Salam

Kenaikan Harga Energi Harusnya Ditunda

harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi lantaran konflik di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia meningkat.

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
ILUSTRASI -- PT Pertamina 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Senin (26/2/2024) mem-beritakan, kenaikan harga pangan dan energi yang diperkira-kan terjadi pada Maret 2024 mendatang bakal menyulitkan ma-syarakat kelas menengah ke bawah. Sejumlah komponen yang akan meningkat di antaranya, harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi lantaran konflik di Timur Tengah yang membuat har-ga minyak dunia meningkat.

Lalu, tarif 13 ruas tol juga akan naik dalam waktu dekat. Kemu-dian, di tengah kenaikan harga beras, pemerintah memutuskan untuk tidak menurunkan tarif listrik. Tarif listrik pada Maret 2024 masih sama dengan Kuartal IV pada Oktober-Desember 2023 yang saat itu tarifnya naik. Kenaikan tarif listrik ini berlaku bagi 13 pelanggan nonsubsidi dan 25 golongan pelanggan bersubsidi.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institu-tion, Ronny P Sasmita, menilai, kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif tol kemungkinan besar akan menahan konsumsi rumah tangga kelas menengah. Secara tidak langsung juga akan berpe-ngaruh kepada daya beli kelas menengah ke bawah, jika kenaikan tarif tol ikut mendorong menaikan beberapa barang konsumsi ka-rena imbas dari peningkatan biaya transportasi barang.

Jika dilihat dari sisi ekonomi, menurutnya, semua kenaikan harga ter-sebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi ru-mah tangga, bahkan akan menghambat investasi karena biaya produksi dan distribusi yang akan meningkat. Dari sisi kenaikan tarif listrik, Ronny melihat akan berpengaruh ke semua sektor bisnis. Makanya, ia menya-rankan agar pemerintah menunda kenaikan harga energi secara bersa-maan, dan segera melakukan pengendalian harga pangan.

Kita semua tentu sepakat dengan saran dari Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, agar kenaikan harga energi ditunda. Apalagi, saat ini menjelang puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijri-ah, harga beras dan berbagai bahan pokok lainnya terus mele-jit. Penundaan kenaikan harga energi dan pengendalian harga pangan pada saat ini merupakan hal penting yang menjadi ha-rus perhatian serius dari pemerintah melalui kementerian terka-it bersama DPR RI dan pihak terkait lainnya.

Sebab, kenaikan harga energi yang berbarengan dengan me-lejitnya harga bahan pokok jelas akan membuat beban hidup masyarakat terutama mereka yang berada dalam kelompok ekonomi menengah ke bawah akan semakin berat. Kita akui atau tidak, kenaikan harga energi dan pangan akan mempe-ngaruhi daya beli masyarakat terhadap barang-barang tersebut. Jika itu terjadi, jelas akan timbul masalah baru dalam masyara-kat terutama di kalangan warga yang berpenghasilan rendah.

Dalam konteks yang lebih luas, kenaikan harga energi dan har-ga pangan di waktu yang hampir bersamaan juga bisa berdampak pada meningkatnya inflasi. Karena itu, pemerintah bersama pe-mangku kepentingan terkait untuk segera melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat memastikan tersedianya energi dan bahan pangan yang cukup, mengurangi ketidakpastian pasar, serta me-lindungi kelompok masyarakat yang paling rentan tedampak dari kenaikan harga energi dan dan bahan pangan tersebut.

Sekali lagi, pemerintah harus mengkaji dan mempertim-bangkan matang-matang sebelumnya menaikkan harga BBM nonsubsidi. Sebab, kenaikan harga BBM nonsubsidi dengan sendirinya akan membuat tarif listrik ikut naik. Jika itu terjadi, maka lagi-lagi masyarakat yang akan menjadi korbannya. Demi-kian juga untuk mengantisipasi lonjakan harga beras dan bahan pangan lainnya yang diperkirakan terus terjadi hingga Ramad-han dan Idul Fitri tahun ini, maka pemerintah harus cepat mela-kukan langkah-langkah antisipasi yang efektif dan efisien agar masyarakat tidak makin tercekik.(*)

POJOK

Harga energi bakal naik
Phet that, korbannya selalu masyarakat ya?

Banyak form C1 yang distipo
Tapi, itu sudah jadi rahasia umum kan? He..he.. he…

Penggelembungan suara mencuat di Aceh Timur
Tunggu apalagi, tindak tegas dong pelakunya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved