Opini

Toxic Relationship di Kalangan Anak Muda

Dua fakta di atas merupakan contoh toxic relationship di kalangan anak muda. Masih banyak perilaku-perilaku yang tidak sehat lainnya di sekitar kita.

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
Mujtahid, Wakil ketua IKAT Bidang Dakwah dan Penguatan Umat 

Mujtahid, Wakil ketua IKAT Bidang Dakwah dan Penguatan Umat

SEORANG guru di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Aceh terkejut melihat beberapa anak didiknya yang memiliki goresan luka yang sama di tangan mereka. Setelah diinterogasi, rupanya anak-anak tersebut tergabung dalam salah satu geng yang mereka bentuk di lingkaran pertemanan di sekolah. Anak-anak tersebut terpapar virus self harm, berupa tindakan menyakiti diri sendiri ketika dirundung masalah.

Anak-anak tersebut melampiaskan perasaan mereka dengan menggores tangan sampai luka dengan beling kaca atau benda tajam lainnya, kemudian mengupload videonya ke dalam grup whatsapp komunitas mereka. Tidak hanya di sekolah umum, anak-anak di boarding school dan pesantren juga ikut terpapar virus tersebut. Budaya adu nasib yang sedang tren di kalangan generasi sekarang menjadikan mereka sangat rentan terpapar tren-tren menyimpang seperti self harm tersebut.

Seorang gadis memberhentikan minibus L300 di jalan Banda Aceh-Medan lalu menumpanginya dengan tujuan yang tidak jelas ke Banda Aceh. Seorang Ibu yang duduk di sampingnya bertanya, "Ngapain ke Banda nak?" Spontan ia menjawab bahwa dia sedang tidak baik dengan ibunya, kemudian dia menghubungi kenalannya di Sosmed. Temannya membiayai keberangkatannya ke Banda dan sudah ditunggu di salah satu Hotel di Banda Aceh. Sampai di hotel, rupanya seorang lelaki menyambut kedatangannya di pintu pagar.

Sahabat, ada yang memberi dampak positif, ada yang memberikan dampak negatif, bahkan sudah pada level toxic (beracun). Maka toxic relationship adalah hubungan yang tidak sehat baik di tingkat persahabatan atau pernikahan. Perilaku Toxic berupa perkataan, perbuatan dan sikap.

Dua fakta di atas merupakan contoh toxic relationship di kalangan anak muda. Masih banyak perilaku-perilaku yang tidak sehat lainnya di sekitar kita. Oleh karena itu perlu diketahui penyebab anak-anak muda terjebak ke dalam circle pertemanan yang tidak sehat.

Salah satu faktor paling utama adalah kurangnya afeksi dari orang tua. Padahal anak butuh untuk mendapatkan respons yang baik atau perlakuan hangat dari orang tua dalam bentuk kasih sayang dengan prinsip dasar perasaan untuk dicintai dengan unsur memberi dan menerima.

Anak butuh perhatian, kasih sayang, diajak berbicara dan diberikan kesempatan untuk berargumentasi. Ketika anak tidak mendapat hal tersebut dari orang tuanya, anak merasa insecure, tidak percaya diri. Menganggap dirinya tidak spesial dan tidak layak untuk diajak berinteraksi. Sehingga ketika berjumpa dengan lingkaran persahabatan yang mau menghargainya, maka ia akan melakukan apa saja bersama dengan sahabatnya, walaupun disadari bahwa apa yang dikerjakan tersebut tidak benar.

Anak-anak yang sudah terjebak dalam toxic relationship cenderung memiliki self esteem yang rendah, merasa diri tidak berguna. Sehingga kadang terjerumus ke dalam hal-hal yang mengarah kepada zina, bahkan ada yang terlibat ke dalam prostitusi online atau penyedia Video Call Sexual (VCS). Tidak jarang, seorang teman mengeksploitasi teman yang lain.

Sebagian anak menyadari bahwa circle pertemanan mereka tidak baik, namun mereka enggan meninggalkan dengan alasan takut kesepian, kalau aku tidak bersama dengan mereka, terus aku akan dengan siapa? Ditambah dengan konsep cinta yang salah dari keluarganya, seperti ajaran keluarga yang membenarkan apa saja yang disukai anak oleh anaknya walaupun itu salah. Oleh karena pertemanan itu hanya ada dua kemungkinan, mempengaruhi atau dipengaruhi. Maka sebagai orang tua, kita perlu melihat circle pertemanan anak-anak kita.

Fakta menunjukkan bahwa ada semacam kecenderungan model perilaku yang tidak baik di setiap daerah. Masyarakat dari daerah tertentu cenderung diidentikkan dengan perbuatan tidak baik tertentu, begitu juga dengan model dari toxic relationship. Mungkin anak-anak dari daerah tertentu yang sering ditangkap oleh Satpol PP dan WH akibat dari pertemanan yang tidak sehat, bukan berarti anak-anak muda yang berasal dari daerah lain tidak melakukannya.

Hanya saja mereka lebih berkelas dalam melakukan perilaku tidak sehat di ibukota sehingga tidak diketahui oleh khalayak ramai dan aparat. Maka penting juga melihat asal daerah dari teman-teman anak kita. Karena mereka membawa semacam genetika sosial dalam diri mereka.

Anjuran Rasulullah

Bagi anak muda yang sudah terjebak dalam pertemanan tidak baik, maka langkah pertama adalah meninggalkan mereka. Sebagaimana firman Allah yang menuntun hamba-Nya untuk meninggalkan suatu kelompok yang pembicaraan mereka menjauhkan kita dari pada mengingat Allah (QS: Annisa 140).

Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, "Siapakah teman yang baik?" Lalu beliau menjawab, "Ketika kamu melihat seorang dan mengingatkanmu kepada Allah, dialah teman yang baik. Kemudian ketika ia berbicara, bertambah pengetahuanmu. Ketika melihat kegiatan dan ibadahnya sehari-hari, mengingatkan kita kepada hari akhirat."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved