Breaking News

Opini

Memaknai Ramadhan dengan Amal dan Syukur

Setelah sekian lama berpisah, kini bulan Ramadhan yang dirindukan kehadirannya selama ini telah hadir kembali menghampiri kita. Kedatangannya selalu d

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBI INDONESIA
Dr Tgk Muhammad Yusran Hadi Lc MA, Dosen Fiqh dan Ushul Fiqh pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara 

Dr Tgk Muhammad Yusran Hadi Lc MA, Dosen Fiqh dan Ushul Fiqh pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara

“TAMU” agung yang ditunggu-tunggu kedatangannya selama ini oleh umat Islam seluruh dunia telah datang. “Tamu” agung ini bernama bulan Ramadhan. Allah ta'ala telah mengutusnya kepada umat Islam dengan membawa banyak “hadiah” dari-Nya berupa keberkahan (bonus pahala yang berlipat ganda), rahmat (kasih sayang), itqun minar nar (pembebasan dari api neraka), maghfirah (pengampunan dosa), dan berbagai keutamaan lainnya. Inilah karunia dan rahmat Allah ta'ala kepada kita yang wajib kita syukuri.

Setelah sekian lama berpisah, kini bulan Ramadhan yang dirindukan kehadirannya selama ini telah hadir kembali menghampiri kita. Kedatangannya selalu dinantikan dan dielu-elukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Suasana bersamanya menyenangkan dan membuat jiwa-jiwa orang mukmin tenang dan damai.

Umat Islam seluruh penjuru dunia menyambut kedatangan Ramadhan dengan gembira, antusias dan syukur. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan gembira dan antusias beribadah kepadanya serta syukur.

Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan membawa banyak keutamaan seperti rahmat (kasih sayang), maghfirah (pengampunan dosa), itqu minan nar (pembebasan dari api neraka), keberkahan (dilipatgandakan pahala), sarana menjadi orang taqwa, malam Lailatul Qadar, dan keutamaan lainnya. Ini nikmat dan karunia Allah yang wajib disambut dengan gembira dan disyukuri.

Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya tersebut, maka sangatlah wajar bila bulan Ramadhan dijuluki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebutan sayyid asy-syuhur (penghulu segala bulan). Oleh karena itu, bulan Ramadhan disambut dengan gembira dan antusias oleh umat Islam di seluruh dunia.

Sebaliknya, ada golongan yang merasa susah dan gelisah dengan kedatangan bulan Ramadhan. Mereka tidak bergembira sebagaimana umat Islam lainnya bergembira dalam menyambut kedatangannya. Mereka adalah golongan setan dan para pengikutnya dari kalangan manusia yaitu para pelaku maksiat.

Bagi para setan, kedatangan bulan Ramadhan berarti menggagalkan usaha mereka selama ini dalam menjerumuskan umat Islam ke dalam neraka. Karena, pada bulan Ramadhan Allah ta’ala menyediakan pengampunan bagi orang-orang yang berpuasa, maka para setan tidak senang.

Rasa tidak senang juga dirasakan oleh para pengikut dan murid setan dari kalangan manusia. Mereka itu para pelaku maksiat. Bagi mereka, Ramadhan mengganggu maksiat yang sudah biasa melakukan selama ini. Tidak ada amalan khusus yang disyariatkan dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan, karena tidak ada satu pun dalil yang shahih yang menjelaskannya, kecuali menyambutnya dengan gembira, antusias dan syukur serta menyampaikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya.

Bulan Ramadhan merupakan karunia dan rahmat Allah ta’ala. Oleh karena itu wajib disambut kedatangannya dengan gembira, antusias dan syukur, sebagaimana firman Allah ta’ala, “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58).

Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu amalan yang khusus yang harus dilakukan oleh seorang muslim untuk menyambut bulan Ramadhan kecuali dengan perasaan bahagia, gembira dan senang serta bersyukur kepada Allah. Karena, Allah telah menyampaikannya kepada bulan Ramadhan dan memberikan kepadanya taufiq sehingga Allah menjadikannya termasuk orang-orang yang masih hidup serta berlomba-lomba dalam beramal kebajikan.” (Majmu’ Al-Fatawa: 9/15).

Mensyukuri nikmat

Kita wajib bersyukur kepada Allah ta'ala atas pemberian nikmat-Nya yang besar ini yaitu dipertemukan kita oleh Allah ta'ala dengan bulan Ramadhan tahun ini. Dengan demikian, kita masih diberi kesempatan oleh Allah ta'ala untuk meraih berbagai keutamaan yang disediakan oleh Allah ta'ala pada bulan Ramadhan ini.

Barangkali pada bulan Ramadhan lalu, ibadah kita tidak optimal dan tidak pula berkualitas (yaitu tidak sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Maka, pada bulan Ramadhan kali ini kita diberi kesempatan oleh Allah ta'ala untuk memperbaikinya agar ibadah kita menjadi optimal dan berkualitas.

Bersyukurlah orang-orang yang dipertemukan dengan Ramadhan. Betapa banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapat kesempatan beribadah di bulan Ramadhan kali ini, karena mereka telah dipanggil oleh Allah ta'ala (meninggal dunia) terlebih dahulu sebelum kedatangan bulan Ramadhan. Begitu pula sebahagian saudara kita yang sampai hari ini masih sakit dan dirawat baik di rumah sakit maupun di rumahnya sendiri.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved