Kupi Beungoh
Ketika Yang Manis Tidak Selalu Baik, Refleksi Konsumsi Gula Kita
Di tengah menjamurnya bisnis minuman kopi dan teh kekinian, penerapan pajak ini mendatangkan kekhawatiran dari para pelaku bisnis MBDK.
Oleh: dr. Ade Oktiviyari, M.Sc*)
Isu mengenai penerapan pajak Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) sudah terdengar dari pertengahan tahun 2016 silam.
Setelah melalui banyak revisi dan penyesuaian kebijakan, langkah ini dikabarkan akan mulai diterapkan pada tahun 2024 ini.
Di tengah menjamurnya bisnis minuman kopi dan teh kekinian, penerapan pajak ini mendatangkan kekhawatiran dari para pelaku bisnis MBDK.
Ini termasuk penjual minuman berpemanis berupa teh, kopi, atau aneka variasi susu di gerai-gerai dan warung pinggir jalan.
Meski demikian, pada tahap awal penerapan pajak ini hanya meliputi produsen besar dan bukan penjual minuman di pinggir jalan. Penerapan cukai ini diharapkan akan memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat.
Penerapan cukai MBDK ini sebenarnya bukan hal baru.
Saat ini, sudah lebih dari 50 negara di dunia menerapkan cukai ini.
Dampak positifnya terlihat dari efek langsung penurunan komsumsi MBDK.
Pada jangka panjang, hal ini diharapkan meningkatkan kesehatan masyarakat dan menurunkan insidensi penyakit-penyakit yang terkait konsumsi gula tambahan berlebihan.
Konsumsi MBDK di Indonesia
Di Indonesia, konsumsi MBDK termasuk tinggi.
Survei yang dilakukan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) pada tahun 2022 lalu menemukan bahwa konsumsi MBDK masih cukup tinggi, sekitar 1-6 kali per minggu.
Satu kemasan MBDK dapat mengandung gula 10-20 gram, sedangkan WHO dan Kemkes menganjurkan asupan gula tambahan tidak melebihi 50 gram per hari atau 3 sendok makan.
Tanpa pengawasan dan kesadaran pribadi, konsumsi MBDK rutin akan berujung pada konsumsi gula berlebih.
Banyak faktor yang berkaitan dengan tingginya konsumsi MBDK di Indonesia.
Selain dari banyaknya variasi dan rasa yang enak, harga yang murah, dan juga kemudahan akses untuk membeli.
Penjual MBDK bertebaran pada semua level mulai dari harga 1000 rupiah hingga ratusan ribu rupiah.
Dari warung kecil di gang hingga kafe mewah di mall. Variasinya juga sangat beragam: penjual kopi dan teh kekinian, jus buah, susu kemasan, sirup, minuman energi, hingga aneka minuman serbuk di warung-warung kecil.
Tidak hanya karena rasa yang enak dan sifat manis yang adiktif, marketing MBDK juga menjadikan MBDK populer sebagai bagian dari gaya hidup.
Imej yang ditampilkan adalah sehat (susu kemasan dan jus kemasan), gaul dan kekinian (teh, kopi, dan minuman boba), dan enerjik (minuman isotonik dan penambah stamina).
Selain itu, ada salah kaprah di masyarakat bahwa susu dan jus buah termasuk dalam minuman sehat dan bukan MBDK.
Asumsi ini memiliki potensi bahaya laten. Karena anggapan bahwa susu dan jus sehat, orang tua bisa saja memberikan susu dan jus secara berlebihan pada bayi dan balita. Ini dapat berujung pada malnutrisi, stunting, dan obesitas pada anak usia dini.
MBDK dan Efeknya pada Kesehatan
Jika berbicara mengenai gula, sebagian besar masyarakat sudah mengerti dan mampu mengkaitkan konsumsi gula dalam MBDK dengan efeknya pada kerusakan gigi dan penyakit diabetes. Sayangnya, efek dari konsumsi gula berlebih tidak hanya itu.
Pengaruh gula berlebih tidak hanya mengakibatkan diabetes, namun gula juga dapat memicu penyakit jantung, kanker, kerusakan hormon, gangguan perilaku pada anak dan remaja, dan bahkan memicu infertilitas.
Tidak hanya itu, gula juga dikaitkan dengan rusaknya flora normal pada tubuh.
Konsumsi gula diketahui memiliki efek langsung pada kenaikan tekanan darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung.
Selain itu, konsumsi gula memberikan stimulus berlebih pada produksi sejumlah hormon yang mempengaruhi mood.
Efeknya pada anak-anak dan remaja bisa terlihat melalui perubahan perilaku dan kecenderungan sikap agresif.
Pada studi di 26 negara, ditemukan kaitan antara konsumsi gula berlebih dengan kekerasan yang dilakukan remaja.
Pada anak-anak, hal ini akan tampak pada rendahnya konsentrasi dan fokus, hingga ke perilaku hiperaktif.
Pada kalangan perempuan, konsumsi gula berlebih juga dikaitkan dengan tingginya masalah infertilitas.
PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome adalah salah sindrom yang mengakibatkan gangguan pembentukan ovum yang abnormal.
Jumlah penderita POCS ini mencapai 116 juta atau 3.4 persen dari seluruh perempuan di dunia.
Banyak penelitian yang menghubungkan perilaku konsumsi makanan dengan timbulnya penyakit ini.
Diet tinggi gula mengakibatkan kerusakan flora normal dan memicu inflamasi krosis, resistensi insulin, dan peningkatan hormon androgen yang berkaitan dengan PCOS.
Diet rendah gula terbukti menurunkan keluhan dan mempercepat perbaikan kesuburan pada pasien.
Konsumsi gula juga dikaitkan dengan kerusakan flora normal tubuh.
Flora normal yang terdiri dari milyaran bakteri dan beberapa spesies fungi telah diketahui berperan besar dalam pengaturan keseimbangan tubuh.
Konsumsi gula berlebih diketahui mengakibatkan perubahan ekosistem flora normal yang mengakibatkan menurunnya variasi flora normal dan meningkatkan jumlah bakteri penyebab penyakit.
Konsekuensinya adalah kerusakan metabolisme dan timbulnya peradangan kronis di tubuh.
Mengontrol asupan gula tambahan mengakibatkan perubahan positif pada lingkungan flora normal dan memperbaiki kesehatan secara menyeluruh.
Solusi untuk Konsumsi MBDK
Masalah yang ditimbulkan konsumsi gula tambahan melalui minuman berpemanis dalam kemasan merupakan isu global.
Tidak hanya di Indonesia, di berbagai negara lain mulai dari Afrika hingga US, MBDK dianggap sebagai masalah yang mengancam kesehatan masyarakat secara luas.
Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari edukasi, pemberian himbauan, regulasi penjualan dan pemasaran, hingga pembatasan dan pemberian pajak tinggi untuk MBDK.
Di Indonesia, isu ini sudah berhembus dari tahun 2016 hingga sekarang.
Meski belum disahkan, berbagai aksi sudah dilakukan oleh masyarakat untuk memastikan terbitnya peraturan perpajakan yang nantinya akan membuat minuman berpemanis dalam kemasan ini dikenai pajak.
Semakin tinggi gula dalam minuman, pajaknya akan semakin besar.
Dengan demikian, diharapkan produsen akan melakukan perubahan, mulai dari perubahan harga, komposisi, target konsumen, dan pada akhirnya diharapkan menurunkan angka konsumsi MBDK.
Meski demikian, sebelum aturan cukai ini ditetapkan, masyarakat dapat mengambil langkah terlebih dahulu dengan mulai menaruh perhatian terhadap konsumsi MBDK, terutama terhadap anak-anak.
Hal ini dapat dilakukan dengan menaruh perhatian lebih pada label nutrisi pada produk, dan menghindari produk dengan nilai kalori dan gula yang tinggi.
Membaca label nutrisi dan menyadari sepenuhnya konsekuensi dari konsumsi gula berlebih akan mempengaruhi perilaku dalam konsumsi gula.
Konsumsi MBDK dapat dikurangi berlahan-lahan, hingga menjadi 1 kali per minggu, atau bahkan kurang dari itu, ini berlaku tidak hanya untuk MBDK dari pabrik, namun juga untuk minuman berpemanis yang dijual di kaki lima, warung, kafe, dan gerai-gerai makanan.
Mengurangi konsumsi MBDK berarti mengurangi timbulnya resiko penyakit kardiovaskular, pencernaan, gigi mulut, infertilitas, hingga kanker.
Bagi remaja dan anak-anak, mengontrol konsumsi gula juga berperan besar untuk memperbaiki penyerapan nutrisi dan mencegah malnutrisi, stunting, dan obesitas.
Selain mencegah dan membatasi konsumsi MBDK, solusi lain bisa berupa perubahan pola konsumsi minuman.
Mulai dari pengurangan kebiasaan minum manis dan memperbanyak minum air putih, susu tanpa campuran gula, air kelapa, atau teh dan kopi tanpa gula.
Penyajian minuman ini tanpa gula akan memberikan keuntungan untuk kesehatan tanpa mengundang bahaya konsumsi gula berlebih.
Seperti teh dengan kandungan flavonoid-nya yang terbukti bagus untuk menangkal radikal bebas.
Atau kopi dengan kandungan kafein yang jika dikonsumsi secara moderat, dapat meningkatkan konsentrasi dan kewaspadaan, serta menurunkan resiko demensia.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Syiah Kuala (USK) dan Dewan Penasehat Forum Lingkar Pena Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
(Serambinews.com/Firdha Ustin)
| Hipertensi Dulu Penyakit Orang Tua, Kini Darurat pada Anak Muda |
|
|---|
| Uang Tidur di Tanah Otsus: Paradoks Aceh Saat Anggaran Mengendap tapi Sibuk Melobi Dana Tambahan |
|
|---|
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-Ade-Oktiviyari-MS.jpg)