Minggu, 31 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Berlatih Jadi Santri Jurnalis di Baitul Arqam Sibreh

Kelas Jurnalistik merupakan program unggulan madrasah dan sudah banyak pula santri yang tulisannya berhasil

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
HUKMA SHABIYYA, Murid Kelas VIB SDN 1 Pagar Air, Aceh Besar, melaporkan dari Banda Aceh 

Oleh: Hukma Shabiyya, siswi kelas VIII Madrasah Tsanawiah Baitul Arqam melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

SAAT pertama sekali mendaftarkan diri di kelas ekstrakurikuler Jurnalistik Dayah Pesantren Baitul Arqam, saya memikirkan bagaimana cara menulis yang lebih baik sehingga tulisan-tulisan saya dapat dibaca oleh banyak orang.

Itulah alasan pertama saya untuk bergabung menjadi Santri Jurnalis Baitul Arqam. Ini program sekolah yang memang sudah ada sejak pertama sekolah ini berdiri.

Kelas Jurnalistik merupakan program unggulan madrasah dan sudah banyak pula santri yang tulisannya berhasil menembus media arus utama (mainstream) setelah mengikuti program ini.

Kelas dimulai pada minggu kedua semester genap dan dibuka bagi santri yang berminat mengikutinya. Pengumuman mengenai perekrutan itu ditempelkan di sebuah majalah dinding (mading) yang dinamakan Acta Diurna. Mading itu berada tepat di sudut utara lapangan Pesantren Baitul Arqam.

Saya dan beberapa teman berminat mengikuti ekstrakurikuler tersebut. Dari pengunguman yang ada di mading, santri yang berminat harus menulis esai motivasi dan datang ke perpustakaan untuk mendaftarkan diri. Rata-rata yang mengikuti Kelas Jurnalistik itu adalah teman sekelas saya dan kakak kelas X Aliah. Mereka adalah Nasywa, Nailah, Kinan, Riva, Syifa, Kak Vina, Kak Haura, Kak Nabila, Kak Irma, dan Kak Sri Malem.

Terus terang, saya tidak menyangka kelas ini akan terus berlanjut di bulan Ramadhan 1445 Hijriah yang lalu, sebab biasanya kami diberikan libur sebulan penuh di bulan puasa.

Awalnya saya dan teman-teman merasa keberatan karena bulan Ramadhan waktunya beristirahat dan berkumpul dengan keluarga.

Selain itu, sebagai anak muda, kami  ingin juga bersantai sambil menonton, bermain gim atau media sosial selama berpuasa agar proses menanti sirene berbuka tidak terlalu menjemukan.

Kami juga khawatir merasa kelelahan saat belajar di bulan Ramadhan, merasa tidak bersemangat karena tidak ada camilan dan minuman untuk memberi energi saat sedang lelah-lelahnya belajar. Namun, setelah saya dan teman-teman berdiskusi ulang dan memikirkan kembali, kami setuju dengan kelas pelatihan menulis di bulan Ramadhan, dan kami bisa bersama-sama saling menyemangati hingga datang waktu berbuka.

Sebenarnya, di bulan Ramadhan lalu, bukan hanya anak Kelas Jurnalistik yang diharuskan mengikuti pelatihan, melainkan santriwan juga ada yang mengikuti pelatihan imam dan dai untuk Safari Ramadhan di seputaran Aceh. Mereka dilatih oleh Ustaz Naufal Hidayat Lc, ME dan Ustaz Laksamana Muflih Lc, MA. Sedangkan yang kelas jurnalistik didampingi oleh mentor menulis yang biasa kami panggil dengan Bunda Syarifah Aini.

Baca juga: Muhammad Rafi dari Organisasi Santri Isadasa di Aceh Utara Juarai Lomba Baca Kitab Kuning

Selama satu minggu, kami digembleng di Kelas Jurnalistik. Mulai dari bangun sahur, shalat Subuh, dan tilawah pagi. Guru pendamping sudah berada di kelas sesaat setelah kami selesai tilawah Al-Qur’an. Kami hanya sempat mengganti mukena dan bergegas masuk ke dalam kelas.

Hari pertama kami diberikan materi tentang bagaimana menulis naskah berita. Naskah berita ini yang biasanya akan disampaikan oleh penyiar berita. Sebelumnya kami menonton beberapa berita terlebih dahulu. Contoh-contoh berita tentang liputan sekolah yang mengadakan acara bazar dan berbagai perlombaan,

Ada juga liputan tentang Tarawih pertama yang disiarkan di televisi milik pemerintah. Bunda Aini juga memberi tahu bahwa rata-rata pesantren Muhammadiyah secara terjadwal diminta mengirimkan liputan-liputan ke Televisi Muhammadiyah (TVMu), termasuk Pesantren Baitul Arqam.

Kemudian di hari kedua, kelas mulai serius. Kami diajarkan menulis jernih, sebab berbeda dengan aktivitas menulis lainnya, tulisan-tulisan jurnalistik lebih to the point. Di kelas-kelas dulu kami sudah diajarkan mengenai unsur 5W+1H (What, When, Where, Who, Why, dan How). Ada juga konsep piramida terbalik dan latihan dasar untuk menulis rilis acara.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved