Opini

Rafah dalam Pusaran Perang Gaza-Israel

Rafah merupakan satu-satunya tempat di Gaza yang belum dihancurkan oleh pasukan Israel. Meski menampung sekitar 1,4 juta penduduk, UNICEF menjuluki Ra

Editor: mufti
IST
Rizqan Kamil, Peneliti di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) 

Rizqan Kamil, Peneliti di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)

PADA 6 Mei 2024, Israel melancarkan serangan militer baik di dalam maupun sekitar kota Rafah sebagai bagian dari invasi ke Jalur Gaza. Menilik lini masa, serangan awal terhadap wilayah Rafah dimulai sejak 8 Oktober 2023, dan skalanya berlanjut sepanjang perang.Namun agenda resmi Israel menyerang Rafah dilancarkan pada 9 Februari 2024, Ketika Netanyahu melemparkan proposal kepada Kabinet Israel untuk operasi militer di kota Rafah.
Pada tanggal 12 Februari 2024, Operation Golden Hand yang dilancarkan pukul 01.49 dini hari di Rafah menyebabkan 94 warga Palestina meninggal. Bergeser ke tanggal 8 April, Netanyahu kembali mengumumkan operasi militer Israel di Rafah, namun ia tidak menyebutkan secara spesifik kapan tanggal operasi dimulai.

Pada tanggal 13 April, Iran menyerang Israel dengan melepas sekitar 300 drone dan beberapa rudal balistik sebagai balasan atas serangan Israel yang menyerang konsulat Iran di Damaskus. Akibat serangan ini Israel kemudian menunda operasi besarnya ke Rafah.

Pada tanggal 5 Mei Israel menolak gencatan senjata dengan Hamas, dan sehari kemudian Israel secara resmi melakukan operasi militer di Rafah. Operasi ini mendapat reaksi keras dari dunia internasional, termasuk Amerika Serikat yang secara kebetulan juga menentang serangan tersebut.

Rafah merupakan satu-satunya tempat di Gaza yang belum dihancurkan oleh pasukan Israel. Meski menampung sekitar 1,4 juta penduduk, UNICEF menjuluki Rafah sebagai "kota anak-anak" dikarenakan banyaknya populasi anak-anak yang tersebar di wilayah tersebut.

Alasan penyerangan

Israel sejauh ini beroperasi di Gaza utara dan Kota Gaza, di beberapa bagian Gaza tengah, dan Khan Younis di Gaza selatan, dengan mengklaim pihaknya telah berhasil menghancurkan 18 Batalyon Hamas.

Sementara klaim lainnya, Israel mengatakan bahwa Hamas memiliki enam batalyon yang tersisa di Jalur Gaza, termasuk empat di antaranya berada di kota selatan Rafah: Yabna (Selatan), Shaboura (Utara), Tel Sultan (Barat), dan Rafah Timur. Batalyon yang tersisa ini menjadi tujuan dan target utama operasi Israel ke Rafah.

Adapun alasan yang lebih luas adalah upaya Israel untuk mengontrol perbatasan yang memungkinkan Israel mengontrol titik masuk maupun titik keluar utama dengan Mesir. Sering disebut sebagai jalur penyelamat bagi masyarakat di Gaza, perbatasan Rafah menjadi modal bagi warga Palestina yang tinggal di daerah perang untuk memiliki koneksi penting dengan dunia luar.

Perlintasan perbatasan Rafah merupakan salah satu dari dua pintu masuk utama bagi warga Gaza. Berbeda dengan penyeberangan Erez yang dikuasai Israel, Rafah terletak di selatan Gaza dan tidak dikuasai langsung oleh Israel.

Hingga saat ini Israel belum menentukan batas waktu operasi mereka di Rafah, yang mengindikasikan adanya niat untuk memperlambat serangan guna mempertahankan kendali atas konvoi bantuan dan lalu lintas lainnya menuju warga Palestina di Gaza. Ditambah, Israel menyadari bahwa perang kali ini sebagai perang multitahun sehingga mereka mencoba memanfaatkan serangan Rafah sebagai taktik tekanan. Sebuah operasi bertahap untuk menekan Hamas agar menerima tuntutan gencatan senjata.

Alternatif dari Mesir

Mesir telah berperan sebagai mediator antara Hamas dengan Israel, dan baru-baru ini menjadi tuan rumah perundingan gencatan senjata lebih lanjut di Kairo. Para analis berpendapat bahwa dengan mendorong warga Palestina ke selatan, Israel lambat laun akan memaksa mereka meninggalkan Gaza dan memasuki Semenanjung Sinai di Mesir.

Sebuah konsep Israel yang dirilis pada 8 Oktober 2023 juga menyatakan hal yang sama, merinci rencana untuk memindahkan penduduk Jalur Gaza ke Mesir. Para pejabat Mesir menentang gagasan mengizinkan warga Palestina memasuki gurun Sinai karena lanskap tanah yang gersang. Skenario terburuk lainnya adalah jika warga Palestina dipindahkan ke wilayah Sinai Mesir, Israel kemungkinan tidak akan pernah mengizinkan rakyat Palestina kembali ke tanah air mereka.

Meski demikian, Mesir dilaporkan sedang membangun kamp berdinding di Semenanjung Sinai untuk menerima pengungsi Palestina jika terjadi eksodus massal. Bagi Mesir serangan yang lebih masif ke Rafah menimbulkan beberapa risiko. Pertama, menyebabkan lebih banyak meninggal warga sipil yang kini mencapai lebih 35.000 orang. Kedua, risiko politik yang membawa potensi bagi Mesir untuk membatalkan perjanjian perdamaian yang telah berlangsung sejak 1979 dengan Israel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved