Tangis Pilu MS Kehilangan Anak Pertama, Kepala Bayi Putus saat Melahirkan, Ini Kata Pihak RS

Bayi yang dikandung MS posisi kepalanya ada di atas (sungsang). Diketahui sejak usia kehamilannya sudah mencapai tujuh bulan.

Editor: Faisal Zamzami
Shutterstock
Ilustrasi 

Bahkan permintaan perawat itu menurut MS terkesan kasar. Ia dipaksa harus bisa dan harus kuat. 

“Aku pang dijahit juga, sampai area pantat lagi,” kata MS meniru perkataan perawat yang memintanya keluar itu.

Ia bersama suaminya pun terpaksa ke luar dari rumah sakit karena diminta oleh salah perawat di sana. 

Sementara jenazah bayi, kepalanya sudah dijahit ke badannya dan disemayamkan di dekat rumah orangtuanya. 

Selama di rumah, MS merasakan perasaan campur aduk. 

Ia tak rela bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan lahir dalam keadaan tragis dan meninggal dunia. 

Bahkan tanpa penjelasan sama sekali dari pihak rumah sakit

“Sedih, menangis dan terbayang terus. Akhirnya pada Jumat, 19 April, saya dan suami memutuskan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian,” katanya. 

Setelah melapor, ia diminta untuk menjalani visum di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.

Saat divisum, dokter mengatakan kepada MS bahwa jahitan di area kewanitaannya terbuka dan terkesan dijahit sembarangan. 

MS diminta dokter untuk rawat inap di rumah sakit kepolisian itu. 

Beruntungnya, RS Bhayangkara bisa menerima pasien Kartu Indonesia Sehat. 

Jahitan yang terbuka itu pun kembali dijahit ulang oleh tenaga medis di Rumah Sakit Bhayangkara.

Sampai saat ini, pihak rumah sakit sama sekali tidak menghubungi MS, semata-mata sebagai itikad baik untuk menjelaskan kenapa hal itu terjadi pada almarhum bayinya. 

Menurutnya, kepolisian sudah memanggil beberapa pihak di rumah sakit untuk dimintai keterangan. Begitupun ia dan suaminya. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved