Konflik Palestina vs Israel
Hamas Tolak Usulan Israel untuk Gencatan Senjata 2 Bulan, Sebut Penipuan
Gerakan Perlawanan Islam atau Hamas menolak usulan Israel untuk membebaskan sandera untuk Gencatan Senjata selama 2 bulan di Gaza.
Tawaran Israel menyatakan, Israel dan Hamas akan menyepakati terlebih dahulu mengenai berapa banyak tahanan keamanan yang akan dibebaskan oleh Israel di setiap tahap sebelum mengadakan negosiasi terpisah mengenai nama-nama tahanan Palestina.
Tawaran tersebut juga akan mencakup penarikan pasukan Israel dari pusat-pusat populasi utama di Gaza dan kembalinya warga Palestina secara bertahap ke Jalur utara, dimana mereka diperintahkan untuk mengungsi.
Baca juga: Hamas Bongkar Enam Kebohongan Israel, Ungkap Tuduhan Palsu soal Serangan 7 Oktober
Tak Mau Penghentian Total Perang
Tawaran tersebut menetapkan bahwa Israel tidak akan setuju untuk mengakhiri perang sepenuhnya, atau membebaskan 6.000 tahanan keamanan Palestina, namun para pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa mereka bersedia membebaskan sejumlah besar orang.
"Jika diterapkan, cakupan operasi tentara Israel di Gaza akan jauh lebih kecil setelah jeda berakhir," kata Axios.
Tawaran tersebut relatif serupa dengan tawaran yang dilaporkan telah diajukan sejak gencatan senjata tujuh hari berakhir hampir dua bulan lalu.
Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan setuju untuk melepaskan tawanan kecuali pertempuran di Gaza berhenti sepenuhnya.
Intelijen AS: Pejuang Hamas Beradaptasi, Masih Sanggup Serang Israel Berbulan-bulan
Brigade Al-Qassam, sayap militer gerakan pembebasan Palestina, Hamas dilaporkan hanya kehilangan sekitar 20 hingga 30 persen kekuatan tempurnya selama perang Gaza melawan Israel yang kini sudah berlangsung hampir empat bulan sejak 7 Oktober 2023 silam.
Analisis kekuatan Hamas itu dilontarkan intelijen AS yang dikutip oleh Wall Street Journal (WSJ).
"Jumlah korban Brigade Al Qassam tersebut sejauh ini masih jauh dari tujuan Israel untuk menghancurkan kelompok tersebut dan menunjukkan ketangguhannya setelah perang berbulan-bulan yang telah menghancurkan sebagian besar Jalur Gaza,” tulis outlet berita tersebut pada tanggal 21 Januari.
Menurut perkiraan intelijen AS, kelompok perlawanan Gaza masih memiliki cukup amunisi untuk terus meluncurkan roket ke Israel dan mempertahankan operasinya melawan pasukan Israel di Gaza selama beberapa bulan.
Satu di antara kunci dari bertahannya milisi Hamas dari bombardemen Israel adalah kemampuan beradaptasi dalam beragam hal, termasuk strategi perang.
“Pejuang kelompok ini telah menyesuaikan taktik mereka, beroperasi dalam kelompok yang lebih kecil dan bersembunyi di antara penyergapan terhadap pasukan Israel, sementara pejuang individu kemungkinan akan mengambil lebih banyak tugas untuk mengisi kekosongan dari rekan-rekan mereka yang tewas,” WSJ mengutip analis militer yang mengatakan.
AS Akan Tolak dan Cabut Visa Presiden Palestina dan Pejabatnya, Dilarang Hadiri Sidang PBB |
![]() |
---|
Trump Sesumbar Akhiri Perang Gaza dalam Dua Pekan di Tengah Serangan Israel yang Terus Meningkat |
![]() |
---|
Kehancuran Rumah Sakit Nasser Gaza usai Serangan Ganda Israel, 22 Orang Tewas Termasuk 5 Jurnalis |
![]() |
---|
Trump Siapkan Rencana Gaza Pasca-perang, Warga Palestina Khawatir Jadi Korban Relokasi Paksa |
![]() |
---|
Enam Orang Tewas dan Puluhan Terluka Akibat Serangan Israel ke Ibu Kota Yaman, Houthi Janji Balas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.