Jurnalisme Warga
Berlatih Jadi Santri Jurnalis di Baitul Arqam Sibreh
Kelas Jurnalistik merupakan program unggulan madrasah dan sudah banyak pula santri yang tulisannya berhasil
Dalam pelatihan Ramadhan lalu, kami diajarkan hal-hal yang lebih teknis dan detail. Ada juga materi menulis dengan kalimat efektif, dikenalkan dengan tata bahasa dan tanda baca. Kami juga melakukan latihan yang selalu diberikan setiap materi selesai.
Selain itu, kami diharuskan membaca buku yang bagus-bagus dan mengulasnya. Kami juga latihan cara menulis kalimat inversi yang benar dan yang keliru, juga bagaimana membuat kalimat periodik. Itulah beberapa materi yang sempat saya ingat.
Setelah tugas-tugas selesai kami bisa bersantai sejenak dan beristirahat. Jika masih ada kesulitan dalam memahami tugas, kami masih bisa bertanya dan Bunda Aini akan mengulang penjelasannya. Pelatihan dimulai bakda subuh dan tilawah hingga pukul 09.30 WIB. Santri yang sudah menyelesaikan tugas, bisa pulang ke asrama untuk mandi dan shalat Duha. Laporan aktivitas rutin ini disampaikan lewat grup yang ada di WhatsApp. Laporan selesai, tugas kami selanjutnya membereskan tempat tidur, mandi, dan kegiatan mandiri lainnya.
Saat azan zuhur berkumandang via toa musala, kami sudah harus berada di musala. Setiap menjelang sore, kami juga membantu Ustazah Sinta untuk menyiapkan makanan berbuka puasa dan membereskan rumah kembali.
Selain menulis, kami juga berlatih keterampilan manajemen waktu. Jadi, walau kami diperbolehkan memegang gawai, harus dimanfaatkan untuk belajar.
Di Kelas Jurnalistik kami juga diajari bagaimana cara memakai gawai, ada materi literasi digital. Di dunia digital semua sudah canggih, jadi kami harus mengatur waktu dan manajemen diri yang baik. “Jangan sampai lalai dan dikendalikan oleh gawai,” pesan Bunda Aini.
Memakai gawai tanpa berhenti, bisa merusak otak. Makanya saat malam hari hingga subuh, kami diwajibkan fokus beribadah malam dan istirahat dengan menyimpan ponsel kami kepada pengasuh dan ustaz atau ustazah.
Perjanjian kami dengan ustaz/pengasuh, jika bangun sahur telat atau setelah pukul 05:00 WIB, maka ponselnya akan tetap disimpan sampai besok.
Ironis, tepat setelah kontrak belajar malamnya, paginya para santriwati malah telat bangun sahur. Saat santriwan sudah bersiap-siap pergi ke musala dan menghabiskan satu ceret air teh, para santriwati baru terbangun. Kami memang masih sempat sahur, tetapi celakanya, kami tidak diberikan izin memakai gawai hari itu sebagai konsekuensinya.
Sebelum tidur kami wajib membaca buku minimal satu halaman, sebuah artikel atau esai, cerpen, atau puisi bagus. Materi-materi yang diajarkan juga dibagikan di dalam grup WA, jadi tetap bisa dibaca ulang. Kami memang agak kewalahan dengan materi dan latihan-latihan menulis yang diberikan mentor jurnalistik, tetapi kami bisa merasakan perubahan dalam tulisan-tulisan kami.
Hari terakhir, sebagai penutup, kami berbuka puasa bersama dengan anak yatim di seputaran Gampong Suka Makmur, Sibreh, Aceh Besar, dan juga anak-anak LKSA Muhammadiyah Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Hadir pula kakak-kakak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) di pesantren kami.
Oh ya, ada tamu spesial datang dari Palestina yang bernama Ms Fatma untuk menyampaikan informasi tentang kondisi Palestina saat ini. Beliau hadir ditemani tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh, dr Aslinar SpA, MBiomed. Fatma berbahasa Arab dan Ustaz Naufal menjadi penerjemahnya. Alhamdulillah, kami menjalani awal Ramadhan yang sangat seru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/HUKMA-SHABIYYA-Murid-Kelas-VIB-SDN-1-Pagar-Air-Aceh-Besar-melaporkan-dari-Banda-Aceh.jpg)