Breaking News

Berita Pidie

Hari Jadi Pidie Disepakati Berawal dari Era Islam, Hasil FGD

Menurut juru bicara perumus hari jadi Pidie, Junaidi Ahmad, menyebut FGD yang telah berlangsung merupakan langkah awal yang sudah ada titik temu

|
Penulis: Nur Nihayati | Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
BERI SAMBUTAN: Plh Bupati Pidie, Drs Samsul Azhar memberikan sambutan pada FGD melihat jejak sejarah lahir Kabupaten Pidie, Senin (10/6/2024) di Oproom Setdakab setempat. 

Menurut juru bicara perumus hari jadi Pidie, Junaidi Ahmad, menyebut FGD yang telah berlangsung merupakan langkah awal yang sudah ada titik temu

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Kabupaten Pidie belum pernah memproklamirkan hari jadinya. Kapan Pidie ini lahir? Tidak ada data pasti menetapkan hari lahirnya Pidie ini.

Akhirnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pidie menggelar Focus Group Discussion (FGD).

Kajian tentang hari jadi Kabupaten Pidie dipimpin Plh Bupati Pidie Drs Samsul Azhar dan diikuti tokoh adat, sejarahwan dan elemen masyarakat, Senin (10/6/2024), menyepakati hari jadi Kabupaten Pidie dimulai dari era Islam Kerajaan Pedir.

"Kita simpulkan sementara dari hasil Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Oproom Kantor Bupati Pidie, penyelerasan penetapan hari jadi Pidie itu dimulai pada era Islam” kata Junaidi Ahmad, juru bicara perumus hari jadi Pidie, Rabu (12/6/2024).

Hal ini artinya, sejak satu dasawarsa (2014-2024), kini baru ditemukan kesepakan hari jadi Kabupaten Pidie, yaitu dimulai pada ere keislaman kerajaan Pedir.

Menurut juru bicara perumus hari jadi Pidie, Junaidi Ahmad, menyebut FGD yang telah berlangsung merupakan langkah awal yang sudah ada titik temu, bahwa Pidie itu dilihat dari sejarah yang sangat panjang mulai dari kerjaan Poli, Sama Indra, dan Sanghela.

Dari hasil kesepakatan pada FGD ke I, kajian hari jadi Pidie dimulai pada era keislaman di kerjaan Pedir.

Disebutkan, hasil FGD ke I ini akan dibuat satu makalah baru yang nantinya akan disampaikan pada FGD yang ke II yang akan melibatkan sejarawan, ahli pembaca literatur atau naskah sejarah, apakah makalah yang disampaikan layak menjadi sebuah sejarah.

Junaidi, yang didampingi tim perumus kajian hari jadi Pidie yakni Umar Mahdi, Nadar Putra, dan Alhadi, perlu pendapat filolog soal penetapan hari jadi Pidie.

Menurutnya, untuk mengungkapkan kebenaran dalam teks sejarah, juga membuka fakta dari ilmu-ilmu di masa lalu yang dapat dimanfaatkan ilmunya di masa kini.

Sementara, Pelaksana harian (Plh) Bupati Pidie, Samsul Azhar, memberi apresiasi kepada tim perumus yang telah berdedikasi penuh dalam merumuskan hari jadi Pidie dengan satu poin awal dimulai dari era awal keislaman kerajaan Pedir.

Dia menegaskan bahwa kesepakatan ini belum final, namun pihaknya telah menemukan titik poin. Hasil FGD pertama tersebut, kata dia, akan dibuat satu makalah baru oleh tim perumus atau tim kajian untuk dibahas pada FGD kedua.

Pada FGD kedua nanti, direncanakan akan mengundang para sejarahwan masyarakat Aceh, juga mengundang ahli pembaca naskah.
“Karena ini FGD pertama kita sudah diskusi panjang sebenarnya dengan tim perumus ini, dan setelah mendapat titik poinnya baru kita sampaikan kepada sejarahwan Indonesia perwakilan Aceh, kemudian yang kedua nanti pada ahli filologi,” katanya.

Sejak awal telah melibatkan ahli arkeologi, seperti Dr Husaini, dan makalah yang ditulis oleh Dr Husaini itu juga menjadi kajian oleh tim dalam FGD pertama.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved