Senin, 4 Mei 2026

Bireuen

Sepi Pesanan, Banyak Pengrajin Atap Rumbia di Gandapura Bireuen Menganggur

Hal itu diakui pengrajin atap rumbia di Desa Cot Tufah, Gandapura, Bireuen, yang menyebut pesanan atap rumbia makin berkurang...

Tayang:
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
Seorang ibu sedang menganyam atap rumbia. Pesanan semakin berkurang, sejumlah kaum ibu di Desa Cot Tufah Gandapura Bireuen kehilangan pekerjaan. 

Laporan Yusmandin Idris I Bireuen

SERAMBINEWS, BIREUEN – Permintaan terhadap atap rumbia semakin berkurang seiring munculnya produk seng
berbagai jenis.

Hal itu diakui pengrajin atap rumbia di Desa Cot Tufah, Gandapura, Bireuen, yang menyebut pesanan atap rumbia makin berkurang.

Dampaknya, kaum ibu desa setempat yang merupakan pengrajin atap rumbia kini kehilangan pekerjaan.

Asnawi Nurdin, salah seorang pengumpul dan juga pedagang atap rumbia di Desa Cot Tufah, Senin (27/5/2024) mengatakan,  usaha anyaman atap rumbia sudah puluhan tahun ditekuninya pernah melibatkan puluhan para
ibu untuk ikut menganyam.

Kerajinan atap rumbia juga pernah melibatkan dan menampung tenaga kerja lokal umumnya kaum ibu, baik janda maupun keluarga miskin membantu menganyam  atap rumbia.

Dalam dua tahun terakhir, katanya, permintaan atap rumbia untuk kebutuhan warga  semakin berkurang, sekarang rata-rata sudah memakai seng untuk rumah.

Permintaan sekarang untuk dapur batu merah, dapur arang, kandang ternak atau kafe tertentu.

Sedangkan beberapa tahun lalu lumayan banyak permintaan sampai dikirim ke kabupaten lain dengan harga berkisar antara Rp 4.000-5.000/lembar.

“Kalau sekarang untuk biaya perbaikan gudang saja yang sudah rusak tidak cukup lagi," kata Asnawi. 

Dampaknya, banyak ibu di desa tersebut kehilangan pekerjaan, pengrajin atap rumbia juga semakin berkurang. 

Erlialaili (50), salah seorang pekerja di usaha pengrajin atap rumbia di desa setempat, mengatakan, ia sudah
menekuni anyaman daun rumbia untuk membantu kebutuhan keluarga saat kosong atau tidak turun ke sawah.

“Usai ke sawah atau usai panen, saya bekerja menganyam atap rumbia sebagai kerjaan tambahan walau hanya
dengan upah Rp 800/lembar, setiap hari 60 lembar bisa dikerjakan,” sebut Erlia.

Namun saat ini karena permintaan kurang, banyak ibu lainnya yang sebelumnya menganyam atap rumbia sekarang menganggur. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved