Jurnalisme Warga
Waled Nuruzzahri, Sosok Guru Inspiratif
Saat ini, saya belajar di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie Jaya. Dayah ini di bawah binaan langsung sosok ulama karismatik Aceh, yai
M. SHARFAN bin FAUZI, santri kelas IV Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, asal Meunasah Raya Meurah Dua, melaporkan dari Pidie Jaya
SETIAP manusia dalam menjalani kehidupanya tidak luput dari kata ‘proses’. Proses adalah suatu kegiatan dan perkembangan untuk menghasilkan tujuan yang ingin dicapai. Namun, setiap proses tentu membutuhkan ilmu pengetahuan agar proses yang sedang dijalani dapat berjalan sesuai relnya.
Saat ini, saya belajar di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie Jaya. Dayah ini di bawah binaan langsung sosok ulama karismatik Aceh, yaitu Tgk H Nuruzzahri Yahya atau kerap disapa dengan sebutan ‘Waled Nu’ (Waled di Samalanga).
Di antara keindahan yang unggul di sini, yakni dayahnya mempunyai lahan yang terbentang luas sekitar 5 hektare. Mampu menampung banyak bangunan di dalamnya. Sehingga, bangunan-bangunan tersebut tertata rapi. Disertai pepohonan rindang yang membuat dayah ini asri dan nyaman untuk didiami.
Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III membuka perguruan tinggi berupa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS). Sementara, untuk jenjang aliah, tersedia sekolah menengah kejuruan (SMK). Saat ini, saya duduk di kelas X SMK, tepatnya pada Jurusan Multimedia.
Di dayah ini kami mempelajari suatu pencerahan ilmu agama langsung dari seorang ulama besar sekelas Syaikhuna Waled, dambaan dari semua santri, tak terkecuali saya. Dari bermajelis itulah, kami dapat mendengarkan sumber ilmu yang akurat, langsung dari Waled. Itulah yang kami rasakan.
Dengan semangatnya, Waled saban hari datang ke Meurah Dua untuk mengajari kami. Tanpa rasa lelah dan bosan, disertai suara lantangnya, Waled selalu memberikan nilai-nilai positif dalam mengajar. Itulah yang membuat saya tertarik membagikan reportase ini sebagai pembangkit semangat kepada rekan-rekan santri lain, supaya lebih bersemangat dalam hal beut-seumeubeut.
Di umur yang semakin senja, terkadang membuat langkah terhenti untuk maju. Beda halnya dengan Waled, yang setiap harinya beliau tidak memperhatikan beratnya tantangan fisik dan mental beliau untuk melakukan perjalanan yang jauh. Di saat matahari tegak di pertengahan langit, dengan mobil Alphard-nya Waled tiba di dayah kami. Waled langsung berkeliling, memantau keadaan dayah. Inilah yang patut diteladani oleh tokoh-tokoh pengajar. Selain seorang guru yang memberikan perhatian penuh dalam mentransfer ilmu agama, Waled juga selalu antusias dalam memeriksa keadaan dayahnya, baik dari segi kebersihan, kenyamanan, maupun yang lainnya.
Tak lama kemudian, ketika suara azan zuhur sayup-sayup terdengar melalui pelantang suara masjid, barulah Waled beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat Zuhur berjamaah. Selesai shalat sunah bakdiah, Waled langsung duduk di atas kursi dan meminta kami untuk mengulang pelajaran minggu lalu.
Setelah itu, Waled yang akan langsung membacakannya kepada kami. Saban hari selalu terganti, materi pelajarannya berbeda-beda.
Hari Sabtu, Waled mengajari kami kitab sharaf yang merupakan kitab permulaan di kalangan para santri untuk bisa mempelajari kitab yang berbahasa Arab. Kitab sharaf yang kini sedang kami pelajari adalah kitab Matan Bina wal-Asas. Adapun manfaatnya yang bisa saya simpulkan, yaitu agar kita mengetahui baris awal dan baris tengah dari kalimat-kalimat Arab.
Dalam ilmu sharaf, Waled selalu sempurna menaburkan makna-makna yang dapat langsung memahamkan kami dalam mempelajarinya. Juga, salah satu ciri khas yang terdapat pada Waled adalah sering kali beliau melantunkan syair-syair atau kata-kata mutiara yang kami sering sebut dengan ‘mahfuzat’ agar kami tidak merasa jenuh saat pengajian berlangsung.
Salah satu syair yang berkenaan dengan ilmu sharaf atau nahwu yaitu: Ash sharfu ummul ulum, wan-nahwu abuuha. Fa-man khala minhuma fa’dud minal baqari. (Ilme sharaf tamsel ibu, ilme nahwu tamse bapak, soe yang hanjeut ban dua nyan, jih geupeunan lumoe tuha (Ilmu sharaf bagaikan ibu, ilmu nahwu bagaikan bapak. Siapa saja yang tidak bisa keduanya, maka dia dinamakan lembu tua).
Syair ini bermaksud bahwa siapa saja yang belajar kitab turats (kitab-kitab kuning), tetapi ia tidak menguasai nahwu-sharaf, maka kerjaannya hanya sia-sia belaka.
Sementara pada hari Minggu, selesai shalat Zuhur berjamaah, Waled mengajarkan kami kitab Awamil, yang merupakan kitab dasar dalam kategori ilmu nahwu. Guna atau fungsi kita belajar nahwu ialah agar kita mengetahui baris dari setiap akhir kalimat. Mengaplikasikan kedua ilmu tersebut merupakan landasan utama dalam kami berpacu untuk bisa membaca kitab-kitab kuning.
Esoknya, yakni Senin dan juga hari Kamis, Waled mengajarkan kami ilmu fikih, suatu fan ilmu yang mempelajari tentang tata cara beribadah kepada Allah Swt. Kitab yang kami pelajari yakni Matan Ghayah wa Al Taqrib. Fan ilmu ini meliputi ilmu tata cara mendirikan shalat, berpuasa, mu’amalah, prahara pernikahan, masalah zakat, berhaji, hingga problematika perbudakan (hamba sahaya).
Syaikhuna Waled paham betul dengan ilmu tersebut, sehingga terasa mudah bagi Waled dalam memahamkannya kepada kami.
Pada hari Selasa, inilah di antara pengajian yang paling menyenangkan bagi saya. Kami diajarkan fan tauhid, yaitu suatu fan ilmu yang mempelajari tentang keesaan Allah Swt., berkenaan dengan para rasul, dan lainnya.
Kitab ini merupakan buah tangan dari Asy-Syaikh Ibrahim Al Laqqani dengan nama kitabnya ‘Matan Jauharah’. Lebih berkahnya bagi kami, kitab Matan Jauharah ini telah Waled alih bahasakan ke bahasa Indonesia dalam bentuk nazam juga. Jadi, kami pun bisa langsung belajar dua bahasa sekaligus.
Terkait alasan Waled mengartikan nazam kitab tersebut ke dalam bahasa Indonesia tak lain agar siapa saja dari santri maupun masyarakat yang tidak paham bahasa Arab, maka bisa langsung merujuk ke nazam terjemahannya.
Yang lebih menegangkan itu adalah ketika tiba di sesi mengulang. Ya, setiap hari, sebelum Waled melanjutkan ke pembahasan selanjutnya, Waled meminta kami untuk mengulangi pelajaran minggu lalu.
Terutama di hari Selasa, ini merupakan momen terindah, tetapi mendebarkan, khusus bagi saya. Bagaimana tidak, mencoba mengulang kitab Matan Jauharah di depan Waled merupakan latihan mental yang sesungguhnya. Hal itu dikarenakan, di saat mengulang, kami harus berdiri di samping Waled, serta mengarahkan pandangan ke seluruh santriwan-santriwati serta dewan guru yang juga mengikuti pengajian Waled. Dengan jiwa dan hati gemetar, kami menjelaskan (shurah) kitab tersebut.
Saya paling suka mengulang, terkhusus di hari Selasa, karena bertujuan untuk pengembangan mental saya pribadi. Guru saya, Ustaz M. Aidil Adhaa Lc, selalu berujar, “Dua menit saja kita berdiri di depan khalayak untuk berbicara, itu sangat berharga untuk pengembangan mental kita.” Apalagi yang saya lakukan ini di depan Syaikhuna Waled. Keridaan Waled, merupakan segala-galanya bagi saya sebagai muridnya.
Begitulah aktivitas harian Waled memikirkan kemajuan pendidikan anak didiknya. Waled, selaku mu’allim serta murabbi yang inspiratif. “Khairukum mu’allimun (Sebaik-baik kamu adalah pengajar).” Kalimat itu selalu Waled ucapkan kepada kami sebagai penyemangat untuk menjadi sebaik-baik insan. Semoga.
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
| Lima Tahun UBBG, Kampus Bermutu dan Maju, Refleksi Dies Natalis Ke-5 |
|
|---|
| Layar yang Mengubungkan Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-SHARFAN-bin-FAUZI.jpg)