda Aceh, tepatnya di Gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA), kawasan Lampineung.
Senin, 1 Januari 2024, saya berkemas sejak pukul 06.00 WIB pagi. Tidak lupa saya bawakan beberapa helai jilbab untuk disedekahkan ke anak-anak seusia saya di pengungsian.
Kami berangkat bertiga: saya, Ummi, dan Abah. Sebelumnya, Abah dan Ummi sudah mempersiapkan barang yang perlu dibawa untuk keperluan pengobatan, yaitu obat-obatan, meja, kursi, tikar, serta peralatan menulis, yaitu kertas, pulpen, dan spidol. Lokasi yang kami tuju adalah Balai Meuseuraya Aceh di seberang Kantor Gubernur Aceh, di sanalah tempat para pengungsi Rohingya berada.
Setelah sampai di sana saya melihat Abah turun dari mobil dan melapor kepada polisi yang berjaga di situ. Tampak dari kejauhan Abah berbincang dengan Pak Polisi dan menulis sesuatu di buku. Tidak lama kemudian, Abah kembali ke mobil dan memberi tahu bahwa kami diizinkan masuk. "Tapi kita masuk setelah semua Tim MDMC berkumpul," kata Abah memberi komando.
Selang beberapa saat, datang Om Syukri, Sekretaris MDMC dan Bunda Rika yang merupakan Ketua Nasyiatul 'Aisyiyah Aceh. Kemudian disusul personel lainnya yang saya kenal sebagai aktivis organisasi otonom Muhammadiyah. Seperti kakak dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Lembaga Amal Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Aceh.
Beberapa aktivis itu juga ada yang membawa serta keluarganya, jadi ada sepupu saya, Kak Dini yang juga ikut, hal itu membuat saya senang. Saya dan Kak Dini langsung bergabung dengan bagian penanggung jawab sebagai tim registrasi obat-obatan bersama teman-teman di Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Sesampainya di lokasi pengungsian, kami mengatur meja-meja dan menggelar tikar. Kemudian mengeluarkan obat dari kotak dan disusun di atas tikar agar mudah mengambilnya saat dibutuhkan. Saya dan Kak Dini ditugaskan untuk menyusun obat-obatan, Ummi sebagai dokter yang memeriksa pasien. Saya sangat kasihan menyaksikan pemandangan tersebut. Ada banyak anak-anak dan perempuan, juga orang tua. Tempat tersebut sangat tidak layak untuk beristirahat. Kondisi mereka juga sangat memprihatinkan.
Saya melihat anak yang seusia saya ataupun lebih kecil lagi. Anak perempuan itu banyak yang tidak memiliki jilbab. Saya pun langsung mengeluarkan jilbab yang saya bawa. Anak-anak itu diminta berkumpul dan saya memakaikan jilbab ke beberapa anak dan memberikan jilbab lainnya yang saya bawa ke anak-anak Rohingya tersebut.
Saya merasa sangat senang melihat anak-anak itu bahagia. Mereka terlihat sangat cantik walaupun kondisi mereka tidak baik-baik saja, tapi mereka masih tetap bisa tampak begitu bahagia dengan cara mereka sendiri.
Dituturkan oleh salah seorang penjaga lokasi itu, setiap pagi mereka membersihkan tempat pengungsiannya dan membersihkan kamar mandi, dan ada yang menjemur pakaian.
Ada seorang anak perempuan memegang tangan saya dan saya menoleh ke arahnya. Anak perempuan itu paham bahwa saya tidak mengerti bahasa mereka, tetapi sepertinya dia ingin berteman.
Ummi mulai memeriksa pengungsi-pengungsi yang sakit. Saat Ummi memeriksa mereka, banyak yang ingin berkenalan dengan Ummi. Namun, tentu saja terjadi kesulitan karena Ummi tidak bisa berbahasa mereka dan mereka pun tidak bisa berbahasa Inggris. Alhamdulillah, ada seorang anak yang pandai berbahasa Inggris. Ia bernama Shabir dan usianya sekitar 19 tahun. Shabir-lah yang membantu menerjemahkan apa yang disampaikan Ummi kepada pasien pada saat konsultasi pengobatan.
Saat pemeriksaan, banyak pengungsi yang sakit, terutama banyak pasien yang sakit kulit, kudis di bekas-bekas luka mereka, batuk, dan pilek. Kondisi mereka pun kotor dan tidak terawat. Anak-anak di sana tidak menggunakan sandal atau alas kaki.
Bukan hanya Shabir, ada lagi pengungsi yang bernama Rafiq yang bisa bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, tetapi tidak begitu lancar.
Di saat pemeriksaan singkat itu, ada seorang ibu yang kondisinya gawat darurat dan harus dibawa ke rumah sakit. Kata para sukarelawan yang saya dengar, ibu tersebut akan dibawa ke rumah sakit di Darussalam.
Banyak anak dan perempuan yang berada di sana dengan kondisi yang tidak bagus dan tidak aman. Saya berharap segera ada solusi untuk persoalan mereka. Saya juga mendengar banyak orang-orang yang marah atas kehadiran mereka di Indonesia, khususnya di Aceh. Namun, saya tidak setuju jika ada yang menyerang dan mengatakan hal-hal kasar dan buruk terhadap mereka.
Dalam pelajaran agama yang saya dapatkan selama saya bersekolah, mereka termasuk golongan kaum tertindas atau mustad’afin. Selayaknya sebagai muslim kita membantu mereka, kalaupun kondisi tidak memungkinkan untuk membantu, ada baiknya tidak perlu memaki ataupun menghujat mereka yang sedang tertindas. Saya berharap orang Aceh tidak termakan hasutan pihak-pihak yang dari jauh menonton dan kemudian memberikan masukan-masukan buruk pada orang Aceh agar berlaku kasar dan tidak manusiawi terhadap para pengungsi Rohingya.
Jika pertanyaannya apakah kita harus membantu mereka? Ya, kita harus membantu umat Islam dan mereka juga manusia seperti kita ini. Saya berharap persoalan ini lekas selesai dan para pengungsi itu bisa merasakan kehidupan yang normal. Mereka juga berhak hidup normal seperti kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Safa-Banat-Jamilah.jpg)