Opini
Kursi Dewan bukan Segalanya
Baik yang tertangkap kamera netizen, atau yang sengaja diliput oleh wartawan pemburu berita. Realitas ini juga sudah diprediksi jauh-jauh hari, buktin
M Anzaikhan S Fil I, MAg, Dosen IAIN Langsa dan Founder Pusat Entrepreneur dan Menulis
INDONESIA telah menyelesaikan Pemilu dan Pileg Tahun 2024 dengan segala pesona dan suka-duka yang ada. Beragam kejutan, prediksi, atau isu-isu kecurangan, semua itu adalah bunga-bunga peristiwa yang selalu kita dengar dalam gelaran demokrasi lima tahunan ini. Begitu juga dengan oknum caleg yang depresi, entah sengaja atau memang realita, fenomena ini selalu ditemukan.
Baik yang tertangkap kamera netizen, atau yang sengaja diliput oleh wartawan pemburu berita. Realitas ini juga sudah diprediksi jauh-jauh hari, buktinya pihak Rumah Sakit Jiwa selalu melebihkan kuota dan mempersiapkan diri menerima pasien baru di tahun politik.
Meskipun demikian, depresi bukanlah pilihan. Caleg mestinya menyadari, menang-kalah adalah bagian dari kontestasi. Maka dari itu, saat akan melakukan pertarungan politik, harus disadari bahwa kursi DPR bukanlah segalanya. Kenyataan itu memiliki efek lanjutan, bahwa tidak perlu melakukan segala cara atau menjual apa saja agar memenangkannya.
Kenyataan hari ini, terdapat oknum caleg yang habis hartanya, terjual rumahnya, bahkan ada yang menggadai ginjalnya. Ketika semua itu sudah dilakukan, dan masih kalah juga, maka depresi pun menggerogoti diri.
Begitu juga, saat hasil Pemilu sudah diketahui, tidak jarang ditemukan oknum Caleg yang panik dan berbuat di luar nalar mereka. Marah-marah di TPS misalnya, atau bahkan menarik semua aset yang sudah dihibahkan ke masjid. Padahal, ia ambil kembali aset itu, tidak merubah apapun hasil Pemilu. Sikap panik hanya akan memperburuk dirinya, bahkan menjadi rekam jejak digital yang sulit untuk dihilangkan.
Mental petarung seharusnya tidak demikian, tidak sedikit caleg yang sukses hari ini, adalah mereka yang sudah pernah kalah pada Pileg sebelumnya. Jika mereka depresi, itu hanya akan menambah catatan buruk untuk tidak direkomendasi dalam kontestasi berikutnya.
Depresi adalah bagian dari kesehatan, namun itu terjadi akibat diri yang tidak sanggup menerima sebuah realita. Maka dari itu, berpikirlah untuk mengambil hikmah dari segala peristiwa. Dengan demikian, kalaupun jatuh, maka ada kekuatan untuk bangkit atau bahkan bertarung kembali di masa mendatang.
Lagi pula, DPR bukan segalanya. Tidak memperoleh kursi bukan berarti dunia ini hancur.
Begitu juga, kegagalan memperoleh kursi bukan berarti manusia sudah kehilangan Tuhannya. Bisa jadi, kegagalan adalah salah satu cara Tuhan, mengingatkan kepada hambanya untuk kembali bertafakur kepada-Nya.
Selain itu, kegagalan politik adalah pembelajaran dalam mendewasakan diri, bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini selain pastinya kematian. Cukuplah kegagalan hanya menjadi secuil luka yang menyayat hati. Tidak perlu memperbesarnya dengan kebencian dan menabur hoax kemana-mana.
Begitu juga bagi pemenang, tidak boleh lupa diri dan takabur dengan euforia politik. Tidak sedikit oknum DPR yang justru hancur kariernya karena tenggelam dalam hedonis jabatan. Wakil rakyat adalah pusat sorotan publik, terlena dalam kekuasaan bisa mengarahkan seseorang menjadi tahanan KPK atau tergoda dengan zona nyaman lainnya.
Belum lagi fitnah yang menghantui, serta tagihan rakyat yang meminta aspirasi. Semua itu harus dijalankan dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab, apalagi DPR yang secara substansial adalah wakil rakyat itu sendiri.
Lapang dada
Pada bidang studi Pancasila dan Kewarganegaraan, hal-hal terkait implementasi nilai-nilai demokrasi dianggap bentuk pengamalan Pancasila terutama Sila ke-4 yang berasaskan musyawarah. Berbicara musyawarah, tentu tujuannya adalah menghasilkan pilihan terbaik yang diterima oleh semua pihak.
Namun pada beberapa kasus, pilihan yang memuaskan semua pihak, tidak bisa diwujudkan. Maka dari itu, diambillah voting dimana suara terbanyak akan dieksekusi pilihannya.
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Anzaikhan-OKEEE.jpg)