Opini
Gentle Parenting dalam Alquran
Namun kemudian orang tua kebingungan, seakan membeku dan akhirnya pengasuhan berjalan seadanya diiringi dengan perasaan kalut dan putus asa.
Hayail Umroh, Dosen Psikologi Keluarga dan Duta Kesehatan Mental Dandiah Aceh
BANYAK orang tua yang masih kebingungan dalam menerapkan pengasuhan terhadap anak-anaknya. Katanya pengasuhan terbaik adalah yang tegas dan keras kepada anak, boleh dipukul atau dihukum agar jera, bahkan tidak jarang berubah menjadi penganiayaan atas nama kasih sayang.Ada juga yang sengaja tidak mau merasa dekat dengan anak-anaknya, menjaga sikap dan jarak karena takut anak bersikap kelewat batas, tidak lagi sopan dan hormat kepada orang tuanya. Namun ada juga, pengasuhan yang tidak membolehkan orang tua untuk berkata ‘jangan’ kepada anak apalagi memarahinya. Lalu bagaimana seharusnya orang tua memberikan pengasuhan kepada anak-anaknya?
Gentle parenting
Saat ini dikenal istilah gentle parenting atau pengasuhan yang penuh dengan kelemahlembutan, empati dan memahami psikologis anak namun tetap memberikan batasan dengan berdialog dan menghargai pendapat anak. Intinya, dalam gentle parenting orang tua memahami sisi anak.
Bagi beberapa orang, gentle parenting dipercayai tidak bisa membentuk anak menjadi tangguh dan pemberani, malah sebaliknya, anak menjadi tidak patuh, malas, manja dan semaunya. Sebab mereka tidak lagi boleh dimarahi dan diomeli, tentu saja ini tidak menjadi pilihan baik, sebab orang tua juga tidak mau diibaratkan sebagai singa yang kehilangan taringnya.
Namun kemudian orang tua kebingungan, seakan membeku dan akhirnya pengasuhan berjalan seadanya diiringi dengan perasaan kalut dan putus asa.
Dalam sebuah penelitian yang berusaha mengungkap hubungan antara anak dan orang tua didapatkan kesimpulan bahwa salah satu kesuksesan anak dalam mengatasi kesulitan hidup yang dialaminya adalah karena pengalaman berkonflik semasa hidupnya bersama orang tua.
Biasanya konflik yang terjadi di antara orang tua-anak adalah konflik yang berasal dari ketidaksepamahaman, ketidaksetujuan, ketidaksepakatan akan sesuatu, bisa jadi maksud dan tujuannya sama namun cara berpikir dan eksekusinya yang berbeda. Sebenarnya ada manfaat dari konflik tersebut, di antaranya adalah anak dan orang tua sama-sama belajar memahami cara pandang masing-masing, ada usaha untuk memahami, menyayangi, menerima pendapat dan menghargai keputusan serta cara yang dimiliki.
Mungkin manfaatnya tidak dirasakan saat itu, namun saat anak beranjak dewasa, di saat kemampuan berpikir dan penerimaannya terhadap pendapat orang lain telah optimal. Selain itu juga ada upaya orang tua untuk mencari penyelesaian konflik dengan berusaha mempelajari cara mengasuh yang lebih baik, dan mahir terhadap kemampuan pemakluman dan penerimaan serta kerja sama.
Terkadang orang tua malas berdebat dengan anaknya, cenderung menghindari konflik dan memilih memberikan apa yang anak mau asal dia diam dan tenang, kepala tidak pusing emosi pun tidak teraduk-aduk. Belum lagi takut akan image orang tua cerewet dan jahat dan menyiksa saat orang lain mendengar anak menangis di dalam rumah.
Pernah suatu kali, ada seorang anak yang menangis sejadi-jadinya, menjerit dan berteriak “tolong” dari dalam rumahnya. Seorang tetangga yang mendengar memanggil polisi, mengira orang tua sedang menyiksanya.
Polisi datang dan mengecek kondisinya, ternyata sang anak tidak sedang disiksa, dia hanya dilarang oleh ibunya dari memakan coklat karena riwayat alerginya. Kondisi seperti ini yang terkadang membuat orang tua menjadi takut untuk bersikap tegas terhadap anaknya demi menghindari image buruk tadi.
Pengasuhan adalah salah satu bentuk dakwah orang tua terhadap anak-anaknya dengan mengenalkan baik dan buruk, pantas dan tidak pantas juga keteladanan sikap, perilaku dan tutur kata yang baik kepada anak-anaknya. Dalam Surah An-Nisa:9, Allah mengawali pesannya kepada orang tua untuk berjuang sungguh-sungguh dalam mengasuh anak-anaknya agar menjadi sosok penerus agama yang tangguh, tidak lemah iman dan lain sebagainya.
Dan di ayat berikutnya Allah berpesan agar orang tua berkata yang benar, santun dan lemah lembut kepada anak-anaknya dalam pengasuhan. Hal ini sejalan dengan konsep gentle parenting yang berusaha berlaku tegas terhadap anak namun tetap menghormati dan memahami kondisi serta psikologisnya.
Dalam Alquran banyak sekali ayat yang mengajarkan bagaimana orang tua seharusnya berkomunikasi terhadap anak. Seperti berkata tegas, jujur, apa adanya tanpa ditambah-tambahi, jelas, lembut dan bernada menyenangkan. Tidak ada pesan untuk memberikan kata-kata negatif, memojokkan bahkan menghina anak. Sebuah hadits menyatakan bahwa diam lebih baik daripada berkata negatif.
Diam berarti memikirkan apa yang hendak diucapkan, dan ini adalah ciri orang beriman, mereka cenderung berhati-hati agar tidak membuat kerusakan pada seseorang terlebih pada anak. Orang yang beriman kata-katanya terpilih, bijak, rapi, menenangkan, teduh dan nyaman di telinga dan hati, kata-katanya pun menggambarkan keteladanan, demikian yang tersurat dalam As-Shafat ayat 1 dan 2.
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
| Nasib Aceh jika Kepala Daerah Dipilih DPRD |
|
|---|
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
| Bencana yang tak Datang “Tiba-Tiba”, Cermin Gagalnya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Pemerintah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hayail-Umroh-PENULIS-OPINI.jpg)