Opini
Strategi Perikanan Berkelanjutan Nagan Raya
Hamparan perairan yang kaya, muara sungai yang subur, serta bentang mangrove yang relatif terjaga menjadikan wilayah ini layaknya raksasa tidur
Prof Dr Apridar SE MSi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
KABUPATEN Nagan Raya, dengan garis pantai lebih dari 110 kilometer yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, sesungguhnya menyimpan kekuatan besar di sektor kelautan dan perikanan. Hamparan perairan yang kaya, muara sungai yang subur, serta bentang mangrove yang relatif terjaga menjadikan wilayah ini layaknya raksasa tidur yang belum sepenuhnya terbangun. Potensi tersebut semestinya menjadi mesin penggerak ekonomi daerah. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatannya masih berjalan secara tradisional, bahkan pada sebagian kasus bersifat destruktif. Perubahan arah pembangunan menjadi mutlak, bukan sekadar mengejar peningkatan produksi, tetapi memastikan keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Data Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh memperlihatkan bahwa perairan barat–selatan Aceh, termasuk Nagan Raya, memiliki potensi lestari sumber daya ikan yang besar, terutama dari kelompok ikan pelagis seperti tongkol, kembung, dan layang. Wilayah laut Nagan Raya merupakan bagian dari fishing ground penting di kawasan ini. Pada sektor budidaya, kondisi geografisnya juga menjanjikan. Ribuan hektare lahan potensial tambak air payau tersebar di Kecamatan Kuala, Beutong, dan Seunagan. Selain tambak, peluang pengembangan keramba jaring apung di perairan tenang, budidaya rumput laut, serta pembenihan ikan air tawar di daratan terbuka lebar untuk dikembangkan secara terencana.
Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan masih bergantung pada alat tangkap sederhana seperti pancing dan jaring insang dengan jangkauan terbatas dan produktivitas rendah. Lahan tambak yang ada pun banyak dikelola secara tradisional dengan sistem extensive, sehingga hasilnya minim, bahkan rata-rata di bawah satu ton per hektare per tahun dan rentan terserang penyakit. Kondisi ini menjadi ironi, karena di tengah potensi yang melimpah, sebagian wilayah pesisir Nagan Raya masih tergolong rentan secara pangan dan ekonomi.
Hambatan utama pengembangan perikanan di Nagan Raya terletak pada keterbatasan teknologi dan infrastruktur. Minimnya cold storage, pabrik es, serta pelabuhan perikanan dan tempat pelelangan ikan yang memadai menyebabkan tingginya kehilangan hasil pascapanen. Ikan kerap rusak sebelum menjangkau pasar yang lebih luas seperti Banda Aceh atau Medan. Penggunaan alat tangkap modern dan ramah lingkungan juga belum meluas. Pada saat yang sama, praktik penangkapan ikan ilegal dengan bahan peledak dan potasium masih ditemukan, terutama oleh oknum dari luar daerah. Praktik ini merusak terumbu karang secara permanen dan mengancam keberlanjutan stok ikan.
Persoalan lain muncul pada aspek permodalan dan pemasaran. Nelayan dan pembudidaya kerap kesulitan mengakses pembiayaan untuk mengembangkan usaha, sehingga bergantung pada tengkulak yang menentukan harga. Akibatnya, margin keuntungan menjadi sangat tipis. Produk perikanan Nagan Raya juga belum memiliki identitas atau merek yang kuat di pasar.
Di sisi lingkungan, alih fungsi mangrove tanpa memperhatikan prinsip konservasi, serta pencemaran dari darat, masih menjadi ancaman serius bagi produktivitas jangka panjang. Padahal, mangrove berperan penting sebagai tempat pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan dan udang. Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia turut memperberat tantangan. Pelatihan teknis mengenai budidaya intensif, pengolahan hasil perikanan, dan manajemen usaha masih kurang, sementara kelembagaan kelompok nelayan dan pembudidaya sering belum berfungsi optimal sebagai wadah penguatan ekonomi kolektif.
Strategi holistik
Menjawab kondisi tersebut, pembangunan perikanan Nagan Raya membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah kabupaten perlu memprioritaskan pembangunan sistem rantai dingin minimum di titik-titik pendaratan ikan utama, seperti Kuala, disertai tempat pelelangan ikan yang representatif dan modern. Program bantuan atau kredit lunak untuk modernisasi kapal dan alat tangkap ramah lingkungan harus dipercepat. Di sektor budidaya, pengenalan teknologi tambak semi-intensif dan intensif menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas hingga berkali-kali lipat.
Pengawasan perairan juga harus diperkuat melalui patroli terpadu yang melibatkan aparat dan masyarakat untuk memberantas praktik penangkapan ilegal. Pada saat yang sama, kelompok nelayan dan pembudidaya perlu didampingi agar mampu berfungsi sebagai unit usaha kolektif yang kuat, memiliki akses terhadap bantuan, menerapkan praktik penangkapan dan budidaya terukur, serta bernegosiasi lebih setara dengan pasar.
Peningkatan nilai tambah menjadi langkah penting berikutnya. Perikanan Nagan Raya tidak lagi cukup menjual produk dalam bentuk segar. Pengolahan menjadi produk bernilai tambah seperti ikan asin premium, abon ikan, kerupuk kulit ikan, atau fish meal perlu didorong melalui pelatihan dan fasilitasi. Pembangunan merek dagang kolektif “Perikanan Nagan Raya” yang dilengkapi sertifikasi higienis akan memperkuat daya saing, terlebih jika diiringi kemitraan dengan marketplace dan ritel modern.
Aspek keberlanjutan lingkungan harus menjadi fondasi utama. Model silvofishery yang mengintegrasikan tambak dengan pelestarian mangrove perlu dipromosikan secara luas. Rehabilitasi mangrove di kawasan kritis harus menjadi agenda bersama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Untuk budidaya air tawar, penerapan sistem bioflok yangefisien dalam penggunaan air dan lahan dapat menjadi solusi adaptif terhadap keterbatasan sumber daya.
Seluruh upaya tersebut akan efektif jika diiringi peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan. Kolaborasi dengan perguruan tinggi (seperti Universitas Teuku Umar) dan balai pelatihan perikanan perlu diintensifkan melalui sekolah lapang yang aplikatif, mencakup teknik penangkapan selektif, manajemen kesehatan ikan, pengolahan limbah, hingga pemasaran digital.
Pengembangan perikanan berkelanjutan di Nagan Raya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Jalan menuju ke sana menuntut komitmen jangka panjang dan kolaborasi erat. Pemerintah daerah berperan sebagai regulator dan fasilitator, dunia usaha sebagai investor dan mitra pasar, akademisi sebagai sumber inovasi dan pendampingan, serta nelayan dan pembudidaya sebagai subjek utama pembangunan yang melek teknologi dan berwawasan lingkungan.
Dengan menerapkan strategi ini secara konsisten, Kabupaten Nagan Raya tidak hanya akan bangkit dari tidur panjangnya, tetapi juga siap memimpin lompatan ekonomi biru di Aceh. Hasilnya bukan sekadar peningkatan PAD, tetapi yang lebih penting laut yang tetap kaya untuk anak cucu, dan masyarakat pesisir yang sejahtera dan bermartabat. Saatnya Nagan Raya menulis babak baru sebagai kabupaten perikanan tangkap dan budidaya yang tangguh, maju, dan berkelanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Apridar-BARU.jpg)