Kupi Beungoh
Fanatisme Politik : Loyalitas Liar Yang Mengancam Kesehatan Mental
Karena banyak sekali terjadi kecemasan dan gangguan kesehatan mental seperti stres di saat menunggu hasil dari pemungutan suara tersebut diumumkan.
Oleh: Nia Tania
SERAMBINEWS.COM - Momentum pesta demokrasi menjadi hal yang menggembirakan bagi sebagian orang.
Pesta demokrasi yang terjadi 5 tahun sekali ini bisa membuat seseorang dengan kesadaran penuh menggunakan hak politik nya demi perkembangan bangsa dan negara.
Dalam politik, dapat dipastikan ada perbedaan dalam hal pilihan.
Tentu dalam hal ini para pendukung salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden atau calon wakil rakyat harus turut mempertimbangkan kesehatan mental nya alih-alih hanya fokus pada tujuan kemenangan calon yang didukung pada saat hari pemungutan suara.
Mengapa kesehatan mental para pendukung dalam pesta demokrasi ini harus dipertimbangkan?
Karena banyak sekali terjadi kecemasan dan gangguan kesehatan mental seperti stres di saat menunggu hasil dari pemungutan suara tersebut diumumkan.
Kondisi semacam ini disebut sebagai “election stress disorder”, yang mana istilah ini diciptakan dan dipopulerkan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat bernama Steven Stosny.
Istilah ini muncul setelah penyelenggaraan pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 selesai, banyak sekali orang yang menemui Steven Stosny dengan keluhan kesehatan mental.
Hal tersebut muncul akibat kecemasan dalam menanti hasil pemilihan umum atau timbul rasa kekecewaan setelah hasil pemilihan yang diumumkan menyatakan seseorang yang didukung mengalami kekalahan.
Kasus seperti ini lebih sering terjadi pada para pendukung fanatik daripada pemilih rasional dalam pemilihan umum.
Kondisi ini dapat muncul sebelum atau sesudah hasil pemilihan umum diumumkan.
Pendukung yang fanatik memiliki keyakinan dan pengharapan yang berlebihan terhadap salah satu tokoh yang didukung sehingga dia berisiko mengalami kecemasan berlebih atau kekecewaan yang sangat besar jika seseorang yang didukungnya mengalami kekalahan.
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang fanatik dalam berbagai hal, mulai dari pilihan politik, organisasi, bahkan dalam sepak bola sekalipun.
Henry Herbert Goddard, seorang profesor psikologi klinis mengatakan bahwa fanatisme adalah suatu keyakinan yang membuat seseorang buta sehingga mau melakukan segala macam hal apapun demi mempertahankan keyakinan yang dianutnya.
Fanatisme dapat menyebabkan seseorang berpikir secara tidak rasional yang menyebabkan tindakannya menjadi tidak bisa dibenarkan secara etika dan moral.
Fanatisme tidak selalu menjadi hal yang memiliki konotasi negatif, bahkan untuk hal-hal tertentu fanatisme bisa menjadi prinsip terbaik untuk berpegang dalam suatu pilihan contohnya fanatisme terhadap agama (bukan tokoh agama).
Tetapi, fanatisme sering kali menyebabkan seseorang melupakan norma, etika, bahkan adab.
Fanatisme politik adalah salah satu hal yang penting di dalam suatu strategi berpolitik.
Tetapi, fanatisme politik juga bisa menjadi “pedang bermata dua” bagi pengikutnya.
Fanatisme politik bisa menjadi sesuatu yang positif karena seseorang dapat menunjukkan loyalitasnya terhadap tokoh politik, gerakan politik ataupun sebuah partai politik.
Tetapi fanatisme politik juga bisa menjadi hal yang negatif jika harapan atau cita-cita yang diinginkan oleh seorang loyalis politik itu gagal dan menemui kebuntuan akibat satu peristiwa, contoh nya seperti pemilihan umum.
Fanatisme politik yang bermuatan negatif juga sering kali menyebabkan seseorang dengan secara sadar dan tega menghina dan memfitnah lawan politiknya sehingga akhirnya terjadilah konflik dalam politik.
Secara medis, informasi yang diterima oleh seseorang akan terlebih dahulu diolah pada bagian otak yang disebut prefrontal cortex.
Prefrontal cortex juga disebut sebagai hati nurani pada manusia karena memiliki fungsi terhadap empati, nilai moral, dan pengendalian emosi sehingga seseorang bisa mengambil suatu tindakan dengan keputusan atau pertimbangan yang tepat serta terukur.
Tetapi dalam kondisi tertentu, Amygdala yang merupakan bagian otak yang mengatur emosi langsung merespons suatu stimulus yang menyebabkan reaksi yang frontal dari seseorang misal nya emosi yang berlebihan atau kesedihan yang berlarut-larut.
Kondisi tersebut seringkali menyebabkan seorang pendukung fanatik tidak bisa menggunakan hati nurani dan logika nya dalam menanggapi informasi atau peristiwa yang dialaminya.
Seseorang yang fanatik dalam berpolitik akan merasakan beberapa dampak yang mempengarui kesehatan mental seperti mengalami kecemasan atau kekhawatiran, naiknya tingkat stres, merasa tidak aman, munculnya gejala depresi terutama jika merasa ideologinya direndahkan.
Pada tahun 2024, beberapa Psikolog memperkirakan bahwa tingkat stres dapat lebih meningkat daripada pemilu sebelumnya, hal ini diakibatkan oleh adanya tiga calon presiden-wakil presiden yang mana membuat persebaran pendukung menjadi lebih masif.
Stres dan kecemasan tidak hanya terjadi pada para pendukung yang fanatik, tetapi juga terjadi pada orang yang mengikuti kontestasi pemilu.
Stres yang terjadi pada Calon legislatif mayoritas terjadi karena para calon legislatif yang kalah tidak bisa mengembalikan uang yang dipinjam sebagai modal kampanye saat pemilihan umum.
Kesedihan mendalam atas kekalahan juga bisa timbul akibat harapan akan kemenangan sudah terlalu tinggi, akibatnya saat mendapatkan kekalahan di pemilu maka kemenangan yang telah diharapkan menjadi sia-sia.
Banyak pihak yang sudah mempersiapkan pelayanan kesehatan jiwa untuk mengantisipasi adanya caleg yang mengalami stres.
Di Aceh sendiri, Rumah Sakit Jiwa Aceh siap menampung Caleg yang mengalami kegagalan di pemilu, hal tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Aceh.
Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi banyaknya Calon Legislatif yang mengalami depresi setelah gagal terpilih pada pemilihan umum 2024.
Masalah kesehatan mental yang timbul akibat kegagalan pada pemilihan umum memang dapat memberikan tekanan dan stres yang besar bagi sebagian orang.
Banyak langkah positif yang bisa dilakukan untuk mengurangi ataupun mencegah masalah kesehatan mental yang memburuk di saat tahun politik berlangsung.
Cara tersebut mulai dari terapi psikologi, wejangan untuk mengikhlaskan, ataupun dengan pendekatan-pendekatan spiritual.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah juga mengurangi masalah/gangguan kesehatan mental:
1. Menjalin hubungan dan berkomunikasi aktif dengan orang di sekitar. Bicarakan hal-hal yang sedang dirasakan dengan orang yang anda percayai, dimulai dengan keluarga, teman dekat, atau profesional kesehatan mental. Dukungan sosial dapat membantu seseorang melepaskan stres secara perlahan.
2. Ambil jeda atau beristirahat sementara dari media sosial, berita dan dinamika politik di media sosial dapat memicu stres dan kecemasan yang berlebihan. Ambil jeda dari media sosial untuk fokus pada hal-hal yang positif atau menyenangkan.
3. Mengalihkan energi negatif yang muncul dengan melakukan aktivitas fisik yang baik seperti olahraga, meditasi, atau yoga yang dapat membantu meredakan tekanan dan stres. Aktivitas ini juga dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.
4. Menjaga pola tidur dan makan. Pola tidur dan makan yang sehat dapat membantu menjaga keseimbangan emosi dan kestabilan mental. Upayakan untuk tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi.
5. Mencari bantuan profesional jika dibutuhkan. Jika stres dan tekanan yang dirasakan sudah mengganggu keseharian dan rutinitas, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau konselor, karena para ahli memahami dan dapat membantu dalam mengatasi masalah kesehatan mental.
6. Carilah informasi dari sumber yang terpercaya, hindari mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Berita seputar pemilu adalah hal yang penting, tetapi kita juga harus bijak dalam memilah dan memilih informasi yang kita baca agar respon emosional serta kesehatan mental kita tetap terkontrol. Dan hindari berita yang bermuatan negatif.
7. Jangan terlalu serius dalam menghadapi pemilihan umum, serius memang perlu tetapi tetap hadapi masalah dengan kepala dingin. Harapan kita di pemilu bisa terwujud sekarang atau mungkin tertunda, tetapi siapapun yang terpilih dalam pemilu, yang kita harapkan tokoh tersebut bisa membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. (*)
*) PENULIS adalah Mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2022, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nia-Tania-Mahasiswa-Program-Studi-Psikologi-angkatan-2022.jpg)