Opini
Idul Fitri, Wisuda Universal Pendidikan Ramadhan
Menurut sejarah Islam, Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam, selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 H. Dalam
Melalui silaturrahmi, saling memaafkan, saling berbagi kebahagiaan di hari lebaran, para lulusan universitas Ramadhan meneguhkan komitmen hidup mulia dengan menjauhkan diri dari aneka kemaksiatan dan kemungkaran, karena sudah terlatih bertakwa kepada Allah swt selama Ramadhan.
Jadi, spirit Idul Fitri yang didambakan adalah menjadi hamba yang setia di jalan taqwa dengan tetap merawat dan melestarikan nilai-nilai ibadah Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari secara istiqamah. Setia di jalan takwa pasti dilalui dengan terus meningkatkan kualitas ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah tanpa batas.
Lalu sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), hendaknya Idul Fitri menjadi momen mengingatkan diri untuk melaksanakan tugas sesuai amanah. Fitrahnya ASN adalah sesuai dengan sumpah jabatannya, melaksanakan tugas sesuai amanah, secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Maka momen Idul Fitri seyogianya mengingatkan kembali ketika disumpah jabatan dan melaksanakan itu.
Bahwa dalam hidup ini, tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ada salah, khilaf dan dosa. Pendidikan yang memaafkan selalu mengajak siapa pun ikhtiar memaafkan apa pun dan siapa pun. Pendidikan yang memaafkan, menjadi penting hari ini sebagai proses penting dalam membentuk karakter manusia.
Karakter manusia seperti apa yang semestinya? Tentunya karakter-karakter yang menghadirkan kebaikan hati yang menonjol, lebih peduli orang lain, rendah hati, murah hati, dan ramah. Karakter itulah yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai contoh terbaik pribadi yang berani memaafkan.
Maka momen Idul Fitri menegaskan kian pentingnya pendidikan karakter. Bukan hanya pendidikan yang mencerdaskan intelektual. Tapi pendidikan yang berani meminta maaf dan memberi maaf. Apa pun alasannya dan siapa pun pelakunya.
Pendidikan yang mengajarkan pentingnya memaafkan. Memang benar, sebagian orang merasa sulit untuk meminta maaf dan memberi maaf. Namun atas alasan apa pun, ketika momen Idul fitri, seharusnya meminta maaf atau memberi maaf itu benar-benar direalisasikan.
Ketika Idul Fitri telah berlalu, kegembiraan dan keceriaan pun berlalu, ketika itulah hari kembali sepi. Ini mengajarkan pada kita, sesuka apa pun kita pada suatu peristiwa, cepat atau lambat hal itu akan berlalu. Begitu juga dengan hal-hal yang buruk, cepat atau lambat pasti akan berlalu juga. Yang diperlukan dalam kehidupan hanya sabar menghadapi hal buruk dan syukur dalam menjalani hal baik.
Memaknai Idul Fitri
Ada tiga hal dalam memaknai idul fitri. Pertama, secara lahiriah merayakan kedatangan Idul Fitri dengan shalat.
Hal itu dimaknai untuk mensyiarkan, membesarkan, dan meramaikan agama Islam. Kedua, memperkuat tali silaturahim antar sesama. Ini maknanya lebih dalam dari yang pertama. Relasi sosial terjalin dan menjalin tali solidaritas. Misalnya orang muda mendatangi yang tua, murid mengunjungi gurunya, dan masyarakat mendatangi tokohnya.
Ketiga, makna yang paling tinggi saat Idul Fitri adalah menjadi fitrah. Diri kita menjadi suci kembali. Hal itu dibicarakan memang gampang. Tapi aplikasinya sangat berat. Ketika kondisi itu bisa dicapai dalam Idul Fitri. Itu artinya kita makrifat kepada Allah swt. Insyaallah.
*) Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb dan Ketua IGI Daerah Bireuen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/opini-89j.jpg)